DAS Referensi 05c

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Nama Kursus : Doktrin Allah Sejati
Nama Pelajaran : Ketetapan Allah dan Predestinasi (Doktrin Pilihan)
Kode Referensi : DAS-R05c


Referensi DAS-R05c diambil dari:

Judul Buku : Teologi Sistematika (Doktrin Allah)
Penulis : Louis Berkhof
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 1993
Halaman : 207 - 215

REFERENSI PELAJARAN 05c - BAGIAN-BAGIAN DARI PREDESTINASI

Predestinasi mencakup dua bagian, yaitu pemilihan dan penolakan, penentuan sebelumnya bagi yang baik dan yang jahat untuk tujuan akhir mereka, dan untuk masa akhir yang tertentu yang menjadi alat dalam pelaksanaan tujuan final mereka.

  1. Pemilihan.

    1. Pengertian Alkitab tentang Pemilihan.

    2. Alkitab membicarakan tentang pemilihan dalam beberapa arti, yaitu: (1) pemilihan atas bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah yang mendapat tugas khusus, Ul 4:7; 7:6-8; 10:15; Hos 13:5. (2) Pemilihan atas orang-orang secara pribadi untuk tugas atau jabatan tertentu atau untuk melakukan pelayanan tertentu, seperti Musa, Kel 3; para imam, Ul 18:5; para raja, 1 Sam 10:24; Mzm 78:70, para nabi, Yer 1:5; dan para rasul, Yoh 6:70; Kis 9:15; (3) Pemilihan atas orang-orang secara pribadi untuk menjadi anak-anak Allah dan pewaris dari kemuliaan kekal, Mat 22:14; Rom 11:5; 1 Kor 1:27,28; Ef 1:4; 1 Tes 1:4; 1 Pet 1:2; 2 Pet 1:10. Pemilihan yang dibicarakan dalam butir (3) inilah yang kita bicarakan di sini sebagai bagian dari predestinasi. Pemilihan dapat didefinisikan sebagai tindakan kekal Allah di mana Ia dalam kesukaan kedaulatan-Nya dan tanpa memperhitungkan jasa atau kebaikan manusia memilih sejumlah orang untuk menjadi penerima dari anugerah khusus dan keselamatan kekal. Untuk singkatnya dapat dikatakan bahwa pemilihan adalah tujuan kekal Allah untuk menyelamatkan sebagian umat manusia dalam dan melalui Yesus Kristus.

    3. Ciri-Ciri Khas dari Pemilihan.

    4. Ciri-ciri khas dari pemilihan identik dengan ciri-ciri khas dari ketetapan Allah secara umum. Ketetapan untuk pemilihan bersifat :

      1. Merupakan pernyataan dari kehendak Allah yang berdaulat, kesukaan kebaikan-Nya. Hal ini berarti bahwa di antara hal-hal yang lain Kristus sebagai Pengantara bukanlah merupakan penyebab yang bergerak atau membutuhkan jasa untuk melakukan pemilihan, sebagaimana dikemukakan sebagian orang. Kristus dapat disebut sebagai penyebab pengantara dari pelaksanaan pemilihan, dan penyebab yang berjasa bagi keselamatan orang percaya, tetapi Kristus bukanlah penyebab yang bergerak atau berjasa untuk pemilihan itu sendiri. Hal ini tidak mungkin, sebab Ia sendiri adalah obyek dari predestinasi dan pemilihan, dan oleh karena ketika Ia melaksanakan karya Pengantaraan-Nya dalam peristiwa Penebusan, sudah ada jumlah yang tetap yang diberikan kepada-Nya. Secara logis pemilihan mendahului upacara pendamaian. Kasih Allah yang memilih telah mendahului pengiriman Sang Putra, Yoh 3:16; Rom 5:8; 2 Tim 1:9; 1 Yoh 4:9. Dengan cara mengatakan bahwa ketetapan atas pemilihan dimulai dari kesukaan kedaulatan Allah maka kita tak mungkin berpikir bahwa pemilihan itu ditentukan oleh apapun dari pihak manusia, seperti iman yang diramalkan atau perbuatan baik, Rom 9:11; 2 Tim 1:9.

