DAS Referensi 02a

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Referensi 02a

Pelajaran 02 | Pertanyaan 02 | Referensi 02b

Nama Kursus : Doktrin Allah Sejati
Nama Pelajaran : Nama-Nama Allah
Kode Referensi : DAS-R02a

Referensi DAS-R02a diambil dari:

Judul Buku : Teologi Sistematika (Doktrin Allah)
Penulis : Louis Berkhof
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 1993
Halaman : 67 - 69

REFERENSI PELAJARAN 02a - NAMA-NAMA ALLAH SECARA UMUM

Sekalipun Alkitab mencatat sejumlah nama-nama Allah, Alkitab juga membicarakan tentang nama Allah dalam bentuk tunggal, misalnya dalam pernyataan-pernyataan berikut: "Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan" (Kel 20:7), "... betapa mulia nama-Mu di seluruh bumi..." (Mzm 8:2), " Seperti nama-Mu, ya Allah, demikianlah kemasyuran-Mu..." (Mzm 48:11), " ... nama-Nya masyur di Israel..." (Mzm 76:2), "Nama Tuhan adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan ia menjadi selamat" (Ams 18:10). Dalam ayat-ayat itu, "nama" itu berdiri sebagai seluruh manifestasi Allah dalam hubungan-Nya dengan umat-Nya, atau hanya untuk pribadi, sehingga nama itu menjadi sinonim dengan Allah. Pemakaian bentuk seperti ini mempunyai sangkut paut dengan kenyataan bahwa di dalam pemikiran orang timur bahwa nama bukanlah sekedar sebutan saja, tetapi merupakan satu ekspresi dari natur yang kepadanya nama itu menunjuk. Mengenal nama dan seseorang berarti mempunyai kuasa atas dia, dan nama-nama dari berbagai dewa dipakai dalam mantra-mantra untuk memakai kuasa dewa itu. Dalam pengertian yang paling umum dari arti kata itu, nama Allah adalah Wahyu-Nya sendiri. Nama itu adalah penunjukkan atas diri Allah, bukan sebagaimana Ia ada dalam kedalaman Jatidiri Ilahi-Nya, tetapi sebagaimana Ia menyatakan diri-Nya terutama dalam hubungan-Nya dengan manusia. Bagi kita satu nama umum dan Allah terpisah dan menjadi banyak nama, yang mengekspresikan berbagai sisi dari Jatidiri Allah. Hanya oleh karena Allah telah mengungkapkan diri-Nya sendiri dalam nama-Nya (nomen editum) maka kita dapat menyebut Dia dengan nama dari berbagai bentuk (nomina indita). Nama-nama Allah bukanlah merupakan penemuan manusia, tetapi asli dari Allah, walaupun nama-nama itu dipinjam dari bahasa manusia, dan diturunkan dan hubungan-hubungan manusiawi. Nama-nama itu antropomorfis dan menandai tindakan Allah yang merendahkan diri untuk menemui manusia.

Nama-nama Allah membawa kesulitan bagi pemikiran manusia. Allah adalah Ia yang tak dapat sepenuhnya dipahami, yang ditinggikan secara tidak terbatas di atas segala sesuatu yang terbatas; akan tetapi di dalam nama-nama-Nya Ia turun kepada semua yang terbatas, dan menjadi seolah-olah setara dengan manusia. Di satu pihak kita tidak dapat menamai Dia, dan di pihak lain Ia memunyai banyak nama. Bagaimana hal ini dapat dijelaskan? Atas dasar apakah nama-nama ini diterapkan kepada Allah yang tak terbatas dan tak dapat dipahami? Harus selalu diingat bahwa nama-nama itu bukanlah penemuan manusia dan nama itu bukan merupakan pengakuan dari pendalaman manusia akan Jatidiri Allah yang paling mendasar. Nama-nama itu diberikan oleh Allah sendiri dengan satu jaminan bahwa nama-nama itu mengandung wahyu dari Jatidiri Ilahi. Hal ini dimungkinkan oleh fakta bahwa dunia dan semua hubungan-hubungan dengannya dulu dan sekarang memunyai arti sebagai wahyu Allah. Oleh karena Dia yang tidak dapat dipahami sepenuhnya telah menyatakan diri kepada makhluk-Nya, mungkinlah bagi manusia untuk menyebut nama-Nya sesuai dengan cara dari makhluk ciptaan. Dalam upaya untuk membuat diri-Nya dikenal manusia, Allah harus merendahkan diri sampai setara dengan manusia, agar ia dapat dipahami oleh kesadaran manusia yang terbatas, dan diucapkan dalam bahasa manusia. Jika benar pemberian nama Allah dengan nama-nama antropomorfis mencakup suatu pembatasan Allah, sebagaimana dikatakan sebagian orang, maka hal ini tentunya akan benar bagi wahyu Allah dalam penciptaan. Dengan demikian kata itu tidak mengungkapkan, tetapi justru menyembunyikan Allah; kemudian manusia tidak berhubungan dengan Allah, tetapi justru membentuk sebuah antitesis terhadap Allah; dan kemudian kita dibungkamkan menjadi agnostisisme tanpa pengharapan.

Dan apa yang kita katakan tentang nama Allah secara umum kemudian berlanjut bahwa kita dapat memasukkan kepada nama Allah bukan saja sistem nama yang dengannya Allah ditunjukkan sebagai Jatidiri yang berpribadi dan yang tidak tergantung dan dengannya Ia disebut, tetapi juga atribut-atribut Allah; dan kemudian bukan semata-mata sifat-sifat dari Jatidiri Ilahi secara umum, tetapi juga semua yang mengkualifikasikan Pribadi-pribadi yang terpisah dan Tritunggal. Dr Bavinck mendasarkan pembagian dan nama-nama Allah dalam konsep yang luas tentang nama-nama itu, dan membedakan antara "nomina propria" (nama diri), "nomina essentialia" (nama-nama esensial atau sifat) dan "nomina personalia" (nama-nama pribadi seperti Bapa, Anak dan Roh Kudus). Dalam bab ini kita membatasi hanya dalam pembicaraan dari kelompok pertama.