Referensi PPB

Taxonomy upgrade extras: 

PPB-Referensi 01c

Nama Kursus : PENGANTAR PERJANJIAN BARU
Nama Pelajaran : Latar Belakang Politik, Sosial, dan Ekonomi Dunia PB
Kode Pelajaran : PPB-R01c

Referensi PPB-01c diambil dari:

Judul Buku : Ensiklopedi Fakta Alkitab I
Pengarang : J.I Packer, Merrill C. Tenney, William White, Jr.
Penerbit : Gandum Mas, Malang, 2001
Halaman : 357 - 366

REFERENSI PELAJARAN 01c - LATAR BELAKANG POLITIK, SOSIAL, DAN EONOMI

NEGERI PARA LELUHUR

Allah menyatakan kepada para bapak leluhur kebijakan penaklukan Israel. Sejarah Alkitab terus berkisar keliling kota-kota, daerah- daerah, dan tempat-tempat suci di mana bapak-bapak leluhur itu tinggal dan beribadah. Tuhan memerintah kepada Abraham, "Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu" (Kej. 13.17). Sebelum mereka dapat menguasai Kanaan, bapak-bapak leluhur menaati perintah itu dan dengan iman mengambil negeri tersebut untuk keturunan mereka.

Keluarga bapak leluhur terpaksa meninggalkan Sikhem setelah Simeon dan Lewi, anak-anak Yakub, dengan gegabah membunuh setiap laki-laki dalam kota tersebut. Yakub menegur mereka, "Kamu telah mencelakakan aku dengan membusukkan namaku kepada penduduk negeri ini . . . padahal kita ini hanya sedikit jumlahnya; apabila mereka bersekutu melawan kita, tentulah mereka akan memukul kita kalah, dan kita akan dipunahkan, aku beserta seisi rumahku" (Kej.34:30). Allah menyuruh mereka ke Betel, di mana Yakub mendirikan sebuah mezbah lagi. Sebagai persiapan untuk pengalaman kudus itu, seisi rumah Yakub menguburkan semua dewa asing mereka di bawah pohon yang besar dan menyucikan diri mereka. Mereka mengikuti jalan Pohon Tarbantin Peramal ke Betel, tempat Allah telah menyatakan diri-Nya dalam mimpi Yakub tentang tangga 20 tahun sebelumnya (Kej. 28). Di Betel, Tuhan menjamin kepada Yakub bahwa keturunannya akan menduduki negeri itu (Kej. 35:12).

Betel dan Sikhem bukanlah satu-satunya tempat di mana para bapak leluhur berdiam dan mendirikan mezbah. Langkah-langkah mereka membawa mereka sampai ke Hebron dan sejauh Bersyeba di selatan di Gurun Negeb. Mereka memeriksa dengan teliti daerah yang kemudian hari akan ditaklukkan oleh Yosua.

Sungguh, para bapak leluhur meletakkan dasar-dasar untuk pengalaman yang baik dan juga yang buruk bagi keturunan mereka Kanaan. Keterlibatan Abraham dan Ishak dengan raja Gerar di dataran Filistea (Kej. 20:1-18; 26:17-22) memberi pertanda dari konflik-konflik di kemudian hari, ketika orang Filistin berusaha keras untuk mendesak orang Israel di daerah perbukitan itu. Akan tetapi, banyak tempat suci orang Israel dalam kurun waktu ini menjadi kota-kota penting. Yerusalem, di mana raja-imam Melkisedek memberkati Abraham, menjadi tempat kediaman Raja Daud dan pusat agama Yahudi setelah Salomo membangun bait suci di sana.

Yusuf, putra Yakub, membawa orang Israel ke Mesir. Mereka memasuki Mesir sebagai bani (klan) Israel (Yakub); tetapi di sana Tuhan menggembleng mereka hingga menjadi suatu bangsa. Orang Mesir merasa terancam oleh "ledakan populasi" orang Israel. Untuk menghalangi kekuatan mereka yang bertambah besar, orang Mesir memaksa mereka untuk mengabdi sebagai budak di tanah Gosyen. Namun pada waktu yang telah ditentukan, Tuhan berjanji kepada mereka, "Dan Aku akan membawa kamu ke negeri yang dengan sumpah telah Kujanjikan memberikannya kepada Abraham, Ishak dan Yakub, dan Aku akan memberikannya kepadamu untuk menjadi milikmu; Akulah TUHAN." (Kel. 6:8). Tuhan mengutus Musa untuk memimpin umat itu " . . . keluar dari kesengsaraan di Mesir menuju .......... suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya" (Kel. 3:17).

Allah bermaksud agar umat-Nya akan memasuki Negeri Perjanjian itu dan menjadi suatu bangsa yang berbeda dengan bangsa-bangsa di sekelilingnya. Mereka akan menunjukkan iman mereka kepada Allah dengan ketaatan yang penuh syukur. Kepatuhan kepada hukum-hukum Allah akan menjamin keberhasilan mereka, "Maka dengarlah, hai orang Israel! Lakukanlah itu dengan setia, supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak . . . " (Ul. 6:3).

Allah telah memilih orang Israel untuk menjadi saksi-Nya di Negeri Perjanjian itu. Mereka akan memperlihatkan iman para bapak leluhur, yang telah berhasil menghadapi bangsa-bangsa di sekitar mereka. Umat pilihan Allah akan menyemarakkan negeri yang terpilih itu. Inilah janji ketiga Allah kepada Abraham bahwa oleh dia dan keturunannya semua bangsa akan mendapat berkat (Kej. 12:3).

Kemungkinan-kemungkinan Israel di Negeri Perjanjian itu - masa depannya - bergantung pada dua hal: penggunaan negeri itu secara bertanggung jawab dan ketaatan yang setia kepada ketetapan-ketetapan Perjanjian dengan Allah. Tuhan menantikan hari itu ketika kepatuhan Israel kepada hukum-hukum Tuhan akan menyebabkan segala bangsa berkata, " . . . Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi" (Ul. 4:6).

LUASNYA NEGERI PERJANJIAN

Kita tidak tahu batas-batas yang tepat dari Negeri Perjanjian. Tuhan menyatakan kepada Abraham bahwa ia dan keturunannya akan menerima negeri Kanaan, tetapi pada mulanya Ia menjanjikan daerah yang jauh lebih besar kepada mereka. Ketika gembala-gembala Lot dan Abraham bertengkar mengenai tanah, dengan bijaksana Abraham menawarkan kepada Lot, keponakannya, untuk lebih dahulu memilih daerah yang akan ditempatinya. Lot memutuskan untuk menetap di bagian timur, di Lembah YOrdan yang banyak airnya. Pada saat itu Tuhan berfirman kepada Abraham, "Pandanglah sekelilingmu dan lihatlah dari tempat engkau berdiri itu ke timur dan barat, utara dan selatan, sebab seluruh negeri yang kaulihat itu akan Kuberikan kepadamu dan kepada keturunanmu untuk selama-lamanya" (Kej. 13:14-15). Garis-garis batasnya tidak ditetapkan, meskipun jelas daerah Abraham berakhir di mana kawanan ternak Lot makan rumput.

Tuhan menjadikan "negeri perjanjian" itu sebagian dari perjanjian-Nya dengan Abraham. "Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran" (Kej. 15:6). Sebagai balasan, Tuhan berjanji dengan sungguh-sungguh untuk memberikan kepada keturunannya negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat" (Kej. 15:18 ).

Beberapa ratus tahun kemudian, ketika Musa mengingatkan orang Israel akan janji itu, ia menjelaskan batas-batas Negeri Perjanjian: Araba- Yordan, Pegunungan, Daerah Bukit (Shepela), dan Tanah Negeb, dan dataran tepi pantai dekat Laut Tengah, dari batas selatan Kanaan terus ke gunung Libanon sampai Efrat, sungai besar itu (Ul. 1:7).

Pada waktu ini orang Israel sudah mendiami daerah Transyordan. Tuhan mengizinkan suku Ruben dan Gad, dan juga sebagian suku Manasye, menetap di tanah orang Amori yang baru diduduki di sebelah timur Sungai Yordan (Bil. 21:21 -- 35:32). Daerah ini memperluas batas-batas Negeri Perjanjian lebih jauh lagi. Akan tetapi, Musa masih belum menetapkan batas timur yang pasti.

Tuhan memerintah Yosua untuk merebut seluruh daerah yang telah ditentukan oleh Musa, "Dari padang gurun dan gunung Libanon sebelah sana itu sampai ke sungai besar, yakni sungai Efrat, seluruh tanah orang Het, sampai ke Laut Besar di sebelah matahari terbenam semuanya itu akan menjadi daerahmu" (Yos. 1:4). Akan tetapi, selama penaklukan Kanaan orang Israel gagal merebut seluruh daerah yang telah dijanjikan kepada mereka, sebagian karena mereka tidak setia kepada Allah. Allah menghukum orang Israel dengan menahan mereka untuk mencapai kemenangan sempurna. " ... Aku bersumpah dalam murka-Ku, 'Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku'" (Mzm. 95:11). Tiap suku kekurangan sebagian dari warisannya.

USAHA-USAHA UNTUK MEMPERLUAS DAERAH

Selama waktu para hakim, Israel berusaha untuk memperluas daerah suku- sukunya, namun tak berhasil. Bahkan Saul, raja yang pertama tidak cukup berkuasa untuk mengusir atau menaklukkan bangsa-bangsa lain.

Akan tetapi, Allah mengizinkan pengganti Saul, Raja Daud untuk menguasai tanah perjanjian kecuali "tanah orang Het" (bdg. Yos 1:4). Daud adalah seorang "yang berkenan di hati Allah." Oleh sebab ia menghormati Tuhan dalam tugas-tugas militernya, maka Tuhan mengaruniakan kemenangan kepadanya atas orang Amon, orang Moab, dan orang Edom di bagian timur, atas orang Filistin di bagian barat, dan atas gerombolan-gerombolan perampok yang hidup mengembara di bagian selatan. Sebenarnya, penaklukannya mencapai hampir ke Sungai Efrat, ke utara sejauh kota Hamat (2Sam. 8)

Salomo mewarisi kerajaan yang berada pada puncak kekuasaannya. "Sebab ia berkuasa atas seluruh tanah di sebelah sini sungai Efrat, mulai dari Tifsah sampai ke Gaza, dan atas semua raja disebelah sini sungai Efrat; ia dikaruniai damai di seluruh negerinya" (1Raj. 4:24). Tetapi sejak bagian akhir pemerintahan Salomo, keadaan bangsa Israel terus- menerus bertambah buruk. Mula-mula, kerajaan itu terbagi menjadi dua bangsa: Israel dan Yehuda. Perang merusak kedua kerajaan ini sampai musuh-musuh mereka memaksa mereka keluar negeri itu.

KESUBURAN NEGERI

Seorang dari dataran subur di Amerika yang berwisata ke Palestina mungkin bertanya-tanya dalam hati apakah Musa sedang berpikiran sehat ketika ia menggambarkan keadaan Negeri Perjanjian sebagai . . . negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung; suatu negeri dengan gandum dan jelainya, dengan pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madunya; suatu negeri di mana engkau akan makan roti dengan tidak usah berhemat, di mana engkau tidak akan kekurangan apa pun (Ul. 8:7-9). Akan tetapi, perkataan Musa itu ditujukan kepada orang-orang yang baru melewatkan 40 tahun di padang gurun! Para pionir Amerika yang paling awal, yang menyeberangi padang gurun ke daerah dataran pantai California, mungkin menemukan berbagai keadaan tanah dan perbedaan geografis yang serupa. Negeri Perjanjian mempunyai kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas dibandingkan dengan daerah kering dan gundul dari Sinai, Negeb, dan Araba.

Bagaimanapun, Negeri Perjanjian itu bukan Taman Eden. Orang Israel mungkin telah membayangkan lembah-lembah tak berujung penuh hasil bumi dan lereng-lereng bukit yang diperindah oleh berbagai jenis rumput, tumbuhan, dan bunga; tetapi bukan itu yang mereka temukan. Tanaman berduri dan onak meliputi tanah yang berbatu-batu. Selama bulan-bulan musim panas warna coklat kemerah-merahan yang pudar di lereng-lereng menunjukkan tumbuh-tumbuhan yang kering. Namun, tanah itu amat subur dibandingkan dengan padang gurun di sekitarnya.

Negeri Perjanjian itu menawarkan kesempatan-kesempatan baik untuk mendapat penghasilan dengan airnya dan tanahnya yang dapat diolah dan ditanami. Akan tetapi, orang Israel mendapati bahwa tidak mudah untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan tersebut. Mereka harus menjinakkan tanah itu. Petani Israel harus menghadapi batu-batu, tumbuhan berduri, dan onak. Ia takut terhadap matahari yang menghanguskan semaian yang baru tumbuh, yang akarnya belum cukup dalam untuk mendapatkan air dari dalam tanah. Ia belajar untuk bergantung pada Tuhan " .. . yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar" (Mat. 5:45).

Dengan baik Yesus menggambarkan keadaan para petani ketika menceritakan perumpamaan-Nya tentang seorang penabur. Penabur itu menyebarkan benih itu ke seluruh ladang, tetapi hanya benih yang "jatuh di tanah yang baik" yang menghasilkan panen. Benih jatuh di tanah yang berbatu-batu dan di antara semak duri dan tidak lama kemudian mati (Mat. 13:3-8).

Apa yang dapat dikerjakan orang Israel dengan tanah itu sepenuhnya bergantung pada hubungan mereka dengan Tuhan. Ia telah berjanji akan memberkati mereka secara materiel apabila mereka patuh "TUHAN akan membuka bagimu perbendaharaan-Nya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada dan memberkati segala pekerjaanmu . . . " (Ul. 28:12). Akan tetapi ketidakpatuhan akan mendatangkan hukuman secara materiel, .. "Tetapi jika engkau tidak mendengarkan TUHAN, Allahmu .... yang di atas kepalamu akan menjadi tembaga dan tanah di bawah pun menjadi besi. TUHAN akan menurunkan hujan abu dan debu ke atas negerimu" (Ul. 28:15a, 23-24). "Banyak benih yang akan kau bawa ke ladang, tetapi sedikit hasil yang akan kau kumpulkan, sebab belalang akan menghabiskannya. Kebun-kebun anggur akan kau buat dan kau usahakan, tetapi engkau tidak akan meminum atau menyimpan anggur, sebab ulat akan memakannya" (Ul. 28:38-39) Apabila orang Israel tidak mematuhi Tuhan, mereka akan kehilangan negeri yang telah dijanjikan Tuhan kepada mereka, " ... kamu akan dicabut dari tanah, ke mana engkau pergi untuk mendudukinya. (Ul. 28:63b). Sayang sekali, hal itulah yang terjadi.

TANAH

Ketika Israel mula-mula menduduki negeri itu, mereka mendiami daerah perbukitan dekat jajaran pegunungan tengah di Kanaan. Para petani Israel harus belajar bagaimana mencari penghidupan dari bukit-bukit itu, yang sebagian besarnya terdiri dari batu gamping. Meskipun batu gamping dengan lambat sekali menjadi rusak dan hancur sehingga menjadi tanah, tanah itu amat subur.

Hujan dengan mudah sekali menghanyutkan tanah lereng bukit yang subur melalui anak-anak sungai ke lembah-lembah yang letaknya lebih rendah. Untuk mencegah erosi, para petani menanam pohon buah dan tumbuhan yang merambat atau membuat teras-teras.

Teras-teras banyak sekali terdapat di daerah perbukitan. Kadang-kadang lapisan batu gamping tak kunjung hancur dan membentuk sebuah tembok alami. Tembok ini akan menahan tanah yang kemerah-merahan itu sehingga petani dapat menanam gandum, jelai, tumbuhan polong, dan sayur- sayuran, di samping pohon-pohon buah dan pokok anggur. Bila tidak ada tembok alami, petani harus membersihkan daerah itu dari batu-batu yang selalu ada dan kemudian memakai batu-batu itu untuk membangun tembok di bagian yang lebih rendah dari bukit itu.

Palestina juga penuh dengan kebun anggur, dan penulis-penulis Alkitab sering kali menyebutkannya secara simbolis, seperti yang dilakukan Nabi Yesaya, " ... Kekasihku itu mempunyai kebun anggur di lereng bukit yang subur. Ia mencangkulnya dan membuang batu-batunya, dan menanaminya dengan pokok anggur pilihan ... " (Yes. 5:1, 2). Dalam ayat-ayat ini, Allah adalah pemilik kebun anggur Israel. Pekerjaan mempersiapkan kebun anggur itu menggambarkan kasih dan kepedulian Allah terhadap Israel. Namun, Israel tidak menghasilkan panen kebenaran yang diinginkan-Nya.

Para petani menanam pohon-pohon buah, pokok anggur, dan berbagai jenis biji-bijian di bukit-bukit yang rendah letaknya, di Shepela, dengan mudah hancur dan bercampur dengan zat-zat organik. Para petani dapat mencangkul tanah ini lebih dalam dan tanahnya ini kurang oleh hujan.

Taxonomy upgrade extras: 

PPB-Referensi 02c

Nama Kursus : PENGANTAR PERJANJIAN BARU
Nama Pelajaran : Bait Suci
Kode Pelajaran : PPB-R02c

Referensi PPB-02c diambil dari:

Judul Buku : Survei Perjanjian Baru
Pengarang : Merrill C. Tenney
Penerbit : Gandum Mas, Malang, 2000
Halaman : 110 - 116

REFERENSI PELAJARAN 02c - LATAR BELAKANG AGAMA DUNIA PB

BAIT SUCI

Bait Suci yang dibangun Salomo sudah hancur ketika Yerusalem dirampas dan dibakar oleh pasukan Nebukadnezar dalam tahun 586 SM. Bait Suci yang kedua, mulai dibangun pada tahun 537 SM, dan setelah beberapa kali tertunda selesai pada tahun 516 SM (Ezra 6:13-15). Nabi Hagai dan Zakharia banyak menulis mengenai pertobatan dan pembangunan kembali bait suci.

Tidak banyak yang diketahui mengenai sejarah bait suci. Pada tahun 168 SM Antiokhus Epifanes merampok dan menajiskannya dengan membangun sebuah altar bagi dewa Zeus Olimpias, serta mempersembahkan kurban baginya. Tiga tahun kemudian Yudas Makabe membersihkan dan memperbaikinya kembali. Bangunan ini masih berdiri tegak ketika Pompeius mengalahkan Yerusalem pada tahun 63 SM, dan Crassus merampok isinya pada tahun 54 SM. Ketika Herodes Agung merebut kota itu pada tahun 37 SM, sebagian bangunan bait suci terbakar, tetapi nampaknya bangunan utamanya tidak banyak mengalami kerusakan.

Namun, pada tahun kedelapan belas dari masa pemerintahannya (2019 SM), Herodes Agung melakukan pembangunan kembali bait suci itu. Sebelum pembongkaran dan pembangunan yang sesungguhnya dilaksanakan ia mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan terlebih dahulu, dan melaksanakan pembangunan sedikit demi sedikit agar sesedikit mungkin mengganggu jalannya kebaktian. Pekerjaan itu dilakukan oleh para imam. Tempat kudusnya sudah selesai dalam waktu satu setengah tahun, tetapi bangunan luar dan serambinya baru selesai sekitar tahun 62 atau 63. Ketika para musuh Yesus mengatakan bahwa bait suci sudah dibangun selama empat puluh enam tahun, mereka menyiratkan bahwa pembangunan itu masih terus berlangsung (Yohanes 2:20).

Bangunan itu sendiri terbuat dari pualam putih dan sebagian daripadanya dilapisi oleh emas yang memantulkan sinar matahari dan menimbulkan pemandangan yang menakjubkan. Pelataran bait suci berbentuk empat persegi panjang dengan lebar sekitar 585 kaki dari timur ke barat dan panjang 610 kaki dari utara ke selatan. Di sepanjang dinding sebelah dalam pelataran ini terdapat serambi dengan barisan pilar rangkap dua di sebelah selatannya. Serambi sebelah timur dikenal sebagai serambi Salomo (Yohanes 10:23; Kisah 3:11; 5:12) karena konon bangunan inilah yang tersisa dari bait suci yang dibangun Salomo. Ruangan kantor terletak di sepanjang dinding ini atau di antara beranda-beranda.

