DAS Pelajaran 06

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Nama Kursus : Doktrin Allah Sejati
Nama Pelajaran : Penciptaan Dan Pemeliharaan Allah
Kode Pelajaran : DAS-P06

PELAJARAN 06. PENCIPTAAN DAN PEMELIHARAAN ALLAH

Daftar Isi

  1. A. Penciptaan
    1. 1. Pengertian
    2. 2. Doktrin Penciptaan dalam Sejarah
    3. 3. Bukti Alkitab dan Dasar Teologis Penciptaan
  2. B. Pemeliharaan Allah (Providensia Allah)
    1. Arti Etimologi (Asal Kata)
    2. Pengertian/Definisi
    3. Unsur-unsur Providensia Allah

Doa

PENCIPTAAN DAN PEMELIHARAAN ALLAH

"Sebab beginilah firman Tuhan, yang menciptakan langit, Dialah Allah yang membentuk bumi dan menjadikannya dan yang menegakkannya, dan Ia menciptakannya bukan supaya kosong, tetapi Ia membentuknya untuk didiami: 'Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain" Yesaya 45:18.

  1. Penciptaan

    Pembicaraan tentang ketetapan-ketetapan Allah biasanya membawa kita pada pemikiran tentang pelaksanaan dari semua ketetapan tersebut, dan hal ini dimulai dengan karya penciptaan. Penciptaan ini bukan saja yang pertama dalam susunan waktu, tetapi juga berdasarkan urutan logisnya. Penciptaan adalah permulaan dan dasar dari semua penyataan ilahi dan sebagai akibatnya juga merupakan dasar dari semua kehidupan etis dan religius.

    Doktrin tentang penciptaan tidak dikemukakan dalam Alkitab sebagai solusi filosofis dari problem dunia, tetapi dalam kepentingan etis dan religiusnya, sebagai suatu penyataan dari hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Doktrin penciptaan menekankan bahwa fakta tentang Allah adalah asal mula dari segala sesuatu dan bahwa segala sesuatu adalah kepunyaan-Nya dan berhadapan dengan-Nya. Pengetahuan tentang doktrin penciptaan ini diturunkan dari Alkitab saja dan diterima melalui iman (Ibrani 11:3), walaupun Katolik Roma tetap berpegang pada pendapat bahwa doktrin penciptaan itu dapat juga diperoleh dari Alam.

    1. Pengertian

      Penciptaan adalah tindakan bebas Allah di mana Allah menghasilkan dunia dan semua yang ada di dalamnya (baik materi maupun spiritual), sebagian tanpa bahan dan sebagian dengan bahan. Ia menciptakan untuk tujuan yang baik, yaitu sebagai penyataan akan kemuliaan, kekuasaan, kebijaksanaan, dan kebaikan-Nya. Orang Kristen percaya akan Doktrin Penciptaan (Teori Kreasi) berdasarkan pada kesaksian Alkitab (Kejadian pasal 1). Pengetahuan tentang penciptaan tidak mungkin diperoleh dari pemikiran manusia karena manusia sendiri adalah hasil ciptaan itu. Oleh karena itu, jika bukan Allah sendiri yang menyatakannya (sebagai Pencipta), maka tidak mungkin manusia dapat mengetahuinya.

    2. Doktrin Penciptaan dalam Sejarah

      1. Gereja Mula-Mula percaya akan penciptaan sebagai tindakan bebas Allah dan juga sebagai ex-nihilo (diciptakan tanpa bahan). Ajaran ini sangat penting pada masa itu karena digunakan untuk melawan ajaran Gnostik yang percaya bahwa materi adalah sesuatu yang jahat. Namun demikian, ada perbedaan pendapat yang berkaitan dengan istilah "hari", apakah itu memiliki arti literal, suatu periode tertentu, atau satu waktu tunggal yang tidak terbagi.

      2. Augustinus: Dari kekekalan penciptaan ada dalam kehendak Allah. Tidak ada waktu sebelum penciptaan, karena dunia dijadikan dengan waktu (bukan dalam waktu). Penciptaan adalah tanpa bahan (ex-nihilo). Hari-hari dalam penciptaan adalah sebuah momen waktu untuk memberikan kelengkapan pada keterbatasan intelegensi manusia.

