DAS Pelajaran 05

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Nama Kursus : Doktrin Allah Sejati
Nama Pelajaran : Ketetapan Allah Dan Predestinasi
Kode Pelajaran : DAS-P05

Pelajaran 05. KETETAPAN ALLAH DAN PREDESTINASI

Daftar Isi

Bacaan Alkitab: Efesus 1:11

  1. Ketetapan Allah
    1. Pengertian
    2. Sifat Ketetapan Allah
    3. Hubungan Ketetapan dan Kehendak Allah
    4. Kesulitan-Kesulitan Menerima Doktrin Ketetapan Allah
  2. Predestinasi (Doktrin Pilihan)
    1. Pengertian
    2. Bukti Alkitab
    3. Kesalahpahaman yang Sering Terjadi
    4. Kesalahpahaman dari Doktrin Predestinasi (Pilihan)

Doa

KETETAPAN ALLAH DAN PREDESTINASI

"Aku katakan 'di dalam Kristus', karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan -- kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya". (Efesus 1:11)

  1. Ketetapan Allah

    Allah menyelenggarakan segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya, maka sudah pada tempatnya kalau karya-karya Allah diuraikan setelah pribadi Allah dibicarakan. Akan tetapi, sebelum hal ini dapat dilakukan, kita terlebih dahulu harus menganalisis ketetapan-ketetapan Allah.

    1. Pengertian

      Ketetapan Allah adalah rencana kekal Allah yang dilandaskan pada pertimbangan ilahi yang paling bijaksana dan kudus. Dengan jalan ini maka Allah secara bebas dan tidak berubah, demi kemuliaan-Nya sendiri, telah menetapkan secara efektif segala sesuatu yang akan terjadi.

    2. Ciri-ciri khas Ketetapan Allah

      1. Ketetapan Allah bersifat kekal

        Dalam pengertian bahwa ketetapan ini terletak sepenuhnya dalam kekekalan. Dalam satu pengertian tertentu dapat dikatakan bahwa semua tindakan Allah adalah kekal, sebab tidak ada urut-urutan waktu dalam keberadaan Allah. Dalam Efesus 1:4, "Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya." 2 Timotius 1:9, "Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman." 1 Petrus 1:20, "Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir."

      2. Ketetapan itu berdasarkan pada Hikmat Allah dan Pengetahuan Allah

        Ada banyak hal dalam ketetapan Allah yang melampaui pemahaman manusia dan tak dapat dijelaskan dengan akal manusia yang terbatas. Akan tetapi, pertimbangan itu sama sekali tidak berisi sesuatu yang irasional atau sembarangan saja. Allah membentuk ketetapan-Nya dengan satu kebijaksanaan dan pengetahuan yang berasal dari dalam diri-Nya. Efesus 3:10-11, "Supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga, sesuai dengan maksud abadi, yang telah dilaksanakan-Nya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita."

        Mazmur 104:24, "Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu."

        Yeremia 10:12, "Tuhanlah yang menjadikan bumi dengan kekuatan-Nya, yang menegakkan dunia dengan kebijaksanaan-Nya, dan yang membentangkan langit dengan akal budi-Nya." Ketetapan Allah itu pasti akan terjadi/terpenuhi. Apa yang telah Ia tetapkan pastilah akan terjadi; dan bahwa tidak ada satu pun yang dapat menghalangi maksud-Nya.

        Yesaya 46:10, "Yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan."

      3. Ketetapan Allah itu tidak berubah

        Manusia mungkin memiliki rencana-rencana, dan bahkan seringkali mengubah rencananya karena berbagai alasan. Ada kemungkinan dalam membuat rencana itu ia kurang sungguh-sungguh dalam mengejar tujuannya, sehingga ia tidak menyadari sepenuhnya apa saja yang tercakup dalam rencana itu. Atau, ia sedang mengingini satu kekuatan untuk melaksanakannya. Akan tetapi, dalam diri Allah tidak ada hal-hal yang demikian. Allah sama sekali tidak kekurangan pengetahuan, semangat, atau kekuatan. Dan Allah tidak akan mengubah segala ketetapan-Nya, karena Ia adalah Allah yang tidak berubah dan karena Ia adalah setia dan benar. "Tetapi Ia tidak pernah berubah - siapa dapat menghalangi Dia? Apa yang dikehendaki-Nya, dilaksanakan-Nya juga. Karena Ia akan menyelesaikan apa yang ditetapkan atasku, dan banyak lagi hal yang serupa itu dimaksudkan-Nya." (Ayub 23:13-14) Selanjutnya, Yakobus 1:17, "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran."