Pelataran sebelah luar dikenal sebagai pelataran orang kafir. Tidak ada larangan untuk memasukinya, dan ada kalanya pelataran ini digunakan sebagai pasar. Melintang di sebelah utara pelataran ini adalah bangunan utama bait suci yang terdiri dari pelataran dalam dan bangunan-bangunannya. Sisi sebelah timur adalah pelataran wanita dan tepi sebelah barat diperuntukkan bagi kaum pria Israel dan terlarang bagi kaum wanita. Di tengah-tengah pelataran pria terdapat pelataran imam, dan di tengah-tengahnya adalah altar kurban bakaran. Pelataran dalam dibangun lebih tinggi daripada pelataran luar. Di antara kedua pelataran itu, di tepi pelataran dalam, terdapat sebuah jembatan batu yang bertuliskan larangan masuk bagi orang kafir dengan ancaman hukuman mati. Dinding ini mempunyai sembilan buah gerbang, empat di sebelah utara, empat di sebelah selatan dan satu lagi, mungkin yang disebut Gerbang Indah dalam Kisah Para Rasul pasal 3.

Bagian daerah kudus lebih tinggi dari pelataran dalam dan dapat dicapai melalui kedua belas anak tangga. Pembagian tempatnya sama dengan pembagian di dalam kemah suci: Tempat Kudus panjangnya sekitar enam puluh kaki dan terletak di sebelah timur. Tempat Mahakudus panjangnya tiga puluh kaki. Di dalam Tempat Kudus meja roti persembahan terletak di sisi utaranya, kandelar bercabang tujuh di sebelah selatannya, serta altar dupa di antara keduanya. Hanya imam yang diperkenankan memasuki Tempat Kudus. Tempat Mahakudus dibiarkan kosong karena tabut sudah hilang ketika Bait Suci Salomo dihancurkan. Imam besar masuk ke Tempat Mahakudus setahun sekali pada Hari Pendamaian, untuk menyilih dosa umatnya dengan darah. Tempat Mahakudus dipisahkan dengan Tempat Kudus dengan dua lapis tirai tebal, hingga tidak ada orang yang dapat mengintip ke dalam daerah kudus ini. Di sebelah luar daerah kudus terdapat bangunan berlantai tiga berisi ruangan-ruangan kecil yang dihubungkan dengan tangga, untuk tempat tinggal para imam atau menyimpan barang-barang.

Di dalam pelataran imam, di sebelah timur altar, terdapat sebuah altar kurban bakaran yang besar, yang luasnya sekitar delapan belas kaki persegi dan tingginya lima belas kaki. Di atas altar ini selalu terdapat api dan setiap hari selalu diadakan upacara kurban hewan.

Hanya imam yang boleh masuk ke dalam pelataran imam, kecuali mereka yang membawa hewan untuk dikurbankan karena mereka harus meletakkan tangannya di atas kurban itu sebelum disembelih.

Orang Yahudi diizinkan oleh pemerintah Romawi untuk memiliki angkatan kepolisian khusus untuk menjaga keamanan di dalam Bait Allah. Kepala pasukannya disebut strategos atau "kepala pengawal Bait Allah" (Kisah 4:1; 5:24-26). Mungkin kelompok prajurit yang menangkap Yesus adalah suatu pasukan dari kepolisian ini dan bukan tentara Romawi. Mereka juga ditugasi untuk menangkap dan mengamankan Petrus dan Yohanes ketika mereka ditahan karena berkhotbah, mungkiq di dalam Bait Allah. Para pengawal menjaga Bait Allah setiap hari agar yang tidak berkepentingan tidak dapat memasuki daerah terlarang. Pada waktu malam pintu- pintu gerbang ditutup dan dijaga untuk mencegah kedatangan pencuri.

Bait Allah adalah pusat peribadatan di Yerusalem. Yesus sendiri dan kemudian para rasulnya mengajar dan berkhotbah di dalam pelatarannya. Hingga tahun 56 masih ada sebagian anggota gereja di Yerusalem yang benazar di dalam Bait Allah (Kisah 21:23-26) dan yang menjalankan peraturan-peraturan dengan ketat. Pengaruhnya terhadap agama Kristen makin berkurang sejalan dengan makin berkembangnya kekristenan orang bukan Yahudi.

SINAGOGE

Seperti telah disebutkan terdahulu sinagoge mempunyai peranan besar dalam pertumbuhan dan kelestarian Yudaisme. Orang-orang Yahudi Perserakan mendirikan sinagoge-sinagoge di setiap kota di seluruh negara Romawi di mana ada cukup orang Yahudi untuk menghadirinya, dan sinagoge-sinagoge bangsa asing tumbuh subur di Yerusalem. Galilea yang pada masa Makabe sebagian besar penduduknya adalah bangsa asing (1Makabe 5:21-23), sudah dipenuhi oleh sinagoge-sinagoge pada zaman Kristus. Sinagoge berfungsi sebagai balai sosial di mana penduduk Yahudi di kota yang bersangkutan berkumpul setiap minggu untuk saling berhandai- handai. Ia adalah media pendidikan untuk mendidik masyarakat dalam hukum agama dan memperkenalkan anak-anak mereka pada kepercayaan nenek moyangnya. Ia menggantikan kebaktian -- di Bait Allah yang tidak mungkin dilakukan karena jarak yang jauh atau ketiadaan biaya. Dalam sinagoge penyelidikan hukum menggantikan upacara kurban, rabi menggantikan imam, dan kepercayaan kelompok diterapkan pada kehidupan perorangan.

Setiap sinagoge dipimpin oleh seorang "kepala rumah ibadat" (Markus 5:22), yang mungkin diangkat dari antara para penatua berdasarkan pemungutan suara. Kepala rumah ibadat ini memimpin kebaktian, menjadi penengah dalam suatu perkara (Lukas 13:14), dan memperkenalkan pengunjung pada jemaat (Kisah 13:15). Penjaga sinagoge, atau hazzan, harus menjaga harta sinagoge dan bertanggung jawab atas pemeliharaan bangunan beserta isinya. Salah satu tugasnya adalah pada Jumat sore memberitahukan pada penduduk desa saat dimulainya hari Sabat dan waktu penutupannya. Mungkin dialah pejabat yang disebutkan dalam Lukas 4:20, yang memberikan gulungan Kitab Suci kepada Yesus ketika Ia hendak berkhotbah di dalam sinagoge di Nazaret, dan mengembalikan kembali kitab itu ke tempatnya setelah Yesus selesai membacanya. Ada kalanya hazzan menjadi guru di sekolah sinagoge setempat.

Pada umumnya sinagoge berupa bangunan batu yang kokoh dan ada pula yang dibangun dengan mewah bila jemaat atau para pendukungnya adalah orang-orang kaya. Setiap sinagoge mempunyai sebuah almari tempat menyimpan gulungan kitab Taurat, sebuah podium dengan sebuah meja untuk meletakkan Kitab Suci yang akan dibacakan untuk hari itu, lampu untuk menerangi ruangan, dan bangku atau kursi tempat duduk jemaat. Banyak peralatan dalam sinagoge kuno yang masih dapat dilihat dalam sinagoge-sinagoge dewasa ini.

Kebaktian sinagoge meliputi pengakuan iman Yahudi atau Shema, "Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu" (Ulangan 6:4, 5), diikuti dengan kalimat puji-pujian kepada Allah yang disebut Berakot karena selalu diawali dengan kata "Diberkatilah." Setelah Shema, dilanjutkan dengan pembacaan doa, ditutup dengan kesempatan bagi anggota jemaat untuk mengucapkan doa pribadinya di dalam hati. Pembacaan Kitab Suci yang dilakukan kemudian, pada awalnya diambil dari kitab Taurat yang bertalian dengan hari-hari kudus tertentu; tetapi kemudian seluruh Pentateukh dibagi-bagi menjadi seratus lima puluh empat pelajaran yang harus dibacakan secara berurutan. Orang-orang Yahudi Palestina akan menghabiskan seluruh Pentateukh dalam waktu tiga tahun, sedang orang- orang Yahudi Babilonia menyelesaikannya dalam satu tahun. Kitab Nabi- nabi juga digunakan, seperti ketika Yesus membacanya di dalam sinagoge (Lukas 4:16-19). Mungkin saat itu Yesus sendirilah yang memilih bacaan-Nya. Menyusul pembacaan Kitab Suci adalah khotbah, yang menjelaskan bagian yang baru saja dibaca. Khotbah dalam sinagoge di Yerusalem sangat ketat mengikuti prosedur yang berlaku pada masa itu. Kebaktian diakhiri dengan pemberian berkat, yang diucapkan oleh anggota jemaat yang dianggap imam. Bila tidak ada di antara jemaat yang pantas memberi berkat, sebagai gantinya diucapkan sebuah doa. Pengaruh kebaktian sinagoge pada bentuk dan tata cara beribadah gereja pada abad yang pertama sangat jelas terlihat. Yesus sendiri menghadiri dan turut mengambil bagian dalam kebaktian sinagoge secara teratur. Dalam perjalanan kerasulannya, Paulus selalu menjadikan sinagoge - sinagoge Perserakan sebagai tujuan pertamanya setiap kali ia memasuki suatu kota asing, dan dia mengajar serta bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan umat asing yang berkumpul untuk mendengarkan dia (Kisah 13:5, 15-43; 14:1; 17:1-3, 10, 17; 18:4, 8; 19:8). Banyaknya kemiripan di antara prosedur upacara di dalam sinagoge dan di dalam gereja pada kenyataannya memang karena gereja menyerap atau mengikuti prosedur sinagoge hingga batas tertentu. Mungkin sebagian umat Kristen yang pertama tetap menjalankan ibadatnya dalam sinagoge, bahkan mereka masih mengunjungi Bait Allah misalnya pada "waktu sembahyang" (Kisah 3:1). Suatu kemungkinan dari kecenderungan ini tercermin dalam Yakobus 2:1, 2 (meskipun kata Yunani synagoge dapat diartikan sebagai pertemuan umat Kristen, seperti dalam Ibrani 10:25, di mana episynagoge pada dasarnya mempunyai arti yang sama). Karena orang Yahudi tetap menolak Injil Kristus dengan tegas dan kukuh, maka hubungan sinagoge dan gereja menjadi putus. Dewasa ini keduanya sudah sama sekali terpisah dan dalam banyak hal saling bertentangan. Namun, dalam penggunaan Kitab Suci sebagai bacaan dan bahan wejangan serta khotbah, keduanya masih menunjukkan hubungan yang erat.

Taxonomy upgrade extras: 

PPB-Referensi 03a

Nama Kursus : PENGANTAR PERJANJIAN BARU
Nama Pelajaran : Kanon dan Kitab-kitab PB
Kode Pelajaran : PPB-R03a

Referensi PPB-03a diambil dari:

Judul Buku : Dokumen-dokumen Perjanjian Baru
Pengarang : F.F. Bruce
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1993
Halaman : 17 - 24

REFERENSI PELAJARAN 03a - PERMULAAN DARI SEAGALANYA

KANON PERJANJIAN BARU

TENTANG masing-masing kitab Perjanjian Baru sudah didapatkan kesimpulan. Namun masih ada pertanyaan lain : bagaimana Perjanjian Baru itu sendiri sebagai kumpulan tulisan telah terjadi? Siapa yang mengumpulkan tulisan-tulisan itu dan atas dasar apa? Lingkungan macam apa yang mendorong penyusunan suatu daftar, atau kanon, dari kitab- kitab yang berwibawa?

Biasanya iman Kristen yang historis mengatakan bahwa Roh Kudus yang memimpin penulis masing-masing kitab, Dia juga yang memimpin seleksi dan pengumpulannya, jadi melanjutkan pemenuhan janji Tuhan bahwa Ia akan memimpin murid-murid-Nya dalam segala kebenaran. Bagaimana pun juga, ini merupakan sesuatu yang harus disingkapkan oleh penglihatan rohani, dan bukan oleh penelitian historis. Sasaran kita adalah menemukan apa yang diungkapkan penelitian historis tentang asal-usul kanon PB. Ada yang akan mengatakan kepada kita bahwa kita menerima ke 27 kitab PB berdasarkan kewibawaan Gereja. Seandainya pun demikian, bagaimana Gereja sampai mengakui kewibawaan ke 27 buku ini dan bukan yang lain, sebagai kitab-kitab yang pengilhaman dan kewibawaannya setingkat dengan kanon PL?

Daftar buku yang tertua dari Perjanjian Baru yang kita ketahui dengan pasti, disusun di Roma oleh seorang bidat, Marcion, tahun 140. Marcion membedakan Allah Perjanjian Lama yang lebih rendah dari Allah dan Bapa yang dinyatakan dalam Kristus. Oleh karena itu menurut setiap "anti Semitisme teologis" ini Perjanjian Lama harus ditolak dan juga bagian- bagian Perjanjian Baru yang dipengaruhi oleh Yudaisme. Dengan demikian kanon Marcion terdiri dari dua bagian : (a) Kitab Injil Lukas yang telah dimurnikan dan yang paling sedikit mengandung Yudaisme, karena Lukas adalah seorang bukan Yahudi; (b) Sepuluh surat Paulus (ketiga "Surat Penggembalaan" tidak dimuat). Tetapi daftar Marcion tidak mencerminkan ketetapan Gereja yang berlaku, melainkan penyimpangan dengan sengaja dari ketetapan itu.

Daftar lain yang lebih muda, juga berasal dari Roma, dari akhir abad II, yang biasa disebut "Fragmen Muratori", karena diterbitkan pertama kalinya tahun 1740 oleh antikuaris Kardinal L.A. Muratori. Sayangnya fragmen ini sudah rusak sejak permulaan, tetapi dengan terang menyebut Matius dan Markus, sebab ia mengacu kepada Lukas sebagai kitab Injil ketiga. Selanjutnya disebut Yohanes, Kisah Para Rasul, sembilan surat Paulus ke jemaat-jemaat dan empat kepada perorangan (Filemon, Titus, I dan II Timotius), (1) dua surat dari Yohanes, (2) Wahyu Yohanes dan Wahyu Petrus (ini adalah kitab apokrif). Kitab Gembala dari Hermas disebut sebagai layak untuk dibaca dalam jemaat, tetapi tidak dimasukkan ke dalam daftar tulisan-tulisan nabiah ataupun rasuli.

Langkah-langkah pertama yang menuju pembentukan Kanon kitab-kitab Kristen yang berwibawa sehingga ini layak ditempatkan di samping Kanon Perjanjian Lama, adalah Alkitab Tuhan kita dan para rasul-Nya, nampaknya diambil sekitar permulaan abad kedua. Ini berdasarkan adanya bukti tentang peredaran dua kumpulan tulisan Kristen di dalam Gereja.

Pada waktu yang amat dini keempat kitab Injil disatukan dalam satu kumpulan. Mereka pasti sudah dikumpulkan segera setelah Injil menurut Yohanes ditulis. Kumpulan empat kitab ini mula-mula dikenal sebagai "Injil" dalam bentuk tunggal, jadi bukan sebagai "Injil-injil" dalam bentuk jamak; Jadi yang ada hanyalah satu Injil, yang dituturkan dalam empat laporan, dibeda-bedakan dengan kata "menurut Matius", "menurut Markus", dan seterusnya. Sekitar tahun 115 M, Ignatius, uskup Antiokhia, mengacu kepada "Injil" sebagai tulisan yang berwibawa. Oleh karena ia mengenal lebih dari satu dari keempat "Injil", maka mungkin sekali meskipun tanpa dikatakan bahwa yang dimaksudkannya dengan "Injil" adalah kumpulan empat kitab yang sebutannya memang demikian.

Sekitar tahun 170 M. seorang Kristen dari Assiria bernama Tatianus membuat Injil rangkap empat itu menjadi satu cerita yang bersambung, atau "Harmoni Injil-injil". Ini lama menjadi bentuk yang digemari orang, malahan mungkin bentuk yang resmi dari kitab Injil rangkap empat dalam gereja Assiria. Ini berbeda dari empat kitab Injil versi Siria Kuno. Tidak dapat dipastikan apakah bahasa asli yang dipakai Tatianus dalam menyusun Harmonia, yang biasa dikenal sebagai Diatessaron, adalah bahasa Yunani atau Siria. Tetapi tempat penyusunannya kelihatannya Roma dan bahasa aslinya mungkin bahasa Yunani. Fragmen Diatessaron dari Tatianus yang berbahasa Yunani telah diketemukan pada tahun 1933 di Dura-Europos di daerah aliran sungai Efrat. Bagaimanapun juga, kitab itu telah diberikan kepada orang-orang Kristen Assiria dalam bentuk Siria waktu Tatianus pulang dari Roma, dan Diatessaron Siria ini tetap menjadi "Versi Resmi" dari keempat kitab Injil bagi mereka, sampai diganti dengan Peshitta atau versi yang sederhana pada abad kelima. Pada zaman Irenacus, yang meskipun lahir di Asia tetapi telah menjadi uskup di Lyons di Galia kira-kira tahun 180 M, gagasan kitab Injil rangkap empat telah sedemikian umum diakui di Gereja, hingga ia dapat menyebutnya sebagai hal yang tetap dan diakui sama terangnya dengan keempat arah utama pada kompas atau keempat mata angin.

"Seperti halnya ada empat bagian bumi yang kita huni dan ada empat mata angin, dan seperti halnya Gereja tersebar di seluruh muka bumi dan Injil adalah tiang dan dasar bagi Gereja dan adalah nafas hidup, maka wajarlah bila bumi mempunyai empat tiang, yang menghirup ketidak- fanaan dari keempat penjuru dan menyalakan hidup manusia secara baru. Oleh karena itu teranglah bahwa Sang Sabda yang adalah arsitek dari segala sesuatu, yang duduk di atas Kerubim dan menggenggam segala sesuatu, setelah Ia menyatakan diri kepada manusia, memberikan kepada kita Injil dalam bentuk rangkap empat, tetapi dijadikan satu oleh satu Roh."

Kalau keempat kitab Injil dijadikan satu dalam satu jilid maka hubungan antara kedua bagian dari karya sejarah Lukas dilepaskan. Jadi kalau Injil Lukas dan Kisah Para Rasul dipisahkan maka nampaknya ada satu atau dua modifikasi dilakukan ke dalam teks pada bagian akhir Lukas dan permulaan Kisah Para Rasul. Aslinya agaknya Lukas menempatkan segala cerita tentang kenaikan ke Sorga dalam tulisannya yang kedua. Jadi kata-kata "dan terangkat ke Sorga" ditambahkan dalam Luk 24:51, untuk mengakhiri ceritanya, dan sebagai konsekuensinya ungkapan "Ia terangkat" ditambahkan dalam Kisah 1:2. Beberapa orang telah menemukan bahwa antara kedua cerita tentang kenaikan ke Sorga dalam Injil Lukas dan Kisah Para Rasul kurang serasi. Hal ini sangat mungkin disebabkan oleh penyesuaian-penyesuaian waktu kedua kitab ini dipisahkan.

Bagaimanapun juga, Kisah Para Rasul dengan sendirinya kebagian kewibawaan dan kehormatan dari kitab Injil ketiga karena merupakan karya penulis yang sama, dan nampaknya juga diakui sebagai kanonik oleh semua orang kecuali oleh Marcion dan pengikut-pengikutnya. Tentu, Kisah Para Rasul mempunyai tempat yang penting sekali dalam kanon Perjanjian Baru karena merupakan kitab yang sentral, demikian kata Harnack. Sebab Kisah Para Rasul menghubungkan keempat kitab Injil dengan surat-surat, dan dengan ceritanya tentang pertobatan, panggilan dan pelayanan Paulus sebagai penginjil, ia menunjukkan dengan terang betapa nyatanya kewibawaan ramuli di belakang surat-surat Paulus itu.