      3. Pada masa Reformasi, konsep ex-nihilo dipertahankan dengan kuat karena -- suatu tindakan bebas Allah -- diciptakan dalam waktu 6 hari dalam arti harafiah.

      4. Sesudah Reformasi: Pengaruh ilmu pengetahuan dan konsep modern melahirkan kompromi teologi dengan menganggap bahwa kisah dalam Kejadian 1 hanyalah mitos/alegoris. Ada jeda waktu putus sesudah Kejadian 1:1-2 dengan ayat-ayat selanjutnya. Dan satu hari adalah waktu yang lama sekali yaitu jutaan tahun.

    3. Bukti Alkitab dan Dasar Teologis Penciptaan

      Bukti Alkitab bagi doktrin penciptaan tidaklah ditemukan dalam satu ayat tunggal yang terbatas dalam Alkitab, tetapi dapat kita temukan dalam setiap bagian firman Tuhan. Doktrin penciptaan ini tidaklah terdiri dari sedikit ayat yang tersebar dengan penafsiran yang meragukan, akan tetapi dinyatakan dalam sejumlah besar ayat yang jelas dan dalam pernyataan-pernyataan yang sama sekali tidak meragukan, yang membicarakan tentang penciptaan dunia sebagai suatu fakta historis. Pertama-tama, kita mendapatkan pemaparan yang panjang lebar tentang penciptaan di dalam dua pasal pertama kitab Kejadian, yang kemudian akan dibicarakan secara terperinci saat membahas penciptaan dalam semesta secara materi.

      Walaupun dalam memaparkan tentang penciptaan juga menyinggung tentang penciptaan langit, tetapi Alkitab tidaklah terlalu menghabiskan waktu untuk menceritakan tentang penciptaan dunia spiritual, dan ini merupakan suatu hal yang sangat penting. Alkitab lebih memusatkan diri pada penjabaran tentang penciptaan dunia materi saja, dan terutama menekankan bahwa dunia materi ini dipersiapkan untuk tempat tinggal manusia dan sebagai arena untuk semua kegiatan manusia. Penjelasan Alkitab tentang penciptaan ini tidaklah terlalu berurusan dengan kenyataan-kenyataan yang tidak kasat mata, dan oleh sebab semua hal yang kasat mata itu menyangkut indera manusia, maka penciptaan ini bukan saja menjadi pokok bahasan yang penting dalam teologi melainkan juga dalam ilmu-ilmu pengetahuan yang lain, termasuk filsafat. Akan tetapi, sementara filsafat berusaha memahami asal mula alam semesta dan segala sesuatu berdasarkan kemampuan pemikiran manusia, teologi memulai titik berangkatnya pada Tuhan, dan membiarkan dirinya dipimpin oleh wahyu khusus-Nya yang menyatakan karya penciptaan, dan melihat segala sesuatu dalam hubungan dengan-Nya. Kisah tentang penciptaan adalah permulaan dari wahyu Allah sendiri, dan memperkenalkan kita pada hubungan yang mendasar di mana segala sesuatu termasuk manusia harus berdiri di hadapan-Nya. Penjelasan Alkitab menekankan kedudukan manusia yang sebenarnya, dengan maksud agar seluruh umat manusia di segala zaman memiliki pengertian yang benar bahwa seluruh Alkitab berisi wahyu pendamaian.

      • Pasal-pasal yang menekankan kemahakuasaan Allah dalam karya penciptaan: Yesaya 40:26-28; Amos 4:13.
      • Ayat-ayat yang menunjuk kepada pemuliaan Allah di atas alam semesta sebagai Allah yang besar dan tiada terbatas: Mazmur 90:2; Kisah Para Rasul 17:24.
      • Ayat-ayat yang menunjuk kebijaksanaan Allah dalam karya penciptaan: Yesaya 40:12-14; Yeremia 10:12-16; Yohanes 1:3.
      • Ayat-ayat yang memandang penciptaan dari sudut pandang kedaulatan Allah dan tujuan penciptaan: Yesaya 43:7; Roma 1:25.
      • Ayat-ayat yang membicarakan penciptaan sebagai karya fundamental Allah: 1 Korintus 11:9; Kolose 1:16.
      1. Tindakan bebas Allah yang menunjukkan kedaulatan-Nya.