      4. Ketetapan itu tanpa syarat/mutlak

        Hal ini berarti bahwa ketetapan Allah sama sekali tidak tergantung pada segala sesuatu yang bukan merupakan bagian dari ketetapan itu sendiri. Allah bukan hanya menetapkan untuk menyelamatkan orang berdosa dengan menentukan sarana untuk melaksanakan ketetapan itu, sarana yang menuju kepada akhir yang telah ditentukan sejak semula itu juga ditetapkan. Ciri kemutlakan ketetapan itu berasal dari kekekalan-Nya dan ketidakberubahan-Nya.

        Kisah Para Rasul 2:23, "Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka." Efesus 2:8, "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah." 1 Petrus 1:2, "Yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu."

      5. Ketetapan Allah itu bersifat universal untuk semua makhluk

        Ketetapan itu mencakup apa saja yang akan terjadi dalam dunia, baik dalam hal fisik maupun moral, baik ataupun jahat. Ketetapan itu mencakup tindakan-tindakan manusia yang baik, perbuatan manusia yang buruk, dan peristiwa-peristiwa yang belum jelas di sepanjang usia manusia dan tempat tinggal mereka. Dalam Efesus 2:10, menyatakan, "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." Kejadian 50:20, "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar."

      6. Ketetapan Allah itu kudus

        Semua ketetapan Allah dilandaskan pada pertimbangan ilahi yang paling bijaksana dan kudus. Karena Ia Mahakudus dan tidak mungkin bersikap pilih kasih atau tidak adil, Allah dapat membuat semua rencana-Nya sesuai dengan apa yang sungguh-sungguh benar adanya. Jadi, atas dasar kebijaksanaan dan kekudusan-Nya Allah membuat segala ketetapan itu. "Aku akan melakukannya oleh karena Aku, ya oleh karena Aku sendiri, sebab masakan nama-Ku akan dinajiskan? Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain!" (Yesaya 48:11)

      7. Ketetapan Allah itu memunyai tujuan akhir untuk kemuliaan Allah

        Tujuan terakhir dan tertinggi dari semua ketetapan Allah ialah kemuliaan-Nya. Ciptaan memuliakan Dia. Daud mengatakan, "Langit menceritakan kemuliaan Allah dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya" (Mazmur 19:2). Dan kedua puluh empat tua-tua melemparkan mahkota mereka di depan takhta Allah sambil berkata, "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan" (Wahyu 4:11). Jadi, tujuan akhir dari segala sesuatu ialah kemuliaan Allah; dan hanya pada saat kita menerima kenyataan ini sebagai tujuan akhir kehidupan kitalah maka kita akan hidup pada tingkatan yang paling tinggi dan paling selaras dengan kehendak-Nya. Bilangan 14:21, "Hanya, demi Aku yang hidup dan kemuliaan TUHAN memenuhi seluruh bumi." Yesaya 6:3, "Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: 'Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya.'"

      8. Seluruh ketetapan Allah yang berhubungan dengan dosa bersifat permisif (diizinkan)

        Kita biasa menyebut ketetapan Allah yang berkaitan dengan kejahatan moral sebagai ketetapan yang mengijinkan atau memperbolehkan. Melalui ketetapan-Nya Allah mengizinkan tindakan atau perbuatan dosa manusia tanpa adanya maksud menyebabkan perbuatan dosa itu dengan cara bertindak langsung dan dalam kehendak yang terbatas. Sekalipun Allah bukan pencipta dosa dan Ia tidak mengharuskan adanya dosa itu, namun berlandaskan pertimbangan-Nya yang bijaksana dan kudus, Ia telah menetapkan untuk mengizinkan terjadinya kejatuhan dan dosa. (Yakobus 1:13-14) Ketetapan ini dibuat-Nya karena Ia mengetahui bagaimana sifat dosa itu, apa yang akan dilakukan oleh dosa terhadap makhluk ciptaan-Nya, dan apa yang harus dilakukan-Nya untuk menyelamatkan manusia. Allah bisa saja mencegah masuknya dosa. Jika Allah telah memutuskan untuk menjaga agar kehendak malaikat dan manusia tidak menyeleweng, maka mereka itu akan tetap hidup dalam kekudusan. Seperti yang tertulis, "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah". (Roma 8:28)

    3. Hubungan Ketetapan dan Kehendak Allah

      Allah menetapkan segala sesuatu sesuai dengan kehendak kedaulatan-Nya. Kehendak Allah seringkali dibagi ke dalam dua kategori:

      1. Kehendak yang dinyatakan (yang tidak tersembunyi): Semua perintah Allah yang ada dan diberikan Allah dalam Alkitab.

      2. Kehendak Allah yang tidak dinyatakan (tersembunyi): Semua kejadian detail yang akan terjadi dan hal-hal lain yang tidak Tuhan nyatakan kepada manusia. Ulangan 29:29, "Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini."