Corpus Paulinum atau kumpulan tulisan-tulisan Paulus terkumpul kira- kira pada waktu yang sama dengan penghimpunan Injil rangkap empat itu. (3) Sama seperti kumpulan kitab-kitab Injil disebut Euanggelion, kumpulan dari tulisan Paulus disebut dengan satu kata Apostolos, dan tiap surat secara khusus disebut "kepada orang Roma", "Yang pertama kepada jemaat di Korintus", dan sebagainya. Segera surat kepada Orang Ibrani yang tanpa nama digandengkan dengan tulisan-tulisan Paulus. Kisah Para Rasul, untuk gampangnya, digandengkan dengan (surat-surat dari Petrus, Yakobus, Yohanes dan Yudas).

Hanya ada beberapa buku yang diragukan secara agak serius setelah pertengahan abad kedua, yaitu yang ada di akhir dalam deretan Perjanjian Baru kita. Origenes (185-254) menyebut keempat kitab Injil, Kisah Para Rasul, ketiga belas surat Paulus, I Petrus, I Yohanes dan Wahyu sebagai yang diakui semua jemaat; ia berkata bahwa Ibrani, II Petrus, II dan III Yohanes, Yakobus dan Yudas bersama dengan "surat Barnabas", Gembala Hermas, Didache dan "Injil menurut orang-orang Ibrani", disanggah oleh beberapa orang. Eusebius (± 265-340) menyebut seluruh kitab dalam Perjanjian Baru kita sekarang sebagai yang diakui semua orang, kecuali Yakobus, Yudas, II Petrus, II & III Yohanes yang disanggah oleh sejumlah orang tetapi mayoritas mengakuinya. (Eusebius sendiri mestinya menolak kitab Apokaliptik (Wahyu), karena ia tidak menyukai millenarianismenya). Athanasius pada tahun 367 mengatakan bahwa pada kedua puluh tujuh kitab Perjanjian Baru kita seperti yang ada itulah kanonik; lama sesudah itu Hironymus dan Agustinus mengikuti teladannya di Barat. Proses di kawasan yang lebih jauh ke Timur agak lebih lama; baru ± tahun 508 II Petrus, II dan III Yohanes, Yudas dan Wahyu dimasukkan ke dalam terjemahan Alkitab Siria sebagai tambahan atas kedua puluh dua kitab lainnya.

Berdasarkan pelbagai alasan maka bagi gereja perlu untuk mengetahui dengan pasti kitab-kitab manakah yang berwibawa ilahi. Kitab-kitab Injil yang menceritakan "segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus," tidak dapat dianggap mempunyai wibawa yang lebih rendah daripada kitab-kitab Perjanjian Lama. Dan ajaran para rasul dalam Kisah Para Rasul dan surat-surat dianggap sebagai yang berkenaan dengan kewibawaan-Nya juga. Jadi wajarlah bila kepada tulisan-tulisan para rasul Perjanjian Baru diberi kehormatan yang sama seperti yang telah diberikan kepada tulisan-tulisan para nabi Perjanjian Lama. Demikianlah Yustinus Martyr, kira-kira tahun 150 M, menggolongkan "catatan- catatan para Rasul" setaraf dengan tulisan-tulisan para nabi, dan bahwa kedua- duanya dibaca dalam pertemuan-pertemuan orang Kristen (Apologia 1:67). Sebab meskipun telah berpisah dengan Yudaisme, gereja tidak mengingkari wibawa Perjanjian Lama, tetapi -- mengikuti teladan Kristus dan Rasul-rasul-Nya -- menerimanya sebagai Firman Allah. Memang Septuaginta sangat mereka akui sebagai milik mereka, meskipun semula adalah terjemahan dalam bahasa Yunani dari kitab- kitab Ibrani bagi orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani sebelum zaman Kristus. Sehingga orang-orang Yahudi meninggalkan Septuaginta bagi orang Kristen dan membuat terjemahan yang baru dalam bahasa Yunani dari Perjanjian Lama bagi orang Yahudi yang berbahasa Yunani.

Terutama penting sekali untuk mengetahui kitab-kitab mana yang dapat dipakai untuk menyusun ajaran Kristen dan yang dapat dijadikan pegangan yang kuat dalam berbicara dengan para bidat. Teristimewa ketika Marcion telah menyusun kanonnya kira-kira tahun 140 M, maka bagi gereja-gereja yang Ortodoks perlu sekali untuk dengan persis mengetahui manakah kanon yang benar, dan ini membantu memacu proses yang telah mulai. Bagaimanapun juga, kelirulah berbicara atau menulis seakan-akan gereja baru mulai menyusun kanon setelah Marcion menerbitkan kanonnya.

Keadaan-keadaan lain yang memerlukan definisi yang terang tentang kitab-kitab mana yang mempunyai kewibawaan ilahi ialah perlunya ditetapkan kitab-kitab yang mana yang harus dibaca dalam kebaktian- kebaktian Gereja (memang ada buku-buku yang tertentu yang tepat dipakai untuk tujuan ini, tetapi tidak dapat dipakai untuk memecahkan persoalan-persoalan mengenai ajaran). Keadaan lain ialah perlunya mengetahui kitab-kitab mana yang dapat atau tidak dapat diberikan kepada polisi kekaisar kalau diminta pada masa penghambatan tanpa menimbulkan rasa bersalah karena mencemarkan yang suci.

Satu hal harus sungguh-sungguh ditekankan. Kitab-kitab Perjanjian Baru tidak menjadi berwibawa bagi Gereja sebab secara formal telah ada dalam daftar yang kanonik; tetapi sebaliknya, Gereja memasukkannya dalam kanonnya karena menganggapnya diilhamkan Allah, sebab Gereja mengetahui nilainya yang dalam dan langsung atau tidak langsung Gereja juga melihat kewibawaannya dari para rasul. Konsili-konsili gerejawi yang pertama yang mendaftarkan kitab-kitab yang kanonik ada dua, kedua-duanya di Afrika Utara - di Hippo Regius tahun 393 dan Karthago tahun 397. Tetapi yang dikerjakan konsili-konsili ini bukan mendesakkan sesuatu yang baru kepada gereja-gereja, melainkan menyusun daftar dari apa yang telah umum digunakan -- gereja-gereja.

Ada banyak persoalan teologis yang timbul dari sejarah kanon yang tidak dapat kita bicarakan di sini; tetapi untuk menunjukkan dengan mudah bahwa pemilihan Gereja adalah tepat, orang dapat membandingkan kitab-kitab Perjanjian Baru kita dengan beraneka ragam dokumen yang dikumpulkan oleh M.R. James dalam bukunya Apocryphal New Testament (1924), atau juga dengan tulisan-tulisan Bapa-bapa Rasuli dan akan disadari keunggulan Perjanjian Baru kita atas buku-buku yang lain.

Sedikit perlu ditambahkan tentang "Injil menurut orang-orang Ibrani" yang, seperti dikatakan di atas, didaftarkan oleh Origenes sebagai satu di antara buku-buku yang diperdebatkan oleh beberapa orang pada zamannya. Buku ini, yang beredar di Transjordan dan Mesir di antara kelompok-kelompok orang Yahudi- Kristen yang disebut orang Ebionit, memiliki sejumlah kemiripan dengan Injil Matius yang kanonik. Mungkin itu adalah saduran yang berdiri sendiri dari suatu dokumen berbahasa Aram yang ada hubungannya dengan Matius yang kanonik. Ia dikenal oleh beberapa Bapa-bapa Kristen yang dulu, dalam terjemahan bahasa Yunani.

Hieronymus (347 - 420) memandang Injil menurut orang Ibrani" ini sama dengan kitab yang ditemukan di Siria, yang disebut Injil orang-orang Nasaren, yang semula dikira - tetapi ini keliru sebagai Injil Matius yang asli dalam bahasa Ibrani (atau Aram). Mungkin juga ia dengan keliru menyamakan ini dengan Injil menurut orang-orang Ibrani. Injil Nasarene yang diketemukan Hieronymus (yang diterjemahkan dalam bahasa Yunani dan Latin) mungkin hanya terjemahan dalam bahasa Aram dari Matius berbahasa Yunani yang kanonik. Bagaimanapun juga Injil menurut orang Ibrani dan Injil orang Nasarene kedua-duanya mempunyai hubungan dengan Injil Matius dan harus dibedakan dari setumpukan Injil-injil apokrif yang juga beredar pada zaman itu, dan yang tidak ada pengaruhnya bagi studi historis kita ini. Buku-buku ini sama dengan kitab "Kisah Para Rasul" yang apokrif dan tulisan-tulisan serupa. Isinya hampir dongeng melulu. Hanya satu buku di antara "Kisah Para Rasul" yang apokrif yang namanya "Kisah Paulus", yang meskipun diakui sebagai dongeng dari abad kedua, menarik sebab di dalamnya ada potret diri Paulus. Sifat tulisan ini tegas dan tidak biasa waktu itu. Oleh karena itu Sir William Ramsay mengira bahwa itu mewujudkan suatu tradisi dari penampakan rasul seperti tersimpan di Asia kecil. Paulus dilukiskan sebagai "seorang laki- laki yang kecil badannya, alis matanya panjang, hidungnya agak panjang, kepalanya botak, kakinya bengkok, kekar, ramah, kadang-kadang ia nampak seperti lelaki, kadang- kadang memiliki wajah malaikat."

Catatan Kaki:

  1. Ia menambahkan bahwa surat-surat lain dengan nama Paulus tidak diakui oleh Gereja. Ini sebagian besar pseudepigrapha yang dibikin untuk kepentingan- kepentingan bidah.
  2. Ia aneh sekali juga menambahkan "Kebijaksanaan Salomo" di sini.
  3. Ignatius dan Polykarpus (mereka menulis kira-kira tahun 115 M), agaknya mengenal kumpulan-kumpulan surat-surat Paulus.
Taxonomy upgrade extras: 

PPB-Referensi 04c

Nama Kursus : PENGANTAR PERJANJIAN BARU
Nama Pelajaran : Kitab-kitab Injil dan Kehidupan Tuhan Yesus
Kode Pelajaran : PPB-R04c

Referensi PPB-04c diambil dari:

Judul Buku : Memahami Injil-injil dan Kisah Para Rasul
Pengarang : Joel B. Green
Penerbit : Persekutuan Pembaca Alkitab, Jakarta, 2005
Halaman : 19 - 25

REFERENSI PELAJARAN 014c - KITAB-KITAB INJIL DAN KEHIDUPAN TUHAN YESUS

SATU BERITA INJIL - EMPAT INJIL

Seorang rekan saya yang menjadi penginjil telah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk membangun persahabatan yang sungguh-sungguh akrab dengan sepasang suami istri berkebangsaan Jepang. Pasangan suami istri itu tinggal tidak jauh dari rumahnya. Dalam percakapan mereka pada suatu hari, rekan saya itu mendorong mereka agar memberi perhatian lebih saksama pada akar-akar historis dari iman Kristen dengan cara membaca Perjanjian Baru. Setelah beberapa hari membaca keempat Injil, si istri kemudian membuat rekan saya itu terkejut karena mengajukan pertanyaan berikut, "Mengapa Yesus harus mati empat kali?"

Bagi orang-orang yang besar di dalam lingkungan gereja ataupun mereka yang cukup akrab dengan Alkitab, pertanyaan ini terdengar agak konyol. Akan tetapi, pertanyaan ini segera membangkitkan suatu isu yang genting bagi para pembaca Injil-Injil. Mengapa harus ada empat catatan? Kenapa ada empat versi yang berbeda? Mengapa ada empat perspektif yang masing-masing memiliki kekhasan? Mengapa tidak dibuatkan satu saja catatan yang berotoritas? Ini tentu saja adalah salah satu isu paling genting yang harus dihadapi para pembaca empat kitab pertama dari Perjanjian Baru ini: Ada empat Injil-Injil, dan masing-masing tidak selalu sepakat dengan yang lain dalam berbagai hal.

MENGAPA EMPAT INJIL?

Mengapa empat Injil? Segera muncul dua jawaban yang saling kait- mengait. Di satu pihak, tidak seorang pun mampu menangkap keseluruhan signifikansi dari orang lain, dan prinsip ini berlaku terutama bagi sosok dengan bobot dan orisinalitas seperti Yesus. Walaupun potret Yesus yang disediakan Lukas dapat menolong para pembacanya, ia tentu saja tidak mampu menangkap seluruh hal-hal yang penting. Karena alasan inilah kita dapat bersyukur karena kita tidak hanya memiliki satu melainkan empat potret Yesus.

Di pihak lain, bahkan sejak zaman para rasul masing-masing komunitas Kristen membutuhkan catatan tentang pelayanan Yesus serta signifikansinya yang dikisahkan dalam cara yang secara khusus memenuhi kebutuhan mereka. Injil-injil adalah dokumen-dokumen yang memiliki tujuan tertentu. Dengan kata lain, kita dapat menyimpulkan bahwa Injil-injil, seperti surat-surat Paulus, adalah "tulisan-tulisan untuk menangani suatu keadaan tertentu." Maksudnya, sebagaimana Paulus menuliskan surat pertamanya kepada orang-orang Kristen di Korintus untuk menghadapi masalah-masalah spesifik yang terjadi di sana (misalnya, lihat 1Kor. 1:11; 5:1; 7:1), demikian juga para penulis Injil menuliskan Injilnya untuk menghadapi kebutuhan-kebutuhan tertentu. Karena itu, wajar bila Injil Yohanes menampilkan rasa yang berbeda bila dibandingkan dengan Injil Matius; Yohanes hendak menyapa suatu khalayak pembaca yang berbeda pula.

Sebenarnya, ada banyak "injil" yang ditulis pada abad-abad pertama keberadaaan gereja. Lukas sendiri menyadari adanya beberapa upaya untuk menyampaikan kisah Yesus yang telah dilakukan sebelum upayanya ini (Luk. 1:1). Karena itu, tidak perlu kita ragukan lagi kalau ada (semacam) injil-injil yang telah beredar pada dekade-dekade awal dari sejarah Kekristenan. Kita juga menyadari bahwa selama beberapa abad orang-orang terus terdorong untuk menuliskan injil-injil. Sebagian dari hasil upaya-upaya tersebut telah dikenal oleh para sarjana biblika dalam bentuk yang utuh sejak dulu; karya-karya lainnya yang dikutip oleh penulis-penulis masa lalu kini hanya dikenal namanya saja; namun, masih ada beberapa karya lain yang baru-baru ini ditemukan di antara penemuan-penemuan arkeologis di Nag Hammadi.

Kemungkinan besar injil-injil dalam kelompok yang disebut terakhir tadi (kadang-kadang disebut sebagai "injil-injil apokrifa") dituliskan lama setelah Injil-Injil Perjanjian Baru ditulis. Isi dari injil-injil ini kadang menyajikan bahan-bahan yang sangat menghibur dan mengikutsertakan kisah-kisah fantastis tentang Yesus serta perkataan- perkataan penuh teka-teki dan esoteris yang dianggap berasal dari Yesus. Seperti yang telah kita ketahui, hanya empat Injil - Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes - yang kemudian memiliki status otoritas yang diterima secara luas. Munculnya injil-injil lain yang kurang didasari oleh sejarah dan memiliki kecenderungan untuk melakukan penafsiran yang spekulatif ini bisa saja menjadi pendorong bagi pengakuan akan Injil-Injil dalam Perjanjian Baru sebagai catatan- catatan yang berotoritas.

Walaupun demikian, beberapa orang masih merasa tidak nyaman karena harus menghadapi kesaksian berganda tentang kisah Yesus yang seperti ini, bahkan pada masa-masa awal tersebut. Terasa adanya suatu ketegangan tertentu bila catatan-catatan yang berbeda itu ditempatkan berdampingan. Untuk memecahkan masalah ini, maka disusunlah edisi "harmonisasi Injil-injil" yang pertama. Penyusun buku ini, Tatianus, berusaha untuk menyuling narasi-narasi yang bervariasi dalam Injil- injil itu ke dalam satu catatan yang berotoritas. Pada akhirnya, buah dari usaha ini pun dirasakan tidak memuaskan oleh gereja purba waktu itu.

Kelihatannya judul-judul yang dibubuhkan kepada Injil-Injil tersebut memberikan sudut pandang terbaik bagi kita untuk memahami solusi purba bagi masalah empat Injil ini. Pada awalnya, Injil-Injil ini diedarkan tanpa dibubuhi baris judul. Judul-judul baru dibutuhkan setelah keempat Injil ini dikumpulkan bersama. Bila diterjemahkan secara harfiah, tulisan-tulisan ini diberi judul "Menurut Matius", "Menurut Markus", dst. Kata-kata ini tidak sekadar mengandung makna bahwa Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes adalah penulis kitab-kitab itu. Sebaliknya, kata "menurut" di sini menyiratkan suatu konformitas yang sangat mendasar kepada satu kisah - maksudnya, kepada satu berita injil - yang disampaikan oleh keempat penulis Injil. Hanya ada satu berita injil, tetapi berita injil itu telah disampaikan melalui empat penulis. 3 Karena itu, dengan memberikan judul demikian kepada keempat kitab tersebut, gereja purba sedang memberi kesaksian tentang kesatuan dari fokus dan bahasan keempat Injil itu. Pada saat yang sama mereka sekaligus memberi ruang bagi hadirnya keragaman dalam penyampaian kisah Injil.

EMPAT INJIL: OTORITAS YANG DIPIKUL BERSAMA

Apakah implikasi hal ini bagi pemahaman kita atas Injil-injil pada saat ini? Ada dua hal. Pertama, kita harus menyadari bahwa ketika gereja mula-mula memilih keempat Injil tersebut dan menempatkan mereka berdampingan, gereja mula-mula sedang menyatakan bahwa di antara keempat Injil-injil tidak ada Injil yang "paling baik" atau "lebih benar" daripada tiga Injil yang lain. Tentu saja, ketika kita mengakui peran aktif dari gereja purba di dalam proses kanonisasi Injil-injil, kita tidak menganggap hal ini sebagai suatu upaya manusiawi semata. Sebaliknya, kita percaya bahwa Roh Kudus menuntun keseluruhan proses ini.

Lalu apa anti dari kesimpulan bahwa keempat Injil-injil itu memiliki status yang sama? Pada intinya, itu berarti keempat Injil-injil merupakan saksi-saksi yang sama-sama valid atas berita injil yang tunggal itu, walaupun masing-masing memang memberikan kesaksian tentang berita injil itu dalam caranya yang khas. Masing-masing harus dibiarkan untuk bertumpu pada kakinya sendiri. Karena itu, Injil Yohanes tidak boleh kita anggap sebagai kunci untuk memahami berita dari Injil Markus. Sebagai karya-karya sastra, Injil-injil tetap memiliki integritasnya masing-masing. Akan tetapi, implikasi lain yang juga muncul adalah: tidak satu pun dari keempat Injil itu yang layak untuk menjadi saksi berotoritas atas berita injil bila hadir sendirian tanpa Injil yang lain. Karena Injil-injil disampaikan dari perspektif- perspektif yang berbeda, maka keempat Injil itu saling melengkapi satu dengan yang lain; keempatnya saling menyeimbangkan; masing-masing menyajikan aspek yang berbeda dari hakikat berita injil yang tunggal itu, yaitu signifikansi dari kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus. Kita membutuhkan keempat-empatnya dan tidak satu pun dari empat Injil itu dapat kita perlakukan sebagai saksi tunggal tentang signifikansi Yesus.

Kita dapat mengilustrasikan poin terakhir ini sambil mengacu kepada salah satu bagian dari Ucapan Berbahagia yang disampaikan dalam dua bentuk yang berbeda oleh Matius dan Lukas:

"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga." (Mat. 5:3).

"Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang punya Kerajaan Allah." (Luk. 6:20).

Yang menjadi pusat perhatian kita bukanlah perbedaan antara bentuk orang ketiga ("merekalah") yang digunakan Matius dan bentuk orang kedua ("kamulah") yang digunakan Lukas. Juga bukan tentang perbedaan antara istilah Kerajaan Surga yang digunakan Matius dengan Kerajaan Allah yang digunakan Lukas (sebenarnya, "Kerajaan Surga" dan "Kerajaan Allah" merupakan sinonim). Lima masalah yang lebih mendasar dalam ayat- ayat paralel ini terpusat pada kontras antara sapaan yang dalam Injil Matius kelihatannya ditujukan kepada "orang yang miskin secara rohani" dengan sapaan kepada "orang yang miskin secara materiil" di dalam Injil Lukas. Bila kita mengakui kedua Injil ini sebagai saksi- saksi yang sama-sama berotoritas atas satu berita injil yang sama, maka kita harus melawan semua upaya yang hendak menonjolkan versi yang satu melebihi versi lainnya. Kita perlu mendengarkan kedua-duanya. Bila kita menonjolkan yang satu melawan yang lain, maka hasilnya justru akan merugikan kita.

Karena itu, sementara kita menghargai serta memberi salut atas bangkitnya kembali kesadaran di antara banyak orang Injili mengenai kebenaran alkitabiah tentang sikap Allah bagi orang yang tertindas dan juga tanggung jawab kita demi kepentingan mereka, kita harus berusaha untuk mengapresiasi keseluruhan kisah itu. Dengan alasan yang kuat, kalangan Injili yang mulai mengembangkan kesadaran sosial telah memalingkan perhatian mereka kepada Injil Lukas. Sikap ini mereka lakukan dalam upaya mendasarkan segala keprihatinan yang mereka rasakan pada inti dari berita injil.6 Dari berbagai sisi, tampak bahwa Injil Lukas memang sangat cocok untuk upaya ini. Injil ini memang memberi penekanan pada Yesus sebagai Juruselamat bagi semua orang, bahkan (dan terutama) bagi mereka yang tertindas. Walaupun demikian, Lukas hanyalah salah satu dari empat Injil yang ada. Bila kita mengesampingkan Injil Matius, Markus, ataupun Injil Yohanes dalam upaya untuk menjangkau inti dari pemberitaan Yesus, maka kita sama saja sedang menolak fakta bahwa yang hadir di hadapan kita adalah Injil yang memiliki empat wajah! Karena itu, tidak satu pun dari keempat Injil itu yang dapat kita perlakukan sebagai saksi berita injil yang komplit, sehingga tidak perlu dilengkapi oleh tiga Injil lainnya.

Selain itu, bila kita memperhatikan signifikansi dari istilah miskin pada masa-masa sebelum dan sesudah pelayanan Yesus di bumi, kita akan melihat tidak adanya kontradiksi antara ucapan berbahagia versi Matius dengan versi Lukas tersebut. Oleh karena kondisi-kondisi sosial dan politis yang timbul akibat pendudukan asing pada masa tersebut (yang akan kita perhatikan pada pasal berikut), kesetiaan kepada Allah dapat berdampak pada kemiskinan materiil, dan bahkan inilah yang kerap terjadi! Karena itu, kedua istilah ini, "miskin" (kemiskinan yang bersifat sosioekonomis) serta "miskin dalam roh" (kerendahan hati yang penuh kesalehan) sama-sama mencakup dimensi-dimensi kehidupan yang bersifat religius serta sosial. Ketika Matius dan Lukas menyampaikan perkataan Yesus ini, keduanya sedang menunjuk kepada satu realitas yang sama sambil memberi penekanan pada aspek-aspeknya yang berbeda.

Taxonomy upgrade extras: 

PPB-Referensi 04b

Nama Kursus : PENGANTAR PERJANJIAN BARU
Nama Pelajaran : Kitab-kitab Injil dan Kehidupan Tuhan Yesus
Kode Pelajaran : PPB-R04b

Referensi PPB-04b diambil dari:

Judul Buku : Memahami Perjanjian Baru
Pengarang : John Drane
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1996
Halaman : 191 - 196

REFERENSI PELAJARAN 04b - KITAB-KITAB INJIL DAN KEHIDUPAN TUHAN YESUS

PENYUSUNAN INJIL-INJIL SINOPTIK

Injil Matius, Markus dan Lukas disebut "Injil-injil Sinoptik" sebab ada banyak persamaan di antaranya; cara para penulis menyusun logia menjadi kitab Injil merupakan inti "masalah sinoptik".

Kitab-kitab Injil ini pada hakikatnya merupakan tiga edisi yang berbeda dari bahan dasar yang sama. Banyak dari persamaannya dapat dijelaskan dengan dugaan para penulis mungkin telah memakai kumpulan-kumpulan ucapan yang sama dan sedang beredar di antara berbagai kelompok orang Kristen. Tetapi persamaan-persamaannya lebih rumit dari itu, sebab ada banyak tempat di mana ketiga kitab Injil itu memakai bahasa, kosa kata dan susunan tata bahasa yang tepat sama, sehingga kebanyakan ahli yakin mereka memakai sumber-sumber tertulis yang sama pula.

Ada dua teori utama yang menjelaskan persamaan-persamaan ini. Yang pertama menganggap Injil Matius ditulis lebih dahulu, sedangkan yang kedua menganggap Injil Markuslah sebagai kitab Injil yang pertama.

a. Injil Matius ditulis lebih dahulu?

Pada abad ke-4 M, Agustinus berpendapat bahwa Matius ditulis lebih dahulu, kemudian Markus membuat sebuah ringkasan daripadanya. Akhirnya Lukas menulis kitab Injilnya berdasarkan Matius dan Markus. Hingga awal abad ke-20, itulah pandangan yang dipegang secara luas. Tentu terdapat variasi-variasi dari pandangan tersebut. Salah satu di antaranya - "hipotesa Griesbach" (yang dikemukakan oleh seorang ahli Jerman bernama J. J. Griesbach, 1745 - 1812) - yang akhir-akhir ini telah menjadi pusat perhatian para ahli kontemporer. Griesbach setuju dengan Agustinus bahwa Matius merupakan kitab Injil pertama yang ditulis, tetapi ia beranggapan bahwa yang berikutnya adalah Lukas. Kemudian Markus memakai Matius dan Lukas sebagai dasar karyanya.

Ada beberapa masalah dengan pandangan ini.

  • Mengapakah seseorang mau meringkaskan Matius dan Lukas sehingga membuat sebuah kitab Injil seperti Markus? Dibandingkan dengan kedua kitab Injil yang lebih panjang, Injil Markus yang pendek itu tidak dapat dianggap komprehensif. Kelahiran Yesus dan masa kanak-kanak-Nya tidak disebut, hanya ada sedikit saja tentang ajaran-Nya yang paling distinktif, dan cerita tentang kebangkitan sangat singkat. Memang para penulis kitab Injil memilih bahan-bahan mereka sesuai dengan perhatian dan kebutuhan pembaca mereka, jadi pada prinsipnya bisa saja Markus menghasilkan suatu bentuk ringkas dari Injil Matius dan Lukas. Tetapi melihat justru unsur-unsur yang sangat sentral tidak disinggung atau hanya sepintas lalu disinggung oleh Markus, hampir mustahil membayangkan suatu kelompok Kristen akan merasa puas dengan cerita Markus tentang Yesus jika mereka sudah memiliki Injil Matius dan Lukas. Orang-orang Kristen dulu cenderung mengutamakan Matius dan Lukas oleh karena alasan-alasan tersebut. Kalau Markus ditulis terakhir, dengan pengetahuan penuh tentang adanya dua kitab Injil lain, sulit sekali menjelaskan mengapa kitab Injil tersebut ditulis.

  • Sebagian besar ragam bahasa yang dipakai Markus seakan-akan menunjuk pada suatu kesimpulan yang sama. Kalau Markus telah memakai cerita-cerita Matius dan Lukas dengan bahasa mereka yang halus, mengapakah ia begitu sering menulis dalam bahasa Yunani yang secara praktis tidak dapat dimengerti? Perumpamaan tentang biji sesawi merupakan contoh yang baik di sini (Mrk. 4:30-32; Luk. 13:18-19; Mat. 13:31-32). Baik Matius maupun Lukas memakai ungkapan-ungkapan yang bagus, yang serupa satu sama lain. Tetapi sebaliknya Markus memakai kalimat bahasa Yunani yang ruwet tanpa kata kerja di dalamnya, yang tidak memberikan arti yang lengkap. Kalau ia menyalin dari Matius atau Lukas, maka kelihatannya ia benar-benar berusaha mengelak memakai kata-kata mereka - dan sulit sekali menemukan alasan yang baik untuk itu!

  • Hampir sama sulitnya untuk percaya bahwa Lukas telah membaca dan memakai Injil Matius. Kalau ia memang memakainya, maka ia menerapkan prosedur kesusasteraan yang agak aneh. Injil Matius mengandung salah satu karya agung terbesar dalam kitab-kitab Injil, yakni Khotbah di Bukit. Kalau Lukas memiliki Injil Matius sewaktu ia menulis, mengapakah ia memecah-mecahkannya dengan memakai sebagian di dalam tulisannya sendiri, Khotbah di Dataran, dan sisanya disebarkan dalam bagian-bagian kecil di seluruh kitab Injilnya?

b. Injil Markus ditulis lebih dahulu?

Ada banyak contoh lain tentang masalah yang sama di tempat-tempat lain dalam ketiga Injil Sinoptik. Itu sebabnya kebanyakan ahli modern lebih menyukai suatu penjelasan yang agak berbeda tentang hubungan kitab-kitab tersebut satu sama lain.

Penjelasan yang lebih banyak diterima tentang persamaan antara Injil-injil Sinoptik adalah Matius dan Lukas memakai dua dokumen sumber sewaktu menyusun karangannya tentang kehidupan dan pengajaran Yesus. Inilah sumber-sumber yang kita kenal sekarang sebagai Injil Markus dan suatu dokumen hipotetis yang disebut "Q". Dapat dipastikan sedikitnya Lukas memakai berbagai sumber dalam menyusun Injilnya, sebab ia secara eksplisit mengatakan bahwa ia telah menyelidiki hasil pekerjaan orang-orang lain, serta memilih bagian-bagian dari tulisan mereka yang cocok dengan tujuan tulisannya sendiri. Melihat hubungan sastra yang dekat dengan Markus dan Lukas, kelihatannya pasti bahwa penulis Injil Matius memakai metode yang sama dalam karyanya.

Di dalam mencapai kesimpulan bahwa Matius dan Lukas memakai Injil Markus, para ahli Perjanjian Baru telah menganalisis teks ketiga Injil Sinoptik dengan memakai sedikitnya lima kriteria yang berbeda.

Pemakaian kata-kata

Suatu cara sederhana untuk menentukan hubungan sastra teks-teks yang berbeda adalah dengan membandingkan kata-kata yang dipakai dalam teks-teks tersebut. Lebih dari setengah kosakata yang dipakai Markus terdapat dalam Matius dan Lukas, dan keduanya mempunyai bagian-bagian yang sama tepat, yang tidak terdapat dalam Injil Markus. Jadi kelihatannya ada suatu sumber yang diketahui oleh mereka semua, dan suatu sumber lainnya yang hanya dipakai oleh Matius dan Lukas.

Urutan

Jikalau urutan peristiwa dalam suatu cerita yang terdapat dalam lebih dari satu kitab Injil juga sesuai dengan bagian-bagian yang mempunyai kata-kata yang sama, kita dapat maju selangkah dengan berasumsi adanya sumber yang sama, yang urutan maupun kata-katanya telah direkam oleh ketiga penulis. Dan memang ada banyak bukti tentang hal ini. Matius, Markus dan Lukas mengikuti urutan peristiwa yang sama dalam garis besarnya. Mereka mulai dengan pelayanan Yohanes Pembaptis, kemudian melanjutkannya dengan kisah baptisan dan cobaan Yesus. Setelah itu diceritakan tentang pelayanan yang meliputi pembuatan mujizat dan pengajaran di Galilea, yang mulai membangkitkan pertentangan dari para pemimpin Yahudi. Lalu Yesus mengadakan perjalanan ke wilayah utara untuk memberikan pengajaran khusus bagi murid-murid-Nya. Akhirnya mereka pergi ke Yerusalem, dan bagian akhir kitab-kitab Injil memberitakan tentang hari-hari terakhir Yesus, pengadilan-Nya, penyaliban, dan kebangkitan-Nya.

Di dalam kerangka umum ini, peristiwa-peristiwa khusus sering disampaikan dalam urutan yang sama.

Ciri-ciri Injil Sinoptik ini dapat diterangkan sebaik-baiknya bila kita beranggapan Matius dan Lukas memakai Markus, dan bukan sebaliknya. Sebab sesuatu yang mencolok ialah bila Matius menyimpang dari urutan Markus, Lukas tetap mengikuti urutan Markus tersebut; kalau Lukas menyimpang dari urutan Markus, Matius tetap mengikuti Markus. Hanya ada satu peristiwa yang oleh keduanya ditempatkan berlainan dari Markus, yaitu penetapan keduabelas murid (Mrk. 3:13- 19; Mat. 10:1-4; Luk. 6:12-16). Kadang-kadang Matius atau Lukas meninggalkan pola cerita Markus untuk menambah sesuatu yang baru, tetapi setelah penambahan tersebut, biasanya mereka kembali lagi mengikuti urutan Markus. Ini merupakan salah satu argumen terkuat yang mendukung anggapan bahwa Matius dan Lukas memakai Markus, dan tidak sebaliknya.

Isi

Analisis isi cerita juga mengungkapkan pemakaian sumber-sumber yang berlainan. Jika seorang penulis mencatat cerita yang sama dengan kata-kata dan urutan yang sama dengan seorang penulis yang lain, maka kita dapat menyimpulkan keduanya memakai sumber yang sama, atau salah satu telah mengutip dari yang lainnya. Itulah yang terjadi dalam Injil-injil Sinoptik; dari 661 ayat dalam Markus, 606 ayat ditemukan dalam Matius dalam bentuk yang hampir sama, dan kira-kira setengahnya terdapat juga dalam Lukas.

Gaya bahasa

Ini suatu kriteria yang sangat sulit dipakai secara memuaskan. Gaya bahasa seorang penulis dapat bergantung pada begitu banyak hal: situasi di mana ia menulis, kelompok pembaca yang hendak dicapai, apakah ia memakai seorang sekretaris atau tidak, dan sebagainya.

Jelas ada perbedaan gaya bahasa yang nyata antara Markus dan kedua Injil sinoptik lainnya, dan secara keseluruhan Injil Markus ditulis dengan bahasa Yunani yang lebih rendah mutunya. Umpamanya, ia sering melukiskan suatu peristiwa dengan memakai kata kerja bentuk masa kini walau hal-hal tersebut terjadi di masa lampau, sedangkan Matius dan Lukas selalu memakai kata kerja bentuk waktu lampau, yang tentunya lebih tepat. Ini merupakan salah satu argumen yang lemah, sebab hal itu didasarkan atas asumsi para penulis memakai sumber-sumber tersebut dengan cara yang agak kaku, hanya dengan menyalin kata demi kata dari naskah yang ada di hadapan mereka. Tetapi tidak banyak penulis yang mengikuti suatu sumber begitu dekatnya sehingga gaya bahasa sumber tersebut mengaburkan gaya bahasa mereka sendiri. Jika Markus agak lemah dalam penguasaan bahasa Yunani, maka tata bahasanya pun akan lemah, sekalipun dia hanya menyalin dari sumber tertentu.

Kita mempunyai dasar lebih kuat kalau kita mengamati bahwa Markus mencatat delapan ucapan Yesus dalam bahasa Aram. Lukas sama sekali tidak mengikutinya, sedangkan hanya ada satu contoh dalam Injil Matius. Lebih mungkin Matius dan Lukas menghilangkan ucapan-ucapan bahasa Aram tersebut, ketimbang Markus yang secara sengaja menambahkan ucapan-ucapan bahasa Aram dalam Injilnya.

Gagasan dan teologi

Jika dapat ditunjukkan salah satu cerita kitab Injil mengandung teologi yang lebih berkembang daripada kitab Injil lainnya, maka kita dapat menganggap kitab tersebut ditulis belakangan. Kelihatannya ini pengujian yang sederhana, namun tidaklah mudah menerapkannya dalam praktek. Sering sulit memastikan apa yang kelihatan sebagai suatu perbedaan dalam. sikap, memang benar-benar merupakan perbedaan. Lagi pula siapa yang akan menentukan "teologi apa yang berkembang" itu, dan bagaimana kita dapat yakin teologi tersebut berkembang belakangan ketimbang suatu pandangan "primitif"? Jika kita ingat teologi yang sangat berkembang dari Paulus sudah ada pada waktu kitab-kitab Injil ditulis, maka kita dapat melihat bahwa definisi mengenai perbedaan-perbedaan seperti itu, dan hubungan kronologisnya satu sama lain, merupakan suatu hal yang sangat subjektif.

Tentu ada sejumlah penekanan yang berbeda dalam kitab-kitab Injil, tetapi sulit mengetahui dengan pasti pengaruhnya terhadap penyusunan kitab-kitab Injil. Misalnya, Matius dan Lukas tampaknya telah mengubah atau menghilangkan pernyataan tertentu dalam Injil Markus yang dianggap kurang menghormati Yesus. Pernyataan Markus yang blak-blakan bahwa di Nazaret Yesus "tidak dapat mengadakan satu mujizat pun" (Mrk. 6:5), dalam Matius berbunyi, "tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ" (Mat. 13:58), dan Lukas menghilangkannya sama sekali. Begitu juga pertanyaan Yesus dalam Markus, "Mengapa kau katakan Aku baik?" (Mrk. 10:18) muncul dalam Matius sebagai, "Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik?" (Mat. 19:17). Tidak semua kriteria di atas sama pentingnya. Ada kesulitan menentukan nilai dari sedikitnya dua di antaranya. Tetapi jika ditinjau bersama, hasil kumulatif dari keterangan yang ada paling mudah dijelaskan jika kita menganggap Matius dan Lukas memakai cerita Markus, dan Matius bukan kitab Injil asli yang diringkaskan oleh Markus dan sumber yang dipakai Lukas untuk kutipan-kutipan selektif.

Taxonomy upgrade extras: 

PPB-Referensi 06a

Nama Kursus : PENGANTAR PERJANJIAN BARU
Nama Pelajaran : Sejarah Gereja Mula-Mula
Kode Pelajaran : PPB-R06a

Referensi PPB-06a diambil dari:

Judul Buku : Memahami Perjanjian Baru
Pengarang : John Drane
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1996
Halaman : 256 - 259

REFERENSI PELAJARAN 06a - SEJARAH GEREJA MULA-MULA

LAHIRNYA JEMAAT KRISTEN

Sewaktu mereka berkumpul di balik pintu terkunci di Yerusalem pada hari-hari pertama setelah kebangkitan Yesus, para murid mengetahui bahwa lebih mudah berbicara tentang mengubah dunia daripada pergi keluar dan melakukannya. Tetapi tidak lama kemudian, sesuatu terjadi yang bukan hanya mengubah jalan pikiran mereka, tetapi yang juga memberanikan mereka untuk menyampaikan iman mereka dengan cara yang menggoncangkan seluruh dunia Romawi.

Hanya lima puluh hari setelah kematian Yesus, Petrus berdiri di depan suatu kerumunan orang banyak di Yerusalem, dan dengan berani menyatakan kerajaan Allah telah datang, dan Yesuslah Raja dan Mesiasnya. Pada waktu itu Yerusalem penuh dengan peziarah-peziarah yang datang dari seluruh penjuru kekaisaran Roma untuk merayakan Pesta Pentakosta - dan ketika Petrus berbicara, mereka tidak hanya mengerti pemberitaannya tetapi juga, dalam jumlah yang luar biasa besarnya, memberikan respons terhadapnya. Ketika Petrus menyatakan mereka harus menjadi murid-murid Yesus dengan bertobat dari dosa dan menerima hidup baru yang diberikan Allah, tiga ribu orang menerima seruannya dan menyerahkan diri mereka kepada Yesus (Kis. 2:14-42).