        Bukan merupakan suatu kebutuhan jika Allah menciptakan alam semesta, karena Allah sempurna adanya dan tidak tergantung pada apa pun. Dan juga Allah tidak menciptakan alam semesta dari diri-Nya sendiri. Keberadaan alam semesta bukanlah perluasan dari keberadaan Allah karena alam semesta adalah bebas, di luar Allah. Wahyu 4:11, "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan."

        "Dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang." (Kisah Para Rasul 17:25)

      2. Tujuan paling utama yang dilihat-Nya bukanlah untuk memperoleh kemuliaan, melainkan untuk memanifestasikan kemuliaan yang dimiliki-Nya.

        Dalam melakukan hal itu Ia juga akan menyebabkan surga menyatakan kemuliaan-Nya, dan cakrawala menunjukkan pekerjaan tangan-Nya, burung-burung di udara dan binatang buas memuliakan-Nya, dan anak-anak manusia menyanyikan pujian. Akan tetapi, pujian kepada Sang Pencipta tidaklah menambahkan apa-apa pada kesempurnaan keberadaan-Nya, tetapi hanyalah mengakui kebesaran-Nya dan memberikan kepada-Nya kemuliaan bagi-Nya.

        Alam semesta merupakan hasil karya Allah yang diciptakan dengan tujuan untuk memperlihatkan kemuliaan-Nya. Oleh karena itu, patutlah kita mempelajarinya agar dapat menyaksikan kemuliaan Allah. Selain itu, adalah wajar bagi kita untuk berusaha semaksimal mungkin untuk memuliakan Dia. Jawaban terhadap doa-doa kita dengan sendirinya akan membuat kita memuliakan Tuhan; demikian pula kita harus memuliakan Dia setelah menyelidiki janji-janji dan persediaan Allah menuntun kita memuliakan Dia. Bahkan, seperti yang dinasihatkan oleh Paulus, "Jika Engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah"(I Korintus 10:31).

        Yesaya 43:7, "Semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!"

        Wahyu 4:11, "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan."

  • Pemeliharaan Allah (Providensia Allah)

    Doktrin penciptaan segera diikuti dengan doktrin providensia yang di dalamnya jelas didefinisikan pandangan Alkitab tentang hubungan antara Allah dengan dunia. Walaupun istilah "providensia" tidak ditemukan dalam Alkitab, doktrin providensia sesungguhnya memancar dari Alkitab.

    1. Arti Etimologi (Asal Kata)

      Kata ini berasal dari bahasa Yunani "Pronoia", yang artinya pengetahuan awal. Dalam bahasa Latin "Providentia", artinya tindakan kemurahan Allah menyediakan segala sesuatu yang diperlukan ciptaan-Nya.

    2. Pengertian

      Providensia adalah aktivitas Allah (Pencipta) yang terus-menerus oleh rahmat-Nya dan kebaikan-Nya yang melimpah menegakkan ciptaan-Nya dalam keadaan teratur, memimpin dan memerintahkan segala sesuatu kepada tujuan yang telah ditetapkan demi kemuliaan-Nya.

      Keterlibatan Allah secara terus-menerus dengan semua ciptaan-Nya sedemikian rupa, sehingga Allah selalu menjaga keberadaan ciptaan dan memelihara semua sifat-sifat yang dimiliki mereka sebagaimana Allah menciptakan mereka. Dan juga bekerja sama dengan semua ciptaan-Nya dalam setiap tindakan, dan menuntun serta mengarahkan semua sifat-sifat yang dimiliki mereka itu sebagaimana seharusnya, dan mengarahkan mereka untuk memenuhi semua kehendak-Nya.

      Inti pengajaran doktrin pemeliharaan Allah adalah penekanan pada pemerintahan Allah atas alam semesta. Dia memerintah ciptaan-Nya dengan kedaulatan dan otoritas yang mutlak. Dia memerintah segala sesuatu yang akan terjadi, mulai dari yang paling besar sampai yang paling kecil. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi di luar lingkup pemerintahan pemeliharaan Allah yang berdaulat. Dia yang membuat hujan turun dan matahari bersinar. Dia yang mendirikan kerajaan dan yang menghancurkan kerajaan. Dia mengetahui jumlah rambut di kepala kita dan hari-hari dalam kehidupan kita.

      Ada perbedaan yang krusial antara pemeliharaan Allah, keberuntungan, dan takdir atau kebetulan. Kunci dari perbedaan ini terletak pada karakter Allah. Keberuntungan adalah buta, sedangkan Allah melihat segala sesuatu. Takdir tidak berpribadi, sedangkan Allah seorang Bapa. Kebetulan adalah bisu, sedangkan Allah berbicara. Tidak ada kekuatan-kekuatan yang buta dan tidak berpribadi yang bekerja dalam sejarah manusia. Semua terjadi oleh karena tangan pemelihara yang tidak kelihatan.

      Di dalam sebuah alam semesta yang diperintah oleh Allah tidak ada peristiwa yang terjadi secara kebetulan. Pada dasarnya tidak ada yang disebut dengan kebetulan. Kebetulan tidak pernah ada. Kata itu hanya kita gunakan untuk menjelaskan kemungkinan-kemungkinan secara matematika. Tetapi, kebetulan itu sendiri bukan merupakan suatu keberadaan yang dapat memengaruhi realitas.

      Aspek lain dari pemeliharaan Allah disebut dengan bekerja sama. Kerja sama ini menunjuk pada kesatuan antara tindakan Allah dan tindakan manusia. Kita adalah makhluk ciptaan yang memiliki kehendak dalam diri kita sendiri. Kita dapat menjadikan sesuatu terjadi. Namun, kuasa yang kita keluarkan sebagai penyebab dari hal itu merupakan hal yang kedua. Kedaulatan dari pemeliharaan Allah berada di atas dan melampaui tindakan-tindakan kita. Dia bekerja berdasarkan kehendak-Nya melalui tindakan-tindakan dari kehendak manusia. Contoh yang paling jelas untuk kerjasama ini dapat kita temukan dalam kisah Yusuf dan saudara-saudaranya dalam Alkitab. Meskipun saudara-saudara Yusuf menyatakan rasa bersalah mereka atas apa yang telah mereka lakukan pada Yusuf, pemeliharaan Allah bekerja bahkan melalui dosa yang mereka lakukan. Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya, "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar" (Kejadian 50:20).

    3. Objek dari Providensia Allah

      1. Ajaran Alkitab

        Alkitab jelas mengajarkan pengaturan providensia Allah atas seluruh alam semesta secara luas (Mazmur 103:19). Atas penciptaan binatang (Mazmur 104:14); atas semua kegiatan bangsa-bangsa (Ayub 12:23); atas kelahiran dan hidup manusia (Galatia 1:1-15); atas keberhasilan dan kegagalan manusia (Mazmur 75:6); atas hal-hal yang tampaknya hanyalah ketidaksengajaan atau tidak penting (Amsal 16:33); dalam perlindungan atas orang benar (Mazmur 4:8); dalam memenuhi kebutuhan umat-Nya (Filipi 4:19); dalam memberikan jawaban terhadap doa (1 Samuel 1:19); dan dalam menghukum kejahatan (Mazmur 7:12).

      2. Providensia umum dan khusus

        Para teolog pada umumnya membedakan antara providensia umum dan providensia khusus, di mana providensia umum adalah pengaturan Allah atas seluruh alam semesta sebagai satu kesatuan, dan providensia khusus adalah pemeliharaan Allah dari setiap bagian alam semesta dalam hubungannya dengan keseluruhan. Keduanya bukanlah dua jenis providensia yang dilakukan dalam hubungan yang berbeda. Istilah "providensia khusus" mungkin dapat memiliki konotasi khusus dan dalam beberapa hal menunjuk pada perlindungan dan campur tangan Allah secara khusus bagi manusia.



  • Akhir Pelajaran (DAS-P06)

    DOA

    "Terima kasih Tuhan Yesus untuk pembelajaran hari ini, di mana kami boleh lebih lagi mensyukuri karya-Mu dalam hidup kami dan pemeliharaan-Mu yang sempurna atas kami, yang menjadi penolong dalam hidup kami. Kuatkanlah kami sehingga kami dapat membagikan berkat ini kepada orang lain. Amin."

    Komentar