    4. Kesulitan-kesulitan Menerima Doktrin Ketetapan Allah

      1. a. Bagaimana dengan kehendak bebas manusia? Apa arti kata "bebas"? Allah tidak pernah membicarakan tentang kebebasan manusia dalam arti di luar Allah. Tetapi manusia memunyai kebebasan dalam memutuskan akan pilihan, dan pilihan itu memberikan konsekuensi tanggung jawab atas apa yang dilakukan.

      2. Apakah usaha manusia untuk mendapatkan keselamatan tidak diperhitungkan? Tuhan bekerja melalui tindakan manusia. Jadi, bagaimanapun juga manusia harus bertindak, dan tindakan manusia itu berasal dari kehendak manusia sendiri. Dalam hal keselamatan, manusia tidak tahu akan keputusan keselamatan bagi dirinya.

      3. Apakah Allah yang menciptakan dosa? Allah mengizinkan dosa terjadi, tetapi Allah tidak melakukan dosa. Namun demikian, keberadaan dosa itu pun ada di bawah kuasa kedaulatan Allah.

  2. Predestinasi (Doktrin Pilihan)

    Beralih dari pembicaraan mengenai ketetapan Allah dan masuk dalam pembicaraan mengenai Predestinasi, masih berhubungan dengan pokok bahasan yang sama, tetapi beralih dari pembicaraan umum masuk dalam pembicaraan yang lebih khusus.

    1. Pengertian/Definisi

      Kata "predestinasi" tidak selalu dipakai dalam pengertian yang sama. Kadang-kadang kata ini dipakai semata-mata sebagai sinonim dari istilah generik "ketetapan". Dalam hal lain kata ini dipakai untuk menunjuk tujuan Allah yang berkaitan dengan manusia. Akan tetapi, yang paling sering adalah bahwa kata ini mengandung arti "pertimbangan" Allah berkenaan dengan manusia yang jatuh dalam dosa, termasuk pemilihan yang berdaulat dari sebagian orang, dan penolakan atas sebagian yang lain."

      Predestinasi adalah ketetapan Allah sebelum dunia diciptakan, yang mana Ia memilih beberapa orang untuk diselamatkan dan yang lain dibiarkan untuk binasa.

    2. Bukti Alkitab

      Alkitab membahas 3 macam "pemilihan":

      1. Pemilihan terhadap Israel dalam Perjanjian Lama

      2. Pemilihan terhadap orang-orang yang melayani dalam Perjanjian Lama
      3. Pemilihan terhadap orang-orang secara pribadi untuk diselamatkan

      Ayat-ayat Alkitab yang berbicara tentang "pilihan" (Kisah Para Rasul 13:48, Roma 8:28-30; 9:11-13, 2 Timotius 1:9, 1 Tesalonika 1:4-5).

    3. Kesalahpahaman yang Sering Terjadi

      1. Pilihan bukan nasib

      2. Pilihan bukan karena perbuatan baik manusia (berkondisi)
      3. Pilihan tidak berdasarkan akan pengetahuan Allah akan iman kita yang akan datang
    4. Kesalahpahaman dari Doktrin Predestinasi (Pilihan)

      1. Doktrin Pilihan tidak memberikan kesempatan manusia untuk menerima atau menolak Kristus. Doktrin pilihan menjamin bahwa manusia dengan kehendak bebasnya dapat memilih, tetapi bukan berarti bahwa pilihan itu betul-betul bebas, karena manusia tidak mungkin bebas di luar Allah.

      2. Doktrin Pilihan itu bukan benar-benar pilihan. Supaya pilihan itu benar-benar terbebas dari Allah adalah tidak mungkin karena untuk hidup saja manusia harus bergantung pada Allah.

      3. Doktrin pilihan itu membuat manusia seperti robot. Tuhan yang menciptakan manusia dan menentukan segala aspek dalam hidupnya. Manusia hanya mengikuti perintah Tuhan.

      4. Doktrin pilihan itu tidak adil. Karena manusia yang selamat dan yang harus binasa sudah ditentukan sebelumnya.

      Dalam 1 Timotius 2:3-4, "Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juru selamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran." Selanjutnya, 2 Petrus 3:9, "Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat."



Akhir Pelajaran (DAT-P05)

DOA

"Seperti yang tertulis dalam firman-Mu, bahwa sebelum dunia dijadikan Engkau telah memilih kami untuk menjadi bagian dalam rencana-Mu yang ajaib. Kami mengucap syukur atas pembelajaran hari ini, di mana kami boleh memperoleh pengetahuan tentang kasih dan rahmat-Mu yang Engkau berikan dalam hidup kami melalui ketetapan-ketetapan-Mu. Amin."

Komentar