Apa yang sesungguhnya telah terjadi sehingga murid-murid Yesus mengalami transformasi dalam hidup mereka? Jawabannya terdapat dalam pembukaan pidato Petrus. Sebab ketika ia berdiri dan berbicara kepada orang banyak itu, Petrus mengingatkan mereka tentang suatu nats Perjanjian Lama yang menggambarkan bahwa datangnya abad baru adalah masa di mana Roh Allah akan bekerja dengan cara baru dalam hidup orang-orang. Sewaktu nabi-nabi Perjanjian Lama memandang ke masa depan, beberapa dari mereka menyadari bahwa masalah manusia tidak pernah akan selesai hingga suatu hubungan baru dijalin antara manusia dan Allah. Dosa dan ketidaktaatan manusia telah mengakibatkan kekacauan, tetapi dalam abad baru Allah tidak hanya menuntut ketaatan - Ia akan memberi mereka kekuatan moral yang baru dan kemampuan untuk menjadi manusia seperti yang dimaksudkan Allah (Yer. 31:31-34). Dalam nubuat Yoel (2:28-32), kekuatan baru untuk hidup ini dihubungkan dengan pemberian Roh Allah - dan Petrus mengambil perikop tersebut sebagai natsnya, serta menyatakan nats tersebut sedang dipenuhi dalam pengalaman murid-murid Yesus. Melalui kematian dan kebangkitan Yesus, orang-orang sekarang dapat mempunyai hubungan baru dengan Allah sendiri. Dari pengalamannya sendiri, Petrus tahu bahwa hal itu benar.

Bagi Petrus dan murid-murid lainnya, hari itu sama seperti hari-hari sebelumnya. Tetapi ketika mereka menghadapi tugas yang begitu besar dan yang tidak mungkin dilaksanakan - yang dipercayakan Yesus kepada mereka, tanpa disangka-sangka suatu kuasa yang memberi hidup masuk ke dalam kehidupan mereka. Kuasa itu merupakan suatu dinamika moral dan spiritual yang memperlengkapi para murid supaya memberi kesaksian tentang iman yang baru. Kuasa itu adalah kuasa Roh Kudus dan akan menjadikan mereka seperti Yesus. Tidaklah mudah menggambarkan dalam kata-kata apa yang mereka alami. Tetapi sebagai akibatnya, kepercayaan mereka yang ragu-ragu dan tidak pasti kepada Yesus dan janji-janji-Nya secara luar biasa diteguhkan. Sejak saat itu dan seterusnya, mereka yakin janji-janji Allah dalam Perjanjian Lama dipenuhi dalam hidup mereka sendiri - dan mereka sangat yakin bahwa Yesus yang hidup ada dan hadir bersama mereka secara unik. Jemaat telah lahir.

Seluruh kehidupan para murid mengalami perombakan sedemikian rupa, sehingga tidak diperlukan argumen lain untuk meyakinkan mereka bahwa pengalaman mereka sehari-hari merupakan akibat langsung dari kuasa dan kehadiran Yesus di dalam hidup mereka. Petrus, Yohanes dan yang lain- lainnya memiliki kuasa guna melakukan tindakan-tindakap hebat dalam nama Yesus (Kis. 2:43; 3:1-10) - dan tentunya Petrus diberikan kemampuan secara tak disangka-sangka untuk berbicara dengan kuasa kepada orang banyak yang berkumpul di Yerusalem.

Sebagai akibat semuanya ini, para rasul dan orang-orang Kristen baru begitu dikuasai oleh cinta-kasih kepada Yesus yang hidup dan kerinduan untuk melayani-Nya, sehingga kebutuhan-kebutuhan kehidupan sehari-hari terlupakan. Orang-orang Kristen selalu "bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa" (Kis. 2:42). Mereka malahan menjual harta mereka dan mengumpulkan hasil penjualan sehingga mereka dapat hidup sebagai suatu persekutuan sejati dari pengikut-pengikut Yesus. Mencari uang bukan lagi merupakan haI yang terpenting dalam hidup. Satu-satunya hal yang penting adalah memuji Allah, dan membawa berita yang-mengubah hidup kepada orang-orang lain (Kis. 2:44,47; 4:32,35).

Jemaat bertumbuh.

Pada hari-hari pertama kehidupan jemaat di Yerusalem, persahabatan terbuka dan gaya hidup sederhana dalam jemaat purba pasti terlihat sebagai menyingsingnya suatu zaman yang baru. Tetapi tidak perlu waktu lama sebelum persoalan-persoalan lain yang lebih rumit muncul, untuk memperingatkan Petrus dan lain-lainnya bahwa kerajaan Allah belum tiba dalam segala kepenuhannya. Persekutuan yang baru tergalang merupakan bukti bahwa umat baru sudah ada. Tetapi seturut berlalunya waktu, ketegangan antara masa sekarang dan masa depan yang begitu fundamental dalam pengajaran Yesus mempunyai dampak yang mengganggu kelanjutan hidup persekutuan kristen yang sedang berkembang. Selama masa hidup Yesus, gerakan mesianik baru yang dibangun-Nya itu pada umumnya hanyalah merupakan bidat setempat dalam agama Yahudi Palestina. Semua murid merupakan orang Yahudi. Walaupun logika pemberitaan dan teladan perilaku Yesus sendiri menunjukkan bahwa orang-orang bukan-Yahudi tidak dikecualikan dari keanggotaan persekutuan, hubungan orang-orang Yahudi dan bukan-Yahudi tidaklah merupakan persoalan besar pada waktu itu. Orang-orang bukan-Yahudi yang bertemu dengan Yesus adalah pribadi-pribadi tersendiri (Mrk. 7:24-30; Luk. 7:1-10). Jumlah mereka tidak besar, dan bagaimanapun juga banyak dari mereka mungkin sekali menghadiri upacara-upacara agama di sinagoge, meskipun mereka belum memeluk agama Yahudi.

Tetapi tidak lama kemudian, para pengikut Yesus dipaksa untuk mencurahkan perhatian besar terhadap seluruh persoalan hubungan antara orang-orang percaya Yahudi dan bukan-Yahudi. Walaupun mereka tidak menyadarinya, peristiwa-peristiwa pada hari Pentakosta yang direkam pada bagian Kisah Para Rasul merupakan suatu peristiwa yang menentukan dalam kehidupan jemaat muda usia itu (Kis. 2). Sebab ketika banyak di Petrus berdiri dan menerangkan ajaran Kristen kepada orang kosmolitan, Yerusalem, ia berhadapan dengan sidang pendengar yang terdiri dari "orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit" (Kis. 2:5). Tentu saja mereka semua menaruh perhatian terhadap agama Yahudi, kalau tidak mereka tidak akan mengadakan perjalanan ke Yerusalem guna menghadiri perayaan keagamaan. Tetapi tidak semua orang bukan-Yahudi di antara mereka sudah menjadi penganut penuh agama Yahudi yang menerima seluruh hukum Yahudi - sedangkan mereka yang berasal dari keluarga Yahudi pun diberbagai tempat dari kekaisaran Roma, mempunyai latar belakang dan pandangan yang agak berlainan dengan orang Yahudi yang dilahirkan dan dibesarkan di Palestina sendiri. Mayoritas dari orang banyak yang mendengar khotbah Petrus pada hari Pentakosta mungkin sekali merupakan orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani, yang telah berziarah ke Yerusalem dalam rangka pesta agama Yahudi yang besar itu. Banyak dari mereka yang baru untuk pertama kalinya mengunjungi Yerusalem. Walaupun tempat tinggal mereka sangat jauh, mereka selalu menggandrungi Yerusalem serta Bait Allah. Yang merupakan tempat suci pusat agama mereka, sama halnya bagi orang Yahudi yang tinggal di Palestina. Petrus dan murid-murid lainnya tidak ragu-ragu bahwa kabar baik tentang Yesus harus disampaikan juga kepada orang-orang tersebut. Memang, banyak persamaan di antara mereka. Para murid sendiri merupakan pendukung setia dari upacara-upacara ibadah di sinagoge. Mereka juga memelihara pesta-pesta agama Yahudi Yang besar, dan kadang-kadang mereka malahan berkhotbah di pelataran Bait Allah (Kis. 3:1-16). Hal ini merupakan sesuatu yang Yesus sendiri tidak dapat lakukan tanpa kekhawatiran akan akibat-akibatnya, dan walaupun Petrus dan Yohanes kemudian ditangkap dan dituduh di hadapan mahkamah agama Yahudi, mereka segera dibebaskan, dan satu-satunya pembatasan yang dikenakan ke atas mereka adalah supaya "sama sekali jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus" (Kis. 4:18). Terlepas dari iman mereka kepada Yesus yang terasa aneh, tindak-tanduk mereka pada umumnya dapat diterima oleh para penguasa Yahudi.

Taxonomy upgrade extras: 

PPB-Referensi 01b

Nama Kursus : PENGANTAR PERJANJIAN BARU
Nama Pelajaran : Latar Belakang Politik, Sosial, dan Ekonomi Dunia PB
Kode Pelajaran : PPB-R01b

Referensi PPB-01b diambil dari:

Judul Buku : Ensiklopedi Fakta Alkitab II
Pengarang : J.I Packer, Merrill C. Tenney, William White, Jr.
Penerbit : Gandum Mas, Malang, 2001
Halaman : 934 - 941

REFERENSI PELAJARAN 01b - LATAR BELAKANG POLITIK, SOSIAL, DAN EKONOMI DUNIA PB

PENDIDIKAN

Orang Israel menyediakan pendidikan bagi anak-anak mereka. Pendidikan itu mencakup pelajaran agama dan juga pelatihan dalam berbagai keterampilan yang akan mereka perlukan dalam dunia sehari-hari. Mereka adalah bangsa yang bertani, jadi hanya para pemimpin agama diajar membaca dan menulis.

"Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya ... dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia" (Luk. 2:52). Ayat ini menangkap tujuan pendidikan Yahudi. Pendidikan itu tidak hanya berusaha untuk memberikan pengetahuan, tetapi juga hikmat, yang berpusat pada hubungan seseorang dengan Tuhan.

Di Israel pada zaman purba, pendidikan merupakan suatu proses informal. Sebagian besar atau semua pendidikan itu dilakukan oleh orang tua. Tidak ada ruang kelas atau kurikulum yang tersusun. Pada zaman Perjanjian Baru, orang Yahudi telah memakai pendekatan yang lebih formal terhadap pendidikan. Mereka menyediakan ruang-ruang kelas dan guru-guru yang memenuhi syarat untuk mengajar semua anak di desa.

A. Guru Teladan.

Untuk mengerti fungsi seorang guru Yahudi, pertama-tama kita harus memikirkan Guru ilahi yang dicontoh oleh guru Yahudi itu. Alkitab mengacu kepada Allah sebagai Guru yang berkata kepada murid-murid-Nya, "Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya" (Yes. 30:20-21). Allah mengetahui dan memahami kebutuhan murid-murid-Nya; Ia benar-benar mengetahui mata pelajaran-Nya, Dialah teladan yang sempurna dan tak dapat salah bagi murid-murid-Nya. Guru Yahudi mempunyai panutan ini di depannya pada waktu ia pergi mengajar.

Kita tahu bahwa Allah memakai manusia untuk mengajarkan Taurat kepada bangsa Israel. Orang-orang ini bukan saja menjadi guru tetapi juga teladan kesalehan - orang seperti Musa, para imam, dan para nabi seperti Elia. Murid-murid mereka adalah orang dewasa dari bangsa Israel, yang kemudian bertanggung jawab untuk meneruskan pengetahuan itu kepada anak-anak mereka.

B. Tanggung jawab Orang tua.

Pendidikan agama anak-anak adalah tanggung jawab orang tua (Ul. 11:19: 32:46). Tidak ada kekecualian bagi orang-tua yang merasa bahwa mereka terlalu sibuk untuk mengajar.

Bahkan setelah anak-anak menjadi akil balig dan menikah, tanggung jawab orang tua tidak berakhir: mereka juga mempunyai bagian penting dalam mendidik cucu mereka (Ul. 4:9). Sebenarnya, sering kali mereka tinggal serumah.

Pada hakikatnya, seorang ayah Israel bertanggung jawab atas pendidikan anak-anaknya; tetapi para ibu juga memainkan peranan yang amat penting, terutama sampai seorang anak mencapai umur lima tahun. Selama tahun-tahun pertumbuhan itu, sang ibu seharusnya membentuk masa depan anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan.

Ketika seorang anak laki-laki menjadi cukup besar untuk bekerja dengan ayahnya, maka ayah itu menjadi guru utamanya, meskipun sang ibu terus mengambil bagian dalam tanggung jawab mengajar itu (bdg. Ams. 1:8-9; 6:20). Sang ibu memikul tanggung jawab utama untuk anak-anak perempuannya, serta mengajarkan berbagai keterampilan yang akan mereka butuhkan agar pada waktunya mereka dapat menjadi istri dan ibu yang baik.

Apabila seorang lain, yang bukan ayahnya, harus mengambil tanggung jawab untuk mengajar seorang anak laki-laki, maka orang itu dianggap sebagai "ayah"-nya. Pada generasi-generasi kemudian, seorang yang secara khusus diberi tugas untuk mengajar, disebut "bapak," dan ia menyapa murid-muridnya sebagai "anak-anakku."

Perhatian utama orang tua Yahudi ialah agar anak-anak mereka menjadi mengenal Allah yang hidup. Dalam bahasa Ibrani, kata kerja "mengenal" berarti terlibat secara akrab dengan seseorang. Alkitab menandaskan bahwa rasa hormat atau takut akan TUHAN adalah "permulaan hikmat ... dan mengenal Yang Maha Kudus adalah pengertian" (Ams. 9:10). Orang tua yang saleh membantu anak-anak mereka untuk mengembangkan pengenalan semacam ini tentang Allah.

Dari awal masa anak-anak, seorang anak laki-laki telah belajar tentang sejarah Israel. Sebagai arak kecil, ia mungkin telah menghafal suatu pernyataan kepercayaan dan mengucapkannya paling sedikit sekali setahun, pada persembahan hulu hasil. Pernyataan kepercayaan itu memperpendek kisah sejarah Israel menjadi bentuk yang sederhana yang mudah untuk dihafal:


Bapaku dahulu seorang Aram, seorang pengembara. Ia pergi ke Mesir dengan sedikit orang saja dan tinggal di sana sebagai orang asing, tetapi di sana ia menjadi suatu bangsa yang besar, kuat dan banyak jumlahnya. Ketika orang Mesir menganiaya dan menindas kami dan menyuruh kami melakukan pekerjaan yang berat, maka kami berseru kepada TUHAN, Allah nenek moyang kami, lalu TUHAN mendengar suara kami dan melihat kesengsaraan dan kesukaran kami dan penindasan terhadap kami. Lalu TUHAN membawa kami keluar dari Mesir dengan tangan yang kuat dan lengan yang teracung, dengan kedasyatan yang besar dan dengan tanda-tanda serta mukjizat-mukjizat. Ia membawa kami ke tempat ini, dan memberikan kepada kami negeri ini, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Oleh sebab itu, di sini aku membawa hasil pertama dari bumi yang telah Kau berikan kepadaku, ya TUHAN (Ul. 26:5-10).

Demikianlah anak-anak belajar bahwa bangsa Israel telah mengikat suatu perjanjian dengan Allah. Perjanjian ini menempatkan batasan-batasan tertentu pada mereka. Mereka tidak leluasa untuk mencari keinginan mereka sendiri, tetapi mereka mempunyai tanggung jawab terhadap Allah karena Ia telah menebus mereka. Dengan rajin mereka diajarkan garis-garis pedoman yang telah diberikan oleh Allah kepada mereka.

Yesus meringkaskan inti dan tujuan hukum-hukum ini ketika Ia menyatakan, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi" (Mat. 22:37-40).

Mungkin tidak ada sekolah-sekolah formal pada zaman Perjanjian Lama. Sebagian besar pengetahuan disampaikan di tengah-tengah kesibukan sehari-hari. Pada waktu berbagai kesempatan terbit sepanjang hari, orang-tua akan mengajarkan anak-anak mereka.

Seorang anak mungkin bertanya, "Ayah, mengapa batu-batu itu ditimbun di sana? Apakah artinya? (bdg. Yos. 4:21). Maka seorang ayah akan meluangkan waktu untuk menjelaskan latar belakang agama dan arti monumen itu.

Dibutuhkan waktu seumur hidup untuk menyelesaikan pendidikan seorang anak. Keluarga Yahudi mempunyai petunjuk dari Tuhan, "Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu" (Ul. 6:6-7). Frase "mengajarkannya berulang-ulang" berasal dari sebuah kata Ibrani yang biasanya mengacu kepada hal menajamkan sebuah alat atau mengasah sebilah pisau. Apa yang dilakukan batu asah untuk mata pisau, demikian pula dilakukan pendidikan untuk anak itu. Pendidikan mempersiapkan anak-anak untuk menjadi anggota-anggota masyarakat yang berguna dan produktif.

C. Sekolah-sekolah Sinagoge.

Kita tidak tahu dengan tepat kapan pertama kalinya sekolah-sekolah sinagoge itu didirikan. Ada yang berpendapat bahwa kebiasaan ini dimulai pada masa Pembuangan di Babel. Kapan pun sistem ini dimulai, pada zaman Perjanjian Baru sekolah sinagoge telah merupakan bagian penting dalam kehidupan bangsa Yahudi.

Setiap hari Sabat, orang-orang Yahudi dengan setia berkumpul di sinagoge untuk mendengar rabi mereka membaca Kitab Suci dan menerangkan hukum Taurat. Di samping saat-saat ibadat yang tetap, sinagoge menyokong kelas-kelas khusus. Selama minggu itu, anak-anak lelaki datang ke kelas-kelas ini untuk mempelajari Kitab Suci di bawah guru-guru yang memenuhi syarat. Kelas-kelas ini menambah pendidikan agama yang diterima anak-anak itu dari orang-tua mereka.

Para ayah Yahudi lebih banyak memperhatikan perangai seorang guru daripada kemampuan mengajarnya. Tentu saja, mereka menuntut agar dia cakap dalam profesinya; tetapi mereka lebih banyak memperhatikan bahwa ia menjadi teladan yang layak bagi anak-anak mereka. Tulisan-tulisan orang Yahudi pada zaman Perjanjian Baru memberikan sebagian sifat-sifat ideal seorang guru. Ia tidak boleh malas. Sifatnya harus tenang. la sama sekali tidak boleh memihak. la tidak boleh menjadi tidak sabar. Ia tidak boleh mencemarkan martabatnya dengan bersenda gurau. la sama sekali tidak boleh mengecilkan hati sang anak. Ia harus menunjukkan bahwa dosa adalah menjijikkan. la harus menghukum semua perbuatan salah. Ia harus menepati semua janjinya.

Di samping membaca Kitab Suci, anak laki-laki Yahudi mendapat pelajaran tatakrama, musik, cara bertempur, dan pengetahuan praktis lainnya. Kita membaca bagaimana dikatakan bahwa si pemuda Daud "pandai main kecapi (yaitu, seorang musikus). la seorang pahlawan yang gagah perkasa, seorang prajurit, yang pandai bicara, elok perawakannya" (1Sam. 16:18). Kita dapat mengetahui dari laporan ini bahwa Daud mempunyai pendidikan yang lengkap, seperti kebanyakan anak laki-laki Yahudi.