      2. Pemilihan ini tidak dapat berubah dan dengan demikian menyatakan bahwa keselamatan dari orang pilihan adalah pasti. Allah melaksanakan ketetapan pemilihan dengan berasal dari diri-Nya sendiri, melalui karya penyelamatan yang dilaksanakan-Nya dalam diri Yesus Kristus. Allah bertujuan bahwa orang-orang tertentu harus percaya dan terus bertahan sampai mati, dan Ia memastikan hasil ini melalui karya obyektif Kristus dan tindakan subyektif Roh Kudus, Rom 8:29,30; 11:29; 2 Tim 2:19. Inilah dasar yang kokoh yang berasal dari
        Allah, "setelah mereka memiliki meterai ini, Tuhan tahu bahwa mereka adalah milik-Nya". Dan pernyataan ini adalah penghiburan yang sesungguhnya bagi setiap orang percaya. Keselamatan akhir mereka tidak tergantung pada ketaatan mereka yang sering tidak pasti, tetapi dijamin dalam tujuan Allah yang tak pernah berubah.

      3. Pemilihan ini bersifat kekal yang berarti sudah ada sejak kekekalan. Pemilihan ini tidak boleh dianggap sama dengan pilihan temporal macam apapun, apakah pilihan temporal itu untuk kesukaan atas anugerah khusus dalam hidup sekarang, untuk hak-hak atau pelayanan khusus, atau untuk mewarisi kemuliaan sekarang, akan tetapi pemilihan ini harus dilihat sebagai suatu kekekalan, Rom 8:29,30; Ef 1:4,5.

      4. Pemilihan ini tanpa syarat. Pemilihan sama sekali tidak tergantung pada kepercayaan atau perbuatan baik manusia seperti yang diajarkan oleh golongan Arminian, tetapi secara nyata merupakan kesukaan dari kedaulatan Allah yang juga merupakan pemula dari iman dan perbuatan baik, Rom 9:11; Kis 13:48; 2 Tim 1:9; 1 Pet 1:2. Karena semua manusia berdosa dan telah menyia-nyiakan berkat Tuhan, sama sekali tidak ada dasar bagi kebaikan dalam diri manusia dan bahkan iman dan perbuatan baik dari orang percaya adalah juga buah dari anugerah Allah, Ef 2:8,10; 2 Tim 2:21, dan semuanya ini telah dilihat sebelumnya oleh Allah, dan tidak dapat menjadi dasar.

      5. Pemilihan ini tak dapat ditolak. Hal ini bukanlah berarti bahwa untuk satu derajat tertentu manusia tidak dapat melawan anugerah ini, akan tetapi sesungguhnya berarti bahwa penolakan manusia itu tidak akan berlaku selamanya. Juga hal ini tidak berarti bahwa Allah dalam pelaksanaan ketetapan-Nya melimpahi kehendak manusia dalam satu cara yang tidak konsisten dengan keadaan manusia sebagai pelaku bebas. Akan tetapi hal ini juga berarti Allah dapat dan sungguh-sungguh melaksanakan pengaruh sedemikian pada jiwa manusia, sehingga akhirnya mereka menghendakinya. Mzm 110:3; Fil 2:13;

      6. Pemilihan ini tidak boleh dituduh sebagai ketidakadilan. Kenyataan bahwa Allah memilih sebagian orang dan menolak yang lain tidak boleh dituduh sebagai ketidakadilan. Kita hanya dapat mengatakan suatu ketidakadilan apabila satu kelompok yang merasa diperlakukan tidak adil mengajukan tuntutan atas kelompok atau pihak yang dituduh merugikan. Jika Allah mempunyai pengampunan atas dosa dan memberikan hidup yang kekal kepada manusia, tidak adil Jika Ia hanya menyelamatkan satu jumlah terbatas dari manusia itu. Akan tetapi orang berdosa sama sekali tidak mempunyai hak untuk menuntut berkat yang mengalir dari pemilihan ilahi. Kenyataannya manusia telah kehilangan berkat ini. Bukan saja kita tidak punya hak untuk memanggil Allah untuk bertanggung jawab dalam memilih sebagian dan menolak yang lain, akan tetapi kita harus mengakui bahwa Ia benar-benar adil, jika Ia tidak menyelamatkan siapapun juga, Mat 20:14,15; Rom 9:14,15.

