DIK-Referensi 03c

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading
Nama Kursus : Dasar-Dasar Iman Kristen
Nama Pelajaran : Manusia Kedua Dari Tuhan
Kode Pelajaran : DIK-R03c

Referensi DIK-R03c diambil dari:

Judul Buku : Menaklukkan Segala Pikiran kepada Kristus
Judul artikel : Karakter Manusia Setelah Ditebus oleh Kristus
Penulis : Richard L. Pratt Jr.
Penerbit : SAAT: Malang, 1995
Halaman : 53 - 55

REFERENSI PELAJARAN 03c - MANUSIA KEDUA DARI TUHAN

  1. Karakter Manusia Setelah Ditebus oleh Kristus
  2. Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2 Kor. 5:17).

    Kalau bukan karena anugerah Allah, setiap orang akan terhilang dalam dosa dan berada di bawah penghakiman Allah. Namun Allah dengan kemurahan-Nya yang besar telah mengutus anak-Nya yang Ilahi, Yesus Kristus, untuk membayar hutang dosa dengan mati di atas kayu salib dan untuk memulai suatu periode yang baru dalam kehidupan dengan kebangkitan-Nya. Semua orang yang percaya kepada-Nya dilepaskan dari kutuk murka Allah dan masuk ke dalam berkat Allah. Pengamatan kita akan manusia tidaklah lengkap apabila kita belum mempertimbangkan karakter manusia yang telah ditebus oleh Allah dalam Kristus.

  3. Kebalikan dari Kejatuhan
  4. Kita dapat melihat bahwa aplikasi dari keselamatan dalam kehidupan seseorang merupakan kebalikan dari apa yang terjadi sebagai akibat dari kejatuhan. Inti dari kejatuhan Hawa adalah kehendak untuk mandiri dan terlepas daripada Allah dengan cara menolak secara sukarela untuk menundukkan diri kepada Firman Tuhan. Hawa menolak fakta perbedaan antara Pencipta dengan ciptaan dengan berpikir bahwa ia dapat mengetahui kebenaran melalui pemikiran barunya sendiri terpisah dari Allah. Hal sebaliknya terjadi pada kehidupan dari seseorang yang percaya kepada Kristus. Dengan jelas Paulus menyatakannya sebagai berikut:

    Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil. (1 Kor. 1:21)

    Penggunaan akan hikmat manusia sebagai standar dari kebenaran, seperti apa yang dilakukan oleh Hawa, hanya akan membawa kita jauh dari Allah dan membawa kita kepada ketidakbenaran. Sebaliknya salib sebagai jalan keselamatan yang mengakibatkan kita berpaling dari kemandirian dan pikiran berdosa supaya kita mendapatkan pengetahuan yang benar mengenai Allah. Hawa berpikir bahwa dirinya sebagai manusia yang dapat berdiri sendiri dan melihat dirinya sebagai hakim yang tertinggi. Namun pada saat kita percaya dengan kesungguhan kepada Kristus, kita menyadari ketergantungan kita kepada Firman Tuhan sebagai hikmat yang tidak ada bandingnya dan sebagai kebenaran. Penerimaan Firman Tuhan ini merupakan permulaan dari penebusan dalam Kristus.

    Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Roma 10:17).

    Kebalikan dari kejatuhan tidak berhenti pada tanda pertobatan, melainkan meliputi keseluruhan dari proses penebusan. Seseorang yang percaya akan berita dari Injil bersama dengan Paulus meyakini bahwa:

    Sebaliknya: Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong (Roma 3:4).

    Berbeda dengan manusia berdosa yang cenderung untuk meninggalkan pengetahuan yang benar dan menyatakan hal yang salah (sebagai akibat dari kemandirian yang terlepas daripada Allah), maka orang-orang percaya memegang kepercayaan bahwa Firman Allah selalu dapat dipercaya oleh karena Allah selalu benar: Sebagaimana yang dikatakan oleh Yesaya:

    Aku Tuhan, selalu berkata benar, selalu memberitakan apa yang lurus (Yes. 45:19).

    Firman Allah dapat dipercaya dan orang yang percaya kepada Kristus mengakui kepercayaannya secara total kepada Firman Tuhan. Lepas daripada apa yang terlihat, lepas daripada nasihat-nasihat orang lain, dan lepas daripada pencobaan dari Iblis, orang percaya menegaskan bahwa:

    Tidak ada yang kudus seperti Tuhan, sebab tidak ada yang lain kecuali Engkau dan tidak ada gunung batu seperti Allah kita (1 Sam. 2:2).

    Sikap terhadap Firman Tuhan yang merupakan kebalikan dari apa yang terjadi pada waktu kejatuhan dibuat lebih jelas dengan perkataan Paulus kepada orang-orang Korintus:

    Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu Ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus. Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kami disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya (2 Kor, 11:2-3).

    Pada ayat-ayat ini Paulus memperingatkan orang-orang di Korintus untuk tidak berpaling dari khotbahnya mengenai Firman Tuhan, mereka harus setia hanya kepada Kristus semata-mata. Paulus memperingatkan mereka dengan cara ini oleh karena ia takut atau kuatir mereka akan jatuh pada tipu-muslihat yang sama yang telah digunakan oleh si ular pada waktu mencobai Hawa. Paulus takut mereka akan berpaling dari "kesederhanaan dan ketulusan penyembahan kepada Kristus" (2 Kor. 11:3).

    Sebelum jatuh dalam dosa, Hawa hanya mendengarkan kepada Firman Allah dengan penyembahan yang hanya tertuju pada Allah. Pada waktu kejatuhan dia telah berpaling dari Firman Allah. Sebagai orang Kristen, kita secara terus menerus menerima Firman Kristus dengan penyembahan yang tanpa berprasangka. Kita harus melakukan kebalikan dari apa yang Hawa lakukan pada waktu ia berdosa. Ditebus oleh Kristus berarti mengalami kebalikan dari apa yang telah terjadi pada waktu kejatuhan.