Pada zaman Perjanjian Baru, sekolah-sekolah Yahudi menuntut agar tiap murid menguasai beberapa perikop penting dari Kitab Suci. Perikop yang sangat penting adalah Shema, pernyataan kepercayaan yang mendasar dari orang Yahudi (U1. 6:4-5). Selanjutnya yang penting adalah Ulangan 11:13-21 dan Bilangan 15:37-41. Murid juga dituntut untuk belajar Mazmur-mazmur Hallel ("pujian") yaitu Mazmur 113-118, dan juga kisah Penciptaan (Kej. 1-5) dan hukum-hukum persembahan korban (Im. 1-8). Apabila seorang anak luar biasa cerdas, ia meneliti lebih banyak dari kitab Imamat.

Hanya anak laki-laki yang menerima pendidikan formal di luar rumah. Mereka mulai dengan berkumpul di rumah guru, tempat mereka membaca gulungan-gulungan naskah yang berisi bagian-bagian kecil dari Kitab-kitab Suci, seperti Shema. Ini adalah "sekolah dasar" pada zaman itu.

Ketika anak-anak laki-laki itu cukup besar untuk belajar pelajaran sabat, mereka berkumpul di "rumah Kitab" - yaitu sinagoge. Di sinagoge mereka memasuki sebuah ruangan tempat gulungan-gulungan Taurat itu disimpan dan mengerjakan pelajaran mereka di bawah pengawasan sang Hazzan, penjaga gulungan-gulungan itu.

Kemudian mereka diperbolehkan membahas soal-soal tentang hukum Taurat dengan guru-guru Farisi. Pembahasan-pembahasan ini merupakan tingkat "lanjutan" dari pendidikan Yahudi.

Pada zaman Perjanjian Baru, sekolah diadakan sepanjang tahun. Selama bulan-bulan musim panas anak-anak lelaki hanya pergi ke sekolah 4 jam sehari. Apabila harinya panas luar biasa, sekolah mungkin diliburkan sama sekali. Jam pelajaran diselenggarakan sebelum pukul 10:00 pagi dan setelah pukul 3:00 sore. Istirahat 5 jam terjadi selama bagian terpanas dari hari.

Dalam ruang kelas itu terdapat sebuah podium kecil yang tinggi letaknya, tempat guru duduk bersilang kaki. Di depan guru terdapat sebuah rak pendek dengan gulungan-gulungan naskah yang berisi bagian-bagian pilihan dari Perjanjian Lama. Buku-buku pelajaran tidak ada. Murid-murid duduk di lantai dekat kaki guru itu (Kis. 22:3).

Kelas-kelas tidak digolong-golongkan menurut usia; semua murid belajar bersama-sama dalam ruangan yang sama. Karena alasan ini, pengajaran mereka harus dipertimbangkan secara tersendiri. Guru menyalin sebuah ayat untuk para murid yang lebih kecil dan mereka mengucapkannya keras-keras sampai mereka menguasainya. Sementara itu, guru membantu anak-anak yang lebih tua untuk membaca sebuah perikop dari kitab Imamat. Kebisingan itu mungkin akan sangat mengganggu kita, tetapi anak-anak Israel segera terbiasa dengannya. Orang-orang bijaksana berpendapat bahwa apabila sebuah ayat tidak diulang-ulang dengan suara keras, ayat tersebut segera akan dilupakan.

D. Pelatihan Kejuruan.

Anak-anak lelaki sudah pasti dengan gembira mengikut ayah mereka ke ladang untuk bekerja atau ke pasar untuk membeli dan menjual. Dengan teliti mereka memperhatikan ayah mereka menanam, memangkas, dan menuai. Adakalanya mereka diperbolehkan mencoba mengerjakan tugas yang sukar, yang menambahkan kegembiraan mereka. Suatu dunia baru telah terbuka bagi seorang anak laki-laki ketika ia cukup umur untuk pergi bersama ayahnya.

Akan tetapi, pekerjaan itu membosankan dan melelahkan. Sewaktu anak itu menjadi semakin besar, tanggung jawabnya juga menjadi semakin besar. Tidak lama kemudian, anak laki-laki itu harus bekerja sehari penuh tanpa berhenti, kecuali untuk beristirahat sejenak.

Kaum pria dewasa mendorong anak laki-laki mereka untuk bekerja keras dengan cara menegur mereka dengan ayat Kitab Suci. Amsal 6:9-11 berbunyi, "Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring' - maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata." Untuk bertahan hidup, suatu keluarga harus bekerja keras.

Orang Israel berpendapat bahwa kehidupan yang tidak terdisiplin tidak akan mempersiapkan seorang pemuda untuk mengatasi hal-hal yang akan dihadapinya. Mereka mengajarkan anak-anak mereka arti tanggung jawab pada usia yang muda sekali, jadi ketika anak-anak itu mencapai usia dewasa mereka sanggup memenuhi tuntutan-tuntutannya dengan percaya diri. Apabila seorang anak laki-laki menjadi dewasa tanpa memiliki rasa tanggung jawab, ia tidak saja memalukan dirinya sendiri, tetapi mendatangkan malu kepada keluarganya. Salah seorang bijaksana menyatakan, "Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya" (Ams. 29:15).

Karena Israel adalah sebuah masyarakat petani, banyak hikmat praktis yang diturunkan dari ayah kepada anak laki-laki adalah mengenai bertani. Ini mencakup pelajaran tentang mengolah tanah untuk ditanami dan membudidayakan bermacam-macam tanaman, serta cara menuai dan menyimpan panen yang berlimpah-limpah. Anak laki-laki belajar berbagai keterampilan ini dengan cara bekerja di samping ayahnya selama masa mudanya. Bahkan ketika orang Yahudi mulai mencari pekerjaan lain, mereka tetap merupakan "rakyat negeri." (Lihat "Pertanian.")

Para ayah juga bertanggung jawab untuk mengajar anak laki-laki mereka sebuah kejuruan atau keterampilan. Misalnya, apabila sang ayah seorang tukang periuk, ia mengajarkan keterampilan itu kepada anak laki-lakinya. Salah seorang bijaksana bangsa Yahudi menandaskan bahwa "orang yang tidak mengajarkan anak laki-lakinya suatu kejuruan yang berguna sedang membesarkan dia untuk menjadi pencuri."

Sementara anak laki-laki belajar berbagai keterampilan ini, anak-anak perempuan belajar membakar roti, memintal, dan menenun di bawah pengawasan ibu mereka (Kel. 35:25-26; 2Sam. 13:8). Apabila tidak ada anak laki-laki dalam keluarga, anak-anak perempuan mungkin harus belajar pekerjaan ayah mereka (Kej. 29:6; Kel. 2:16).

Taxonomy upgrade extras: 

PPB-Referensi 03b

Nama Kursus : PENGANTAR PERJANJIAN BARU
Nama Pelajaran : Kanon dan Kitab-kitab PB
Kode Pelajaran : PPB-R03b

Referensi PPB-03b diambil dari:

Judul Buku : Latar Belakang Perjanjian Baru III
Pengarang : Dr. Lukas Tjandra
Penerbit : SAAT, Malang, 1999
Halaman : 136 - 147

REFERENSI PELAJARAN 03b - KANON DAN KITAB-KITAB PB

PENGENALAN YANG HARUS ADA TENTANG ALKITAB

SEJARAH TERBENTUKNYA PERJANJIAN BARU

Perjanjian Baru ditulis oleh para rasul dengan pimpinan Allah dan gerakan dari Roh Kudus, kemudian dua puluh tujuh kitab itu diakui oleh gereja, dan pada abad kedua disebut sebagai Alkitab Perjanjian Baru atau disingkat menjadi PB.

Ketika Tuhan Yesus hidup di dunia, orang Yahudi sudah mempunyai sebuah "Kitab", yang pada masa itu sudah diakui sebagai Firman Allah, bahkan Tuhan Yesus sendiri pun sering mengutipnya, yaitu Alkitab Perjanjian Lama yang kita pakai sekarang. Adapun Perjanjian Baru yang kita baca baru terbentuk setelah melewati masa penetapan yang cukup panjang.

Tuhan Yesus Kristus sendiri tidak menulis buku apapun bagi kita. Berita yang Dia sampaikan saat berkhotbah disebut sebagai Injil, yang berarti kabar baik atau berita yang membawa berkat, yaitu kabar baik tentang kasih Allah yang besar, tujuan dan kehendak-Nya atas diri manusia. Tuhan menyampaikan segala kebenaran secara lisan kepada murid-murid-Nya, dan menugaskan mereka untuk memberitakannya secara turun temurun, bersaksi bagi-Nya di mana-mana tempat, baik yang jauh maupun yang dekat. Sebelum Kristus mati, bangkit dan naik ke sorga, Dia memberikan perintah kepada murid-muridNya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia, setelah mereka menerima Roh Kudus, mereka pun pergi ke segala penjuru untuk memberitakan kabar baik, Allah menyelamatkan manusia. Sebab itu, diawal perkembangan kekristenan, Kristus dan murid-murid tidak mempertimbangkan akan meninggalkan karya tulis bagi kita. Pada awal pemberitaan mereka, ayat-ayat yang mereka kutip untuk membuktikan ajaran Kristus hanyalah Perjanjian Lama saja, namun setelah Kristus naik ke sorga, kekristenan menjadi semacam gerakan yang berkuasa, berkembang dengan amat pesat, dan setelah melalui jangka waktu yang cukup panjang, karena kebutuhan masing-masing tempat dan masalah praktis di pelbagai bidang, barulah muncul beberapa tulisan awal, itulah tahap pertama dari penulisan Perjanjian Baru.

Menulis empat Injil adalah tahap kedua, hal itu kita ketahui dari pendahuluan Injil Lukas: "Teofilus yang mulia, banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan saksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar". (Luk. 1:1-4).

Berdasarkan beberapa ayat itu, dapat diketahui dengan jelas, ada banyak catatan tentang pelayanan Kristus yang dipaparkan di hadapan Lukas, dia tidak mengatakan, semua catatan itu tepat adanya, namun mengisyaratkan bahwa catatan- catatan itu tidaklah lengkap atau tidak sempurna. Mungkin sekali merupakan catatan tentang riwayat Kristus yang berbentuk serpihan: dokumen yang satu mungkin mencatat akan kematian dan kebangkitan Kristus, catatan lain mungkin merupakan kumpulan dari perumpamaan-perumpamaan-Nya. Tidak peduli bagaimana isi dari setiap dokumen itu, namun Lukas secara pasti memberitahukan kepada kita, tatkala dia merencanakan menulis Injil Lukas, dokumen- dokumen itu sudah ada. Lukas membandingkan dan menyeleksi data-data itu, disusun dan disatukan, dicocokkan saat berdialog dengan para saksi mata, yang menyaksikan pelayanan Yesus, saat mengadakan perjalanan Pekabaran Injil dengan Paulus pun dia pergunakan untuk mengumpulkan data, supaya bisa memberikan catatan yang tepat bagi gereja. Semua itu adalah fakta yang dapat kita simpulkan. Dia juga memberitahu kita, data-data yang dia dapatkan itu akan dia tuliskan menurut urutannya, maksudnya dia akan menyusun dengan teliti seturut kronologis waktunya, seturut proporsi yang pas pada masing-masing topik, untuk menyatakan bahwa tulisannya mempunyai ciri khas yang seharusnya ada pada tulisan ilmiah dan naskah sejarah. Pendahuluannya mengingatkan kepada kita, iman orang Kristen adalah iman yang didirikan di atas fakta sejarah yang kokoh.

Surat Paulus, juga merupakan representatif dari permulaan Perjanjian Baru. Setelah Paulus mengakhiri perjalanan Pekabaran Injilnya ke Asia Kecil dan pulang ke Antiokhia, dia mendengar berita tentang iman orang Kristen yang baru percaya di Galatia mengalami krisis besar (Gal. 1:6; 3:1). Karena dia tidak bisa segera mengunjungi mereka, maka dia merasa perlu untuk menulis surat menasihati mereka untuk tekun memelihara iman di dalam Kristus, agar tidak dikalahkan oleh bidat, di bawah gerakan Roh Kudus dia menuliskan Surat Galatia. Untuk alasan yang sama, dia juga menulis Surat 1 dan 2Tesalonika, Surat Korintus dan lain-lain, dengan alasan yang sama rasul Petrus juga menuliskan dua buah surat.

Pada mulanya, surat-surat seperti itu hanya ditujukan pada satu gereja atau gereja-gereja di satu wilayah saja, kemudian, ada gereja-gereja yang menyalin surat-surat itu, diedarkan dan dibaca, namun pekerjaan menyusun surat-surat dan kitab-kitab Injil baru dilakukan pada akhir abad pertama. Di akhir zaman rasul- rasul, gereja sudah mulai mengumpulkan karya tulis dan surat-surat para rasul, dan dikategorikan setara dengan Perjanjian Lama, sebagai Firman Allah. Di dalam suratnya, Paulus sendiri jelas-jelas mengatakan bahwa ajarannya diwahyukan dari Allah (1Kor. 2:7-13; 14:37; 2Tes. 2:13), Yohanes juga menegaskan hal yang sama (Why. 1:2). "Seorang pekerja patut mendapat upahnya" kutipan yang Paulus pakai di 1Tim. 5:18 terdapat juga di Mat. 10:10 dan Luk. 10:17. Terlihat di sini bahwa saat itu Injil Matius dan Injil Lukas sudah ada, dan sudah diterima sebagai bagian dari Alkitab. 2Ptr. 3:15-16, Petrus juga dengan jelas menyetarakan Surat Paulus dengan kitab-kitab yang lain.

Selain sekelumit data yang bisa kita dapatkan dari Alkitab sendiri, untuk menyelidiki akan sejarah terbentuknya Perjanjian Baru, kita perlu menelusurinya dari sejarah yang beraneka ragam. Bahan penyelidikan yang penting adalah karya tulis bapak gereja mula-mula, keputusan dan perintah dari konsili gereja, juga bisa mendapatkan bukti tambahan dari karya tulis sebagian bidat.

Setelah zaman para rasul, sebagian besar tulisan Perjanjian Baru sudah dipergunakan secara meluas. Clement, yang di Roma, adalah orang penting dari gereja masa itu. Pada tahun 95 TM, dengan status Uskup, dia menulis surat ke gereja di Korintus, di dalam suratnya tersebut dia mengutip ayat-ayat yang terdapat di Matius, Lukas, Roma, 1Korintus, 2Korintus, Ibrani, Efesus, 1Timotius, 1Petrus dan lain- lain. Uskup pertama di Antiokia, di tahun 110 TM, di tengah perjalanan sahidnya dari Antiokia ke Roma, pernah menulis tujuh pucuk surat, dengan mengutip ayat-ayat dari Matius, 1Petrus, 1Yohanes dan sembilan surat-surat Paulus, bahkan di dalam surat-suratnya itu dia juga memeteraikan ketiga kitab Injil yang lain. Papias, Uskup Hilapolis di dalam tulisannya tafsiran kata-kata kudus Yesus dan buku-buku lain yang menyerang bidat, selain mengutip dari Injil Yohanes, juga menyinggung tentang sumber dari Injil Matius dan Injil Markus. Di antara th. 150-166 TM, Justin Martyr, seorang filsuf yang ternama pada zaman itu, di dalam tulisannya Apologetika Kristen, pernah menyinggung Kitab Wahyu, Kisah Para Rasul dan surat-surat Paulus, dia juga menyebutkan bahwa Injil dan Perjanjian Lama, telah mendapatkan status yang sama di gereja masa itu, bahkan dibacakan secara bergantian di dalam gereja. Saat itu masih ada Tatian, yang pernah menuliskan tafsiran empat Injil, menyebutnya sebagai Synoptic Gospel. Terbukti di sini, bahwa keberadaan empat Injil telah diakui secara umum oleh gereja.

Setelah zaman para rasul, selain kesaksian-kesaksian para Uskup yang telah disinggung tadi, ada banyak bidat dan karangan fiktif yang memakai nama samaran juga bisa dipakai sebagai bukti. Yang dimaksud dengan karangan fiktif adalah sebagian pengarang yang kira-kira sezaman dengan Kitab-kitab Perjanjian Baru, termasuk sebagian Pseudepigrafa, karena zamannya berdekatan, sebab itu memungkinkannya untuk memalsukan, membingungkan. Pengarang-pengarang seperti itu juga mengutip ayat Alkitab, hanya saja membengkokkan arti yang terdapat di dalam ajaran Alkitab dan respons dari tempat-tempat yang mendapat pengaruh Alkitab. Sebab itu, karangan mereka juga menjadi salah satu bahan bukti. Karangan yang sezaman itu termasuk Surat Barnabas, Shepherd of Hermas, II Clement. Karangan- karangan tersebut sangat dipengaruhi oleh Kitab Injil, Surat Paulus, Wahyu dan lain-lain. Adapun penggerak bidat pada zaman ini terdapat Simon, Serinthus Basilides dan lain-lain guru-guru bidat dari aliran Gnostikisme, yang menyelewengkan ajaran Kristus, tetapi mengutip dari Matius, Lukas, Yohanes, Roma, 1 Korintus, Kolose dan lain-lain. Selain itu masih ada Marcion, otak Bidat yang lain, demi mempromosikan ajaran Bidatnya, maka di tahun 140 TM, berdasarkan opininya sendiri terhadap Yesus dan Paulus, juga konsep teologi yang diyakininya, dia menyusun sebuah "Perjanjian Baru". Inilah editor pertama dari Perjanjian Baru. "Perjanjian Baru" yang disusunnya hanya mencakup Injil Lukas, Surat Roma, 1 dan 2Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 dan 2Tesalonika, Filemon.

Ringkasnya, zaman ini bisa disebut sebagai masa permulaan dari Kitab Perjanjian Baru. Gereja, bapa gereja, ajaran bidat, dan karangan fiktif pada zaman itu merefleksikan bahwa saat itu Perjanjian Baru telah memberi pengaruh yang cukup mendalam, orang-orang yang mengutip ayat-ayat Perjanjian Baru juga semakin serius dan semakin tertib.

Di akhir abad ke-2, di antara bapak-bapak gereja, Irenaeus adalah pemimpin yang menonjol, dia adalah Uskup dari kota Lyon, seumur hidupnya berjuang dalam memerangi ajaran-ajaran palsu, mendebat ajaran Bidat. Di antara karangannya, selain Surat Yakobus, 2Petrus, Yudas, Ibrani, keempat kitab ini, ayat-ayat Perjanjian Baru pernah dikutipnya. Saat itu, Perjanjian Baru secara garis besar telah berbentuk, selain beberapa kitab yang masih dipertimbangkan, pada umumnya telah diakui secara tidak langsung oleh semua gereja. Irenaeus amat menekankan Alkitab adalah tulisan yang diwahyukan oleh Roh Kudus. Kira-kira pada tahun 200 TM, waktu Tertullian, pemimpin gereja Carthage masih hidup di dunia, tulisan asli dari Surat-surat Perjanjian Baru masih berada, dia menyebut kitab agama Kristen itu sebagai Perjanjian Baru. Dia pernah mengutip empat Injil, tiga belas Surat Paulus, 1 Yohanes, 1 Petrus, Yudas, Ibrani. Dia berpendapat, bahwa Surat Ibrani ditulis oleh Barnabas.

Pada masa yang sama, muncul Fragments of Muratorian, sebuah gulungan kitab kuno yang baru ditemukan. Pada tahun 1740, Muratorian, sejarawan Itali, menemukan serpihan dari gulungan kuno, di perpustakaan kota Milan, Itali Utara, yang ditulis di dalam bahasa Latin, bagian lainnya mungkin sudah hilang. Gulungan itu dimulai dari Lukas, namun karena Lukas diberi nomor tiga, dan Yohanes diberi nomor empat, maka diketahui bahwa nomor satu dan nomor dua adalah Matius dan Markus. Meskipun bagian awalnya telah hilang, namun gulungan ini mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Kitab-kitab Perjanjian Baru. Karena inilah kitab kuno pertama yang memandang Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru itu setara adanya. Di depan Perjanjian Baru terdapat daftar isi Perjanjian Lama dan secara resmi menerangkan akan perbedaan Alkitab dengan karangan fiktif. Di antara Kitab-kitab Perjanjian Baru, yang belum disinggung adalah Ibrani, 1 dan 2Petrus, dan Yakobus, namun mencakup The Wisdom of Solomon dan Catatan Inspirasinya Petrus.

Setelah menginjak abad ke-3, sebagian besar karangan Perjanjian Baru telah dipakai oleh gereja-gereja, mayoritas orang di dalam hatinya telah mengakui sebagian kitab-kitab itu sebagai Kanon Alkitab, selain tujuh kitab: Yakobus, 2Petrus, 2 dan 3Yohanes, Ibrani, Yudas, Wahyu, selebihnya sudah tidak ada masalah. Pada masa itu, orang yang paling berpengaruh terhadap gereja adalah Origen dari Alexandra, karena dia bukan hanya banyak membaca, pergaulannya luas, juga memberikan tafsiran terhadap setiap kitab dalam Alkitab, dia telah secara sah menerima kedua puluh tujuh Kitab Perjanjian Baru yang kita pakai sekarang, meski masih sedikit meragukan Surat Yakobus, 2 dan 3Yohanes, 2Petrus.

Setelah abad ke-3, memantapkan keputusan Perjanjian Baru sebagai Kanon Alkitab masih tetap berjalan, hanya kitab-kitab yang dikategorikan sebagai Kanon Perjanjian Baru sudah semakin mantap. Menurut Tertulian, orang yang paling berjerih lelah di dalam hal ini adalah para Uskup dan pemimpin-pemimpin gereja. Nyata bahwa mereka mempunyai pandangan dan insting rohani: sekalipun banyak orang Kristen beranggapan, hanya karangan para rasullah yang pantas dikategorikan sebagai Kanon Perjanjian Baru, namun Kitab Markus dan Lukas yang dikenal oleh umum sebagai kitab yang bukan ditulis oleh rasul, tidak mereka hapus. Garis besar dari patokan mereka adalah, kitab yang diterima tidak ada yang tidak bernilai, kitab yang ditolak tidak ada yang bernilai. Sebuah kitab tidak bisa diterima sebagai Kanon hanya karena pengarangnya memakai nama salah seorang rasul, namun perlu ditinjau bernilai atau tidaknya isi kitab tersebut.

Dari sejarah ringkas itu, kita ketahui, bahwa ada satu masa, di mana gereja memang belum dapat memutuskan kitab-kitab mana saja yang bisa diterima sebagai Kanon Perjanjian Baru. Sebab utamanya antara lain: saat itu, transportasi di dalam kerajaan Romawi yang begitu luas belum begitu lancar, ditambah lagi penganiayaan-penganiayaan yang dialami oleh gereja, membuat gereja-gereja tidak mempunyai kesempatan untuk mengadakan satu kali pertemuan bersama, untuk menetapkan kitab-kitab mana saja yang terbukti memiliki otoritas rasul, dapat dikategorikan sebagai Kanon Perjanjian Baru yang sejajar dengan Perjanjian Lama.

Sampai permulaan abad ke-4, pemerintah Romawi masih melancarkan penganiayaan sebegitu rupa terhadap orang Kristen, sampai-sampai memusnahkan Alkitab. Eusebius, tokoh sejarah gereja lahir di masa ini. Dia adalah seorang pengawas di Kaisaria, saat itu, Kaisar Domitian sedang melangsungkan penganiayaan besar-besaran yang terakhir dan terekstrim untuk memusnahkan orang Kristen. Demi Kristus, Eusebius dijebloskan ke dalam penjara. Salah satu tujuan khusus dari penganiayaan kali ini adalah memusnahkan semua Alkitab orang Kristen. Kurang lebih ada sepuluh tahun, pemerintah Roma mengutus petugas khusus untuk menggeledah Alkitab yang dimiliki oleh penduduk, semua Alkitab yang berhasil ditemukan dibakar di jalan raya, di depan umum. Pada masa yang mengerikan itu, untuk menyelidiki dan memastikan kitab- kitab mana saja yang dapat dikategorikan sebagai Kanon memang menuntut pengorbanan yang amat sangat mahal. Namun saat Kaisar Constantine naik takhta pada tahun 312 TM, situasinya berubah total: Alkitab boleh dibaca secara terbuka, maka selain Kaisar sendiri menerima Kristus, dia bahkan mengesahkan kekristenan sebagai agama negara. Eusebius sangat dipandang oleh Kaisar Constantine, dan diangkatnya sebagai penasihat utama di bidang agama dalam kekaisarannya. Setelah Constantine naik takhta, hal pertama yang dia lakukan adalah memberikan mandat, di bawah komando Eusebius, mereka harus menyediakan lima puluh jilid Alkitab untuk lima puluh buah gereja besar yang berada di Constantinople. Kelima puluh jilid Alkitab itu ditulis di atas gulungan kulit domba yang paling lembut, begitu besarnya volume Alkitab itu, sampai membutuhkan dua buah pedati besar kerajaan, untuk membawanya dari Kaisaria ke Constantinople. Kitab-kitab apa saja yang terdapat di dalam Kanon Perjanjian Barunya Eusebius? Seluruh Kitab Perjanjian Baru yang kita gunakan hari ini. Setelah Eusebius melakukan perjalanan keliling guna meneliti pendapat dari masing-masing gereja, maka dia membagikan Alkitab Perjanjian Baru menjadi empat kategori, yaitu:

  1. Kitab-kitab yang diakui secara umum oleh semua gereja, yang mencakup: empat Injil, Kisah Para Rasul, Surat-surat Paulus, 1Yohanes, 1Petrus dan Wahyu.
  2. Kitab-kitab yang masih diragukan oleh sebagian orang, karenanya masih perlu dipertimbangkan adalah: Yakobus, Yudas, 2Petrus, 2 dan 3Yohanes.
  3. Kitab-kitab Apokrifa yang bermasalah, termasuk: Acts of Paul, Shepherd of Hermas, Apocalypse of Peter, Epistle of Barnabas, Teaching of the Twelve Apostles.
  4. Kitab-kitab Bidat, yaitu kitab-kitab yang sama sekali ditolak, seperti: Gospel of Peter, Gospel of Thomas, Act of Andrew, Act of John dan lain-lain.

Dua puluh tujuh kitab yang dia terima dan dimasukkan ke dalam Kanon Perjanjian Baru, bukan saja sama persis yang kita pakai sekarang, pada saat yang sama juga membedakannya dari Kitab-kitab Apokrifa dan Kitab- kitab bidat.

Pada masa yang sama, masih terdapat tidak sedikit tokoh-tokoh penting yang memberikan sumbangsihnya pada penetapan Kanon Perjanjian Baru, kami hanya akan mengutarakan secara singkat akan beberapa orang di antara mereka. Athanathius, Uskup Aleksandria yang amat dikenal sebagai laskar kebenaran itu, adalah leluhur dari Apologis yang ortodoks, seumur hidupnya berperang habis-habisan melawan bidat. Tahun 367 TM, adalah hari Paskah yang ke-39 di dalam jabatan keuskupannya, di dalam wejangan Paskahnya, Athanathius selain memberi nasihat kepada jemaat, juga memberi pengajaran yang diambil dari satu perikop Alkitab, maksudnya adalah untuk mengingatkan kepada jemaat masa itu, untuk tidak membaca buku-buku yang mengaburkan, agar jangan disesatkan oleh ajaran bidat, demi keamanan jemaat, dia menyusun daftar Perjanjian Baru yang dibubuhi dengan penjelasan. Daftar tersebut sama persis dengan Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang kita pakai sekarang. Kedua puluh tujuh Kitab Perjanjian Baru sudah disejajarkan, tidak lagi dipisahkan menjadi beberapa kategori. Kemudian lanjutnya, "Alkitab adalah sumber keselamatan. Barangsiapa merasa dahaga dapat melepaskan dahaganya dengan firman yang terdapat di dalam kitab ini. Hanya kitab-kitab inilah yang mengajarkan firman saleh". Jerome adalah sarjana Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang terpenting di masa ini, seumur hidupnya tidak terlepas dari pena. Alkitab Perjanjian Baru berbahasa Latin, yang dipakai di gereja-gereja Roma adalah karya terjemahannya, isinya sama persis dengan kedua puluh tujuh kitab yang kita pakai sekarang. Augustine, Uskup Carthage, teolog ternama pada zaman itu, juga menerima kedua puluh tujuh Kitab Perjanjian Baru. The Council of Carthage yang diselenggarakan pada tahun 397 TM dipimpin olehnya. Salah satu keputusan Konsili itu adalah mengenai Kanon Perjanjian Baru. Setelah direstui dan ditetapkan secara resmi di dalam Konsili itu: menerima sepenuhnya akan kedua puluh tujuh Kitab Perjanjian Baru yang kita pakai sekarang, dengan tidak dibeda- bedakan kategorinya. Inilah ketetapan resmi yang diambil dalam Konsili organisasi gereja mengenai Kanon Perjanjian Baru.

Pada awal abad ke-4, masa di mana kekristenan mulai menggunakan bentuk sidang raya untuk mengatur segala urusan yang menyangkut pengelolaan gereja, maka tidak sedikit pertemuan-pertemuan selanjutnya yang berkaitan erat dengan Kanon Perjanjian Baru, seperti Council of Ephesus, Council of Constantinople, Council of Nicaea dan lain-lain. Namun setelah The Council of Carthage yang diselenggarakan pada tahun 397, gereja-gereja juga sidang raya telah sepakat menerima kedua puluh tujuh Kitab Perjanjian Baru adalah sejajar dengan Perjanjian Lama, sebagai Alkitab yang diwahyukan oleh Allah, yang dijadikan dasar iman dan standar hidup dari seluruh jemaat.

Setelah lebih dari seribu tahun dirongrong oleh banyak raja-raja, ajaran-ajaran bidat dan sebagainya, diserang, dipecah belah, diadili dengan Lower Criticism dan Higher Criticism yang dilancarkan oleh filsuf-filsuf modern, pemikir-pemikir, tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh sejarah, Alkitab tetap tidak bergeming, tetap sebagai dasar iman gerejani dan makanan rohani setiap hari bagi jemaat.

Akhirnya, butir yang harus ditegaskan adalah, setiap Kitab Perjanjian Baru, otoritas dan posisi yang dimiliki hari ini, bukannya baru timbul setelah diakui secara resmi sebagai Kanon Alkitab, namun sebaliknya, justru karena gereja menemukan kitab-kitab itu sendiri mempunyai otoritas, sehingga mereka sepakat mengakui kitab-kitab itu memang diwahyukan oleh Allah, dan dimasukkannyalah sebagai Kanon Alkitab.

Taxonomy upgrade extras: 

PPB-Referensi 04a

Nama Kursus : PENGANTAR PERJANJIAN BARU
Nama Pelajaran : Kitab-kitab Injil dan Kehidupan Tuhan Yesus
Kode Pelajaran PPB-R04a

Referensi PPB-04a diambil dari:

Judul Buku : Memahami Perjanjian Baru
Pengarang : John Drane
Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1996
Halaman : 53 - 65

REFERENSI PELAJARAN 04a - KITAB-KITAB INJIL DAN KEHIDUPAN TUHAN YESUS

KELAHIRAN YESUS DAN PERMULAAN PELAYANANNYA

Kisah tentang kelahiran Yesus memperlihatkan bahwa bukan ahli-ahli agama, melainkan rakyat biasalah yang pertama-tama mengenali penyelamat yang dijanjikan Allah ketika Ia datang. Lukas 1 menceritakan tentang seorang imam yang tidak begitu dikenal, Zakharia, dan istrinya Elizabet, yang sedang menunggu saat Allah membebaskan umat-Nya (Luk. 1:5-28). Karena sikap menanti itu, mereka mendapat anugerah berupa pemberitahuan tentang kelahiran anak lelaki mereka sendiri, yang dikenal sebagai Yohanes Pembaptis (Luk. 1:57-80). Maria, ibu Yesus, adalah anggota keluarga besar yang sama. Dari Magnificat, kidung pujian Maria dalam bentuk syair yang menggetarkan (Luk. 1:46 - 55), kita dapat melihat betapa rindunya orang-orang ini menunggu agar Allah bertindak dalam hidup mereka. Maria dan sahabat-sahabatnya benar-benar gembira karena Allah akan bertindak dengan cara yang baru.

Tema-tema yang sama ditekankan dalam semua cerita tentang peristiwa Natal yang pertama itu - cerita-cerita yang sudah kita kenal semuanya. Orang-orang pertama yang mendengar kabar baik tentang penggenapan janji-janji Allah dengan lahirnya Yesus adalah beberapa gembala di perbukitan Yudea (Luk. 2:8-20), kemudian Simeon dan Hana di Bait Allah (Luk. 2:25-38). Tidak satu pun dari orang-orang itu merupakan orang penting dalam masyarakat pada umumnya. Cerita-cerita dalam pasal-pasal pertama Injil Lukas menekankan bahwa pejabat resmi - apakah dalam bidang politik atau agama - tidak mengenali Yesus. Hal ini terus terulang sepanjang kisah kehidupan Yesus. Jelaslah untuk dapat benar- benar mengerti karya-karya Allah dalam Kristus orang-orang terpenting penting pun harus menjadi seperti anak-anak kecil (Luk. 18:17).

1. Kapankah Yesus lahir?

Tidak mudah untuk menentukan dengan tepat kapan Yesus dilahirkan. Menurut perkiraan yang umum, Yesus lahir antara tahun 1 sM dan tahun 1 M. Tetapi hal ini ternyata tidak benar, karena kesalahan yang dibuat pada abad ke-6 M di dalam menghitung permulaan tarikh Masehi. Ada empat bukti yang perlu dipertimbangkan.

Pertama, menurut Matius, "Yesus dilahirkan di kota Betlehem di negeri Yudea pada masa pemerintahan Raja Herodes" (Mat. 2:1, BIS) - yakni sebelum kematian Herodes Agung pada tahun 4 sM.

Kedua, Lukas lebih berminat untuk menempatkan kisahnya dalam konteks yang lebih luas dari kekaisaran Roma; menurut laporannya, Yesus dilahirkan ketika sensus pertama dijalankan pada waktu Kirenius gubernur Siria (Luk. 2:2). Yosefus menceritakan bahwa seseorang yang bernama Kirenius memang dikirim ke Siria dan Yudea guna menyelenggarakan suatu sensus pada permulaan tarikh Masehi (Antiquities 18.1). Tetapi sensus ini merupakan bagian operasi pembersihan setelah Arkhelaus, anak lelaki Herodes Agung, dicopot dari jabatannya. Hal itu semestinya terjadi pada tahun 6 atau 7 M, dan tidak mungkin terjadi sebelum kematian Herodes Agung pada tahun 4 sM.

Oleh karena itu, beberapa ahli menduga bahwa orang yang disebut "Kirenius" oleh Lukas sebenarnya Saturninus, perwira tinggi Romawi di Siria, yang mengadakan sensus pada tahun 6 sM. Tetapi kita tidak mempunyai bahan untuk menunjukkan bagaimana Lukas tidak dapat membedakan kedua orang itu. Pada bagian lain Injilnya dan Kisah Para Rasul, ia sangat cermat serta sangat teliti dalam pemakaian nama- nama dan gelar-gelar pejabat Roma. Bagaimanapun juga, kita tidak mempunyai bukti nyata, bahwa Saturninus memang mengadakan sensus.

Ketiga, Lukas juga membuat pernyataan-pernyataan yang lain tentang waktu terjadinya peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan Yesus. Ia, umpamanya, mengatakan bahwa Yesus berumur tiga puluh tahun ketika Ia dibaptis, yakni "Dalam tahun kelima belas dari pemerintahan Kaisar Tiberius" (Luk. 3:1). Tiberius menjadi penguasa kekaisaran Roma pada tahun 14 M, sehingga tahun kelima belas adalah tahun 28 M. Tetapi sebenarnya Tiberius telah turut memerintah dengan pendahulunya, Agustus, sejak tahun 11 M. Jadi, walaupun ia baru menjadi kaisar setelah Agustus meninggal pada tahun 14 M, ia telah memegang kekuasaan tiga tahun sebelumnya. Mungkin sekali Lukas menghitung tahun kelima belas pemerintahan Tiberius sejak tahun 11 M, sehingga Yesus berumur tiga puluh tahun pada tahun 25-26 M. Dengan demikian, Ia lahir pada tahun 5 atau 4 sM, jadi sebelum Herodes Agung meninggal.

Keempat, beberapa ahli berusaha lebih spesifik lagi dengan menghitung terjadinya suatu konjungsi planet-planet sekitar tahun 6 sM dan menganggap peristiwa astronomi ini dapat menerangkan bintang terang yang disebut dalam Injil Matius. Tetapi argumen seperti ini jelas merupakan spekulasi.

Dari hal di atas kita dapat lihat bahwa ada dua bukti yang menunjuk bahwa Yesus lahir sekitar tahun 4 sM, sedangkan informasi lain yang diberikan oleh Lukas tentang sensus pada masa Kirenius kelihatannya tidak cocok dengan cara penentuan waktu ini. Ada tiga kemungkinan untuk menjelaskan persoalan ini.

Pertama, keterangan Lukas disalah-artikan. Sejumlah ahli mengutarakan bahwa masalah yang kami kemukakan pada hakekatnya tidak ada. Menurut mereka, dari segi tata bahasa, Lukas 2:2 dapat diterjemahkan, "Sensus ini dijalankan sebelum sensus yang diadakan ketika Kirenius menjadi gubernur negeri Siria," berbeda dengan terjemahan yang lazim. "Sensus yang pertama ini dijalankan waktu Kirenius menjadi gubernur negeri Siria" (BIS; bnd. TB). Pengertian seperti ini memang mungkin, walaupun bukanlah makna utama pernyataan itu. Lagi pula, untuk itu harus ada perubahan terhadap teks, walaupun secara tersirat. Beberapa ahli Perjanjian Baru yang terkemuka mendukung penjelasan demikian, tetapi penjelasan tersebut tidak diterima secara luas.

Kedua, Lukas keliru. Kebanyakan ahli malahan cenderung menganggap informasi yang diberikan dalam Lukas 2:2 sebagai kekeliruan. Ini merupakan cara yang mudah memecahkan masalah, tetapi tetap mengandung kesulitan-kesulitan. Seperti yang dikemukakan di atas, di bagian- bagian lain Injilnya dan dalam Kisah Para Rasul, bila Lukas membicarakan orang-orang dan peristiwa-peristiwa dalam kekaisaran Roma, ia memperlihatkan dirinya sebagai seorang ahli sejarah yang benar-benar dapat diandalkan. Oleh karena itu kelihatannya tidak mungkin ia memberi keterangan yang begitu spesifik di sini kalau ia tidak mempunyai alasan yang kuat untuk itu. Lagi pula, pernyataannya tentang waktu Yesus dibaptis oleh Yohanes cocok dengan asumsi bahwa Yesus lahir pada masa pemerintahan Herodes Agung, kira-kira sepuluh tahun sebelum pemerintahan Kirenius yang disebut oleh Yosefus. Hampir tidak mungkin, seorang sejarawan yang cerdas akan membuat dua pernyataan yang saling bertentangan pada konteks yang berdekatan dalam kisahnya. Kalau kita menganggap Lukas memakai sumber-sumbernya dengan cermat dan menulis secara saksama serta mengerti apa yang ditulisnya, maka sulit mengatakan bahwa ia memberi keterangan yang keliru mengenai sensus di bawah Kirenius.

Ketiga, Lukas tidak memberikan cerita yang lengkap. Suatu penjelasan yang lebih baik dapat ditemukan bila kita mengingat bagaimana sebenarnya kehidupan berlangsung di kekaisaran Roma. Memerintah Yudea dari Roma pada tahun 7 M tidaklah sama keadaannya bila dilakukan pada hari ini. Sekarang ini kita mempunyai komunikasi langsung ke seluruh penjuru dunia. Perserikatan Bangsa-bangsa di New York dapat mengambil suatu keputusan yang mempengaruhi sebuah negara di belahan dunia yang lain dan keputusannya itu dapat, disampaikan kepada negara itu dalam waktu beberapa menit saja. Tetapi di Roma purba keadaannya berbeda. Walaupun dalam kondisi yang ideal, sebuah dekrit yang ditandatangani kaisar di Roma dapat memakan waktu berbulan-bulan lamanya untuk mencapai provinsi yang jauh seperti Yudea - dan selalu ada kemungkinan bahwa pembawa pesan mengalami musibah di laut bila kapalnya karam, sehingga perintah kaisar tertunda lebih lama atau malahan hilang sama sekali. Pada zaman setelah Yesus, umpamanya, kaisar Kaligula mengirim perintah agar patungnya sendiri ditempatkan di Bait Allah di Yerusalem. Gubernur setempat lebih bijaksana dari kaisar dan menyadari bahwa hal itu akan ditentang keras oleh orang-orang Yahudi. Sebab itu ia menulis dan minta kepada kaisar untuk meninjaunya kembali. Tetapi Kaligula mendesak agar rencana itu dilaksanakan, dan menulis kepada gubernur untuk mengerjakannya. Kapal yang membawa perintah tersebut memerlukan waktu tiga bulan berlayar dari Roma ke Yudea. Sementara itu Kaligula dibunuh, dan sebuah kapal yang berangkat belakangan dari Roma membawa berita kematiannya dan tiba di Yudea 27 hari lebih dahulu dari kapal pertama sehingga perintahnya tidak dilaksanakan.

Dalam menentukan waktu pelaksanaan sensus yang dilakukan oleh Kirenius dengan tepat, kita harus mengingat kesulitan-kesulitan komunikasi dan pemerintahan pada waktu itu. Lagi pula, sudah diketahui secara umum bahwa sensus-sensus Roma (yang diadakan untuk maksud perpajakan) sering ditentang di banyak wilayah kerajaan. Salah satu sensus seperti itu, umpamanya, yang diadakan di Gaul sangat ditentang rakyat sehingga diperlukan 40 tahun guna menyelesaikannya! Selain itu, ada lagi persoalan-persoalan komunikasi. Sehingga, boleh jadi sensus yang diselesaikan oleh Kirenius pada tahun 6 atau 7 M telah didasarkan pada informasi yang dikumpulkan jauh sebelumnya.

Kaisar Agustus sangat gemar mengumpulkan angka-angka statistik; karena itu mungkin sekali ia meminta Herodes Agung untuk menjalankan suatu sensus. Kirenius dikirim pada tahun 6 M untuk membereskan pekerjaan yang belum diselesaikan oleh Arkhelaus, dan mungkin sekali ia memakai informasi yang dikumpulkan sebelumnya dan tidak memulai pekerjaan yang rumit itu dari awal sekali. Kalau ini benar, tidak ada alasan kuat untuk menganggap informasi Lukas tentang sensus tersebut bertentangan dengan keterangan lainnya yang mendukung perkiraan bahwa Yesus lahir pada tahun 5 sM. Bagaimanapun juga, ia lebih menaruh minat untuk menceritakan kisah kelahiran Yesus daripada menjelaskan kerumitan dunia politik Yudea pada waktu itu.

2. Yesus beranjak dewasa.

Kita hanya tahu sedikit sekali tentang kehidupan Yesus sebagai anak- anak. Rumahnya yang terbuat dari tanah liat merupakan bangunan yang terdiri hanya dari satu ruangan, dengan atap datar. Mungkin Yesus ikut membantu Yusuf dalam pekerjaannya. Mereka membuat alat-alat pertanian, perabot rumah dan mungkin juga bekerja untuk bangunan- bangunan. Setiap desa kecil seperti Nazaret mempunyai tukang kayunya sendiri, yang mungkin sekali juga melakukan berbagai tugas lain di samping pekerjaannya sebagai ahli bangunan kayu. Gambar-gambar yang kadang- kadang kita lihat tentang Yesus sebagai remaja, yang sedang membuat kuk untuk sapi, tidaklah melukiskan semua yang dilakukan- Nya. Tentu Ia juga terampil di dalam pekerjaan memplester tembok maupun menyerut kayu.

Walaupun rumah-Nya relatif sederhana, kelihatannya Yesus memperoleh pendidikan yang baik. Ia dianggap orang yang cocok untuk membaca Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani di sinagoge di Nazaret (Luk. 4:16- 20), padahal tidak semua orang seumur-Nya dapat membaca bahasa Ibrani, walaupun mereka mungkin dapat berbicara di dalam bahasa itu. Anak-anak lelaki Yahudi biasanya dididik di sinagoge setempat, dan Yesus tampaknya termasuk anak yang cerdas dalam kelas-Nya.

Nazaret merupakan kota yang menantang bagi seorang anak lelaki cerdas yang sedang beranjak dewasa. Memang benar Nazaret bukan kota penting. Ia tidak pernah disebut di bagian lain Alkitab, maupun dalam tulisan lain pada zaman itu. Tetapi mungkin sekali hal itu disebabkan karena orang-orang Yahudi yang sangat taat merasa bahwa rakyat Galilea - termasuk penduduk-penduduk Nazaret - terlalu banyak berhubungan dengan orang-orang bukan Yahudi. Galilea sendiri sering disebut "Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain" (Mat. 4:15), karena lebih banyak orang bukan Yahudi ketimbang orang Yahudi sendiri menetap di sana. Sebaliknya rakyat di provinsi Yudea di sebelah selatan telah terisolasi dari semua pihak lain kecuali dari masyarakat mereka sendiri, sehingga mereka menjadi tertutup dan mementingkan diri sendiri, dan juga merasa benar sendiri serta bersikap munafik. Tetapi Galilea sangat berbeda. Jalan-jalan raya yang membawa pedagang- pedagang dari timur dan pasukan Roma dari barat melintasi Galilea. Di Nazaret, Yesus bertemu dan bergaul dengan banyak orang bukan Yahudi. Tentu Ia memikirkan dan berbicara mengenai gagasan-gagasan Yunani dan Romawi, di samping warisan agama bangsa-Nya sendiri.

Salah satu keuntungan istimewa bila dibesarkan di Galilea adalah bahwa Yesus dapat berbicara tiga bahasa. Seperti yang disebutkan di atas, Ia dapat berbicara dan membaca bahasa Ibrani, meskipun bahasa Ibrani bukan lagi bahasa yang biasa dipakai rakyat Yahudi. Sejak beberapa abad sebelum zaman Yesus, orang-orang Yahudi telah memakai bahasa lain yang mirip dengan bahasa Ibrani, yang disebut bahasa Aram. Bahasa itulah yang dipakai Yesus di rumah dan ketika bergaul dengan teman- teman-Nya. Karena ada begitu banyak orang bukan Yahudi di Galilea, Ia mungkin sekali berbicara bahasa Yunani juga, yakni bahasa pengantar yang dipakai di seluruh kekaisaran Roma.

Kecuali yang dapat kita simpulkan berdasarkan pengetahuan kita tentang corak masyarakat di mana Yesus dibesarkan, Perjanjian Baru hampir tidak menceritakan apa-apa tentang kehidupan-Nya sebelum Ia berumur tiga puluh tahun. Penulis-penulis Kristen pada abad ke-2 M merasa ada sesuatu yang tidak benar dan tidak wajar mengenai hal ini, sehingga mereka berusaha melengkapi apa yang dirasakan sebagai suatu kekurangan dalam Perjanjian Baru. Kita mempunyai sejumlah kisah tentang masa kanak-kanak Yesus, cerita-cerita dengan judul judul seperti Injil tentang Kelahiran Maria, Sejarah Yusuf si Tukang Kayu, atau Injil Tomas tentang Masa Kanak-kanak Yesus. Tidak perlu menanggapi secara serius cerita-cerita tentang masa kanak-kanak Yesus yang kita temukan dalam "Injil-injil" tersebut. Semuanya hanyalah legenda yang sering berkembang tentang tokoh penting, bila orang-orang yang benar-benar mengenalnya sudah meninggal. Tetapi ada beberapa tulisan dari abad ke- 2 yang mungkin mengandung beberapa ucapan Yesus yang asli, yakni tulisan-tulisan seperti Injil Tomas dan Injil Filipus. Hal ini akan ditinjau secara terinci dalam salah satu pasal berikut.

Lukas hanya menggambarkan masa kanak-kanak Yesus dengan berkata, Ia "bertambah besar dan menjadi kuat" (Luk. 2:40) seperti anak-anak lain. Tetapi Lukas juga menambahkan bahwa Yesus "bertambah hikmat- Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia" (Luk. 2:52). Kemudian ia menceritakan hanya satu kisah saja untuk menggambarkan apa yang dimaksudkannya dengan kata-kata tersebut (Luk. 2:41-52).

Dalam kisah itu diceritakan bagaimana Yesus tertinggal di Yerusalem ketika Ia berumur dua belas tahun. Ia pergi ke sana dalam suatu ziarah agama bersama Maria dan Yusuf, untuk ikut serta dalam salah satu pesta besar agama Yahudi. Ketika orang tua-Nya akhirnya menemukan-Nya di Bait Allah, Ia bertanya kepada mereka, "Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?" (Luk. 2:49). Pada usia itu pun, Yesus bertumbuh tidak hanya secara fisik dan mental, tetapi juga secara spiritual. Ia mempunyai kesadaran yang luar biasa tentang kehadiran Allah dalam hidup-Nya. Allah adalah Bapa-Nya dan hubungan itu lebih penting bagi-Nya daripada apa pun juga.

Peristiwa berikutnya yang kita dengar tentang Yesus adalah waktu Ia sudah berumur kira-kira tiga puluh tahun. Saudara sepupu-Nya, Yohanes Pembaptis, telah memulai suatu gerakan agama dan mendapat banyak pengikut. Yohanes hidup secara sederhana di padang gurun Yudea. Pakaiannya terbuat dari bulu unta, dan dia hanya makan makanan yang dihasilkan padang gurun, yakni "belalang dan madu hutan" (Mrk. 1:6).

Yohanes bukanlah satu-satunya nabi yang berkeliling pada waktu itu. Banyak orang berbicara mengenai kedatangan penyelamat yang dijanjikan Allah untuk membangun suatu masyarakat yang baru. Di padang gurun yang sama, agak ke arah selatan terdapat persekutuan di Qumran berbicara mengenai hal-hal yang serupa. Pada kemudian hari banyak penghasut dan nabi mencari ketenaran bagi mereka sendiri di tempat yang sama.

Tetapi Yohanes berbeda karena ia tidak berusaha mencari ketenaran bagi dirinya sendiri. Di Palestina cukup banyak orang sinting, yang masing- masing menyatakan diri sebagai penyelamat yang dijanjikan Allah. Mereka merasa mendapat tugas untuk membasmi ketidakadilan sosial dan politik di masa itu dan mendapat kuasa untuk membangun umat yang baru. Tetapi Yohanes tidak membuat pernyataan-pernyataan seperti itu. Ia hanya mengatakan bahwa ia adalah "utusan" atau "suara" (Mrk. 1:2-3) untuk membawa kabar baik bahwa umat baru segera akan dibentuk.

Orang-orang Yahudi yang sedang menanti-nantikan umat baru dari Allah mengetahui dari Perjanjian Lama kedatangan seorang utusan, yang sama seperti Nabi Elia dari Perjanjian Lama (Mal. 4:5). Para penulis kitab- kitab Injil dengan tegas menyatakan bahwa orang itu Yohanes Pembaptis. Cerita-cerita mereka mengenai cara hidupnya dan pemberitaannya mirip dengan kisah-kisah tentang Elia dalam Kitab Raja-raja di Perjanjian Lama (1Raj. 17 - 19).

Perjanjian Baru dan penulis Yahudi, Yosefus (Antiquities 18.5.2), kedua-duanya menggambarkan pekerjaan Yohanes sebagai seruan kepada orang-orang Yahudi agar membenahi hidup mereka supaya mereka layak secara moral untuk bertemu dengan orang yang akan membangun umat baru. Para nabi Perjanjian Lama, sering melihat bahwa walaupun orang Yahudi adalah umat Allah, mereka tidak dalam keadaan yang layak untuk bertemu dengan Allah mereka. Jika Allah hendak berkarya dalam kehidupan mereka, kedatangan-Nya harus dimulai dengan penghakiman - dan penghakiman-Nya akan sangat berat bagi mereka yang diberi hak-hak istimewa yang paling besar.

Pemberitaan Yohanes tepat sama seperti itu. Ia berseru kepada orang-orang Yahudi agar bersedia mengubah cara hidup mereka, supaya mereka layak bertemu dengan Allah. Orang-orang yang bersedia memenuhi panggilan tersebut memperlihatkan kesediaan mereka dengan cara "dibaptis". Kata Yunani yang darinya kita mendapat kata "baptis", berarti "mencelup". Kata itu sering dipakai, umpamanya, sehubungan dengan pemberian warna pada kain sewaktu kain tersebut dicelupkan ke dalam bak. Arti "baptisan" dalam agama sama seperti itu, hanya dalam hal ini manusialah yang dicelupkan, dan mereka dicelupkan bukan dalam zat pewarna melainkan dalam air jernih. Yohanes agaknya memanfaatkan Sungai Yordan sebagai sumber air yang dekat.

Kebanyakan orang Yahudi tahu apa baptisan itu. Mungkin hal itu dipakai sebagai cara untuk menandai masuknya orang-orang bukan Yahudi ke dalam agama Yahudi. Baptisan memang dilakukan dengan maksud tersebut pada kemudian hari. Juga ada banyak bukti dari Naskah-naskah Laut Mati bahwa kaum Eseni memakai baptisan secara teratur sebagai cara untuk memelihara kemurnian moral dan agama mereka. Salah satu ciri yang menonjol dari puing-puing biara di Qumran adalah sistem saluran air dan tangki air yang sangat rumit, yang menyediakan air yang cukup bagi umat di padang gurun agar mereka dapat menjalankan upacara-upacara baptisan mereka. Tentunya, upacara-upacara yang dilakukan seperti kaum Eseni tidak sama seperti baptisan orang bukan-Yahudi yang masuk agama Yahudi. Baptisan dan upacara pembasuhan diulangi terus menerus di Qumran. Tetapi baptisan orang-orang yang masuk agama Yahudi merupakan peristiwa satu kali yang berlaku seterusnya.

Sukar ditentukan apakah latar belakang baptisan Yohanes adalah pembasuhan berulang kali, sama seperti yang dilakukan kaum Eseni, atau baptisan satu kali bagi orang-orang bukan-Yahudi yang bertobat. Sifat radikal pemberitaan Yohanes, dan pertentangan yang dibangkitkannya lebih mudah dimengerti jika ia berseru kepada orang Yahudi agar ambil bagian dalam sesuatu yang dirancang bukan bagi umat pilihan Allah melainkan bagi orang kafir. Yohanes mengerti, jika orang Yahudi mau ambil bagian dalam umat baru yang akan datang itu, mereka pun harus mulai baru sama sekali, seakan-akan seperti mereka (orang kafir bukan Yahudi) yang mengenal Allah untuk pertama kalinya.

Namun Yohanes tidak melihat seluruh implikasi umat baru itu. Ia seakan-akan berdiri di antara janji-janji Allah dalam Perjanjian Lama dan penggenapan janji-janji itu yang segera akan terlaksana. Ia melihat kedatangan Mesias dalam rangka penghakiman dan penghukuman. Ia melukiskan penyelamat yang dijanjikan Allah sebagai seseorang yang akan menebang pohon buah-buahan yang tidak menghasilkan buah dan membakar sekam dari gandum (Luk. 3:7-17). Harus diakui, ia melihat dengan lebih jelas daripada kaum Farisi dan kaum Zelot. Mereka mengira bahwa sasaran kutukan Allah adalah pihak Roma, tetapi Yohanes menegaskan bahwa Allah akan menghakimi umat-Nya sendiri - dan yang pertama-tama dihakimi-Nya ialah kaum Farisi.

Dalam pada itu, ia tidak memahami sepenuhnya sifat sebenarnya umat yang akan dibangun Allah itu. Sebab, umat Allah yang baru tidak berdasarkan kutukan dan penghakiman melainkan berdasarkan kasih, pengampunan dan perhatian pribadi bagi setiap orang. Ini merupakan hal yang paling sulit dimengerti oleh orang-orang Yahudi. Pada kemudian hari pun, pengikut-pengikut Yesus tidak mengerti sepenuhnya ketika Yesus mengatakan bahwa umat tersebut terbentuk melalui pelayanan dan penderitaan (Mrk. 8:13-33). Karya-karya Allah belum jelas sifatnya, sampai kelak setelah kematian dan kebangkitan Yesus.

3. Yesus dibaptis.

Yesus datang kepada Yohanes dan minta dibaptis. Mula-mula Yohanes tidak mengizinkan Yesus ambil bagian dalam lambang pertobatan ini. Kalau Yesus memang mempunyai hubungan istimewa dengan Allah, seperti yang diyakini Yohanes, mengapa Ia perlu bertobat? Tetapi Yesus meyakinkan Yohanes bahwa Ia harus turut dibaptis. Yesus berkata, "dengan demikian kita melakukan semua yang dikehendaki Allah" (Mat. 3:15, BIS).

Apa yang dimaksudkan Yesus dengan kata-kata tersebut? Secara sederhana dapat dikatakan, Yesus merasa harus mengidentifikasikan diri-Nya dengan orang berdosa yang mau bertobat, yang akan menjadi pengikut-Nya yang pertama. Tanpa maksud menjauhkan diri-Nya dari orang lain, hubungan khusus yang dimiliki-Nya dengan Allah merupakan alasan kuat bagi-Nya untuk melibatkan diri sepenuhnya dalam kehidupan orang biasa. Tetapi ada beberapa orang berpendapat bahwa Yesus menganggap baptisan- Nya sebagai langkah pertama pada jalan menuju salib, yang dilihat-Nya sebagai puncak dan tujuan seluruh hidup-Nya. Dan memang benar kemudian Ia menyebut kematian-Nya sebagai "baptisan", dan di dalamnya Ia benar- benar secara nyata melakukan kehendak Allah (Mrk. 10:38).

Tentu dalam pengalaman-Nya sewaktu dibaptis, Yesus mulai mengerti untuk pertama kalinya hakikat hubungan istimewa-Nya dengan Allah. Menurut Markus, Yesus mendengar kata-kata, "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan" (Mrk. 1:11). Ini merupakan gabungan pernyataan yang terdapat dalam dua nats Perjanjian Lama. Di satu pihak ada gema Mazmur 2:7, "Anak-Ku engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini". Dalam konteks aslinya, pernyataan ini mengacu kepada raja-raja Yehuda di masa lampau. Pada zaman Yesus pernyataan itu dianggap secara umum sebagai nubuat tentang kedatangan Mesias. Pada pihak yang lain, ada juga acuan yang jelas terhadap sajak tentang hamba yang menderita dalam Kitab Yesaya, hambanya dilukiskan sebagai "orang pilihan-Ku; yang kepadanya Aku berkenan" (Yes. 42:1). Gagasan tentang hamba Tuhan ini tidak pernah dihubungkan dengan pengharapan akan seorang Mesias sebelum zaman Yesus.

Sebab itu agaknya pada baptisan-Nya Yesus belajar tentang dua hal:

  1. Ia diyakinkan kembali tentang hubungan-Nya yang istimewa dengan Allah, sebagai orang yang dipilih secara khusus untuk membentuk umat Allah yang baru; dan
  2. Ia diperingatkan bahwa peranan penyelamat yang dijanjikan Allah berbeda sekali dengan apa yang diharapkan oleh kebanyakan orang.

Itu berarti menerima penderitaan dan pelayanan sebagai bagian yang penting dari hidup