    5. Tujuan Pemilihan.

    6. Tujuan dari pemilihan kekal ini ada dua yaitu:

      1. Rencana yang tepat adalah untuk keselamatan bagi orang pilihan. Manusia dipilih untuk memperoleh keselamatan jelas sekali diajarkan dalam Firman Tuhan, Rom 11:7-11; 2 Tes 2:13.

      2. Sasaran akhirnya adalah untuk kemuliaan Allah. Bahkan juga kedudukan keselamatan manusia ada di bawah kemuliaan Allah. Bahwa kemuliaan Allah adalah tujuan tertinggi dari anugerah pemilihan sangat ditekankan dalam Ef 1:6,12,14. Social gospel pada jaman sekarang suka menekankan kenyataan bahwa manusia dipilih untuk melayani. Sebenarnya pendapat itu merupakan suatu penyangkalan terhadap pemilihan atas manusia agar ia diselamatkan dan memuliakan Allah. Pendapat dari social gospel itu tentu saja bertentangan dengan Alkitab. Akan tetapi, bila dilihat secara terpisah, pendapat bahwa orang pilihan dipredestinasikan untuk melayani atau untuk melakukan perbuatan baik sesungguhnya juga sesuai dengan Alkitab, Ef 2:10; 2 Tim 2:21; tetapi akhir ini hanyalah merupakan bagian kecil dari tujuan akhir utama seperti telah dikemukakan sebelumnya.

  2. Penolakan.

  3. Patokan pengakuan iman kita bukan saja berbicara soal pemilihan, tetapi juga membicarakan penolakan. Agustinus mengajarkan baik doktrin penolakan dan juga doktrin tentang pemilihan, tetapi "doktrin keras" Agustinus ini sangat ditentang banyak orang. Roma Katolik, sebagian besar teolog Lutheran, Arminian, dan Methodis pada umumnya menolak doktrin ini dalam bentuknya yang paling mutlak. Jika sekiranya mereka masih berbicara soal penolakan, maka yang dibicarakan adalah penolakan yang didasarkan atas pengetahuan sebelumnya. Bahwa Calvin sangat sadar akan seriusnya doktrin ini jelas terbukti dari kenyataan bahwa Calvin menyebutnya sebagai "decretum horibile"(Ketetapan yang menakutkan). Bagaimanapun juga Calvin tidak merasa bebas untuk menyangkal apa yang ia anggap sebagai suatu kebenaran penting dari Alkitab. Pada jaman sekarang sebagian tokoh teologi yang menyebut dirinya golongan Reformed merasa ragu-ragu terhadap doktrin ini. Barth mengajarkan satu penolakan yang bergantung pada penolakan manusia atas wahyu Allah dalam Kristus. Brunner tampaknya mempunyai suatu konsep yang lebih Alkitabiah tentang pemilihan jika dibandingkan dengan Barth, tetapi ia pun menolak doktrin penolakan sepenuhnya. Brunner mengatakan bahwa doktrin ini sebenarnya berasal dari doktrin pemilihan, tetapi merupakan peringatan agar berhati-hati terhadap logika manusia dalam hal ini, sebab doktrin ini tidak diajarkan dalam Alkitab.

    1. Pernyataan Doktrin Ini.

    2. Penolakan dapat didefinisikan sebagai ketetapan kekal Allah di mana Ia telah menentukan sebagian orang untuk terhilang berdasarkan tindakan dari anugerah khusus-Nya, dan menghukum mereka karena dosa-dosa mereka untuk menyatakan keadilan-Nya. Beberapa hal dibawah ini menuntut tekanan khusus:

      1. Doktrin ini berisi dua elemen. Sesuai dengan pernyataan yang paling umum dalam teologi Reformed ketetapan dari penolakan terdiri dari dua elemen, yaitu penentuan atau penetapan untuk lewat bagi sebagian orang, dan hukuman (kadang-kadang disebut sebagai hukuman yang telah ditentukan sebelumnya) atau penentuan untuk menghukum mereka yang terlewatkan oleh sebab dosa-dosa mereka. Dengan demikian doktrin ini mencakup dua tujuan:

        1. dilewatkan oleh sebagian orang dalam pencurahan anugerah kelahiran baru dan keselamatan;

        2. menaruh mereka dalam keadaan yang tidak dimuliakan dan masuk dalam murka Allah oleh karena dosa-dosa mereka. Pengakuan Iman Belgia hanya menyebutkan bagian pertama saja dari pernyataan ini, akan tetapi Kanon Dort menyebutkan pernyataan yang kedua juga. Beberapa teolog Reformed akan menyingkirkan elemen kedua dari ketetapan terhadap penolakan. Dabney lebih suka menganggap hukuman terhadap orang fasik sebagai hukuman yang telah dilihat oleh Allah terlebih dahulu dan merupakan hasil atau akibat penetapan mereka, sehingga pernyataan itu menghancurkan makna penolakan dalam sifat positifnya; dan Dick berpendapat bahwa ketetapan untuk penghukuman seharusnya dianggap sebagai sebuah ketetapan yang terpisah, dan bukan merupakan bagian dari ketetapan penolakan. Akan tetapi, bagi kita tampaknya tidak ada peringatan dalam cakupan elemen kedua dari ketetapan penolakan, dan kita tidak boleh menganggap ketetapan ini sebagai sesuatu yang terpisah. Sisi positif dari penolakan jelas sekali diajarkan dalam Alkitab sebagai lawan dari pemilihan sehingga kita tak dapat menganggap doktrin penolakan ini sebagai sesuatu yang semata-mata negatif. Rom 9:21,22; Yud 4. Akan tetapi, kita juga harus senantiasa memperhatikan beberapa titik perbedaan antara kedua elemen dalam ketetapan penolakan.

  • Pemilihan adalah tindakan Allah yang berdaulat, suatu tindakan yang semata-mata berdasarkan kesukaan kebaikan-Nya di mana jasa-jasa manusia tidak dipertimbangkan, sedangkan penghukuman yang telah ditetapkan sebelumnya adalah suatu tindakan berdasarkan hukum, yang memberi upah dosa dengan hukuman. Bahkan supralapsarian mau mengakui bahwa dalam penghukuman dosa selalu dipertimbangkan.

  • Alasan untuk memilih tidak diketahui manusia. Alasan itu bukan karena dosa manusia, sebab semua manusia sudah berdosa. Kita hanya dapat mengatakan bahwa Allah melepaskan sebagian orang karena alasan-alasan yang baik dan bijaksana yang hanya diketahui oleh Allah sendiri. Di pihak lain alasan untuk penghukuman jelas kita ketahui, yaitu dosa.

  • Pemilihan bersifat pasif, suatu tindakan di mana tidak diperlukan perbuatan apapun dari manusia, tetapi penghukuman bersifat efisien dan positif. Mereka yang dilalui akan dihukum berdasarkan dosa mereka.

  • Kita harus senantiasa berpegang pada pengertian bahwa sebagaimana pemilihan dan penolakan keduanya menentukan akhir yang telah dipredestinasikan bagi manusia dengan kepastian yang besar, dan cara yang dipakai sehingga tujuan akhir itu dapat dicapai, pemilihan dan penolakan ini mengandung arti bahwa dalam hal pemilihan dan penolakan Allah akan menjadikan apapun yang menjadi efisiensi langsung dari apa yang telah Ia tetapkan. Hal ini berarti bahwa kendatipun Allah adalah pembuat kelahiran baru, panggilan, iman, pembenaran, dan penyucian bagi orang pilihan, dan dengan demikian melalui satu tindakan langsung Allah melaksanakan pemilihan ini. Tidak dapat dikatakan bahwa Allah adalah pembuat yang bertanggungjawab atas kejatuhan manusia, keadaan yang tidak benar dan tindakan dosa dari orang yang ditolak oleh tindakan langsung mereka, sehingga kemudian mengakibatkan pelaksanaan atas penolakan diri mereka. Tidak diragukan lagi bahwa ketetapan Allah menjadikan masuknya dosa ke dalam dunia menjadi satu hal yang pasti, akan tetapi Allah tidak mempredestinasikan sebagian orang untuk menjadi pendosa, sebagaimana Ia menentukan sebagian orang lainnya untuk disucikan. Dan sebagai Allah yang kudus Ia tidak mungkin menjadi pencipta dosa. Kedudukan yang diambil oleh Calvin dalam hal ini jelas dinyatakan dalam "Institutio" nya dan disebutkan sebagai berikut:

  • "Meskipun kehendak Allah sangatlah utama dan merupakan penyebab pertama dari segala sesuatu dan Allah menahan iblis dan semua hal yang melawan kehendak-Nya, bagaimanapun juga Allah tidak dapat disebut sebagai penyebab dosa, ataupun pencipta kejahatan, dan Allah juga pembuka setiap kesalahan apapun.

    "Meskipun iblis dan orang-orang yang ditolak adalah pelayan-pelayan dan alat Allah untuk melaksanakan keputusan-Nya yang penuh rahasia, bagaimanapun juga dalam suatu cara yang tidak dapat dipahami Allah bekerja sedemikian rupa didalam dan melalui mereka sebab Allah tidak mungkin dikotori oleh mereka, sebab kejahatan mereka dipakai dalam cara yang adil dan benar untuk tujuan yang baik, walaupun caranya sering tersembunyi bagi kita.

    "Mereka yang berkata bahwa Allah adalah pembuat dosa bertindak dengan acuh tak acuh jika segala sesuatu terjadi oleh kehendak-Nya sebab mereka tidak membedakan antara kerusakan manusia dan pekerjaan Allah yang tetsembunyi.

  • Harus diperhatikan bahwa semua yang Allah telah putuskan untuk melepaskan sebagian orang bukanlah hal yang umum tetapi hal yang istimewa bagi Allah, anugerah-Nya yang melahirbarukan, anugerah yang mengubah orang berdosa menjadi kudus. Kelirulah jika orang berpikir bahwa dalam hidup sekarang ini orang yang ditolak sama sekali tidak mendapat kebaikan Allah. Allah tidak membatasi pembagian anugerah alamiah melalui tindakan pemilihan-Nya. Bahkan Allah juga tidak memperkenankan pemilihan dan penolakan sebagai ukuran pemberian-Nya. Orang-orang yang ditolak bahkan sering menikmati lebih banyak berkat alamiah dalam hidup sekarang ini jika dibandingkan dengan orang-orang pilihan. Apa yang dengan jelas membedakan orang pilihan dengan orang yang ditolak adalah bahwa orang pilihan dijadikan penerima anugerah lahir baru dan keselamatan Allah.

  • Bukti Bagi Doktrin Penolakan.

  • Doktrin penolakan secara wajar mengikuti situasi logis. Ketetapan atas pemilihan jelas-jelas mengimplikasikan doktrin penolakan. Apabila Allah yang Maha Bijaksana dan memiliki semua pengetahuan telah merencanakan untuk menyelamatkan sebagian orang, kemudian Ia "ipso facto" juga merencanakan untuk tidak menyelamatkan sebagian yang lain. Jika Ia telah memilih atau menyelamatkan sebagian orang dan dengan kenyataan yang sama Ia juga telah menolak sebagian orang lain. Brunner memperingatkan agar orang hati-hati terhadap argumen sedemikian, sebab menurutnya Alkitab tidak pernah menyebut satu kata pun yang membicarakan predestinasi dari Allah mengenai penolakan manusia. Tetapi bagi kita Alkitab tidak berkontradiksi tetapi meluruskan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin timbul. Oleh sebab Alkitab adalah terutama merupakan wahyu penebusan, maka Alkitab tentu saja tidak perlu terlalu banyak bicara soal penolakan sebagaimana Alkitab banyak berbicara tentang pemilihan. Akan tetapi apa yang dikatakan Alkitab sudah cukup, bandingkan Mat 11:25,26; Rom 9:13,17,18,21,21; 11:7; Yud 4; 1 Pet 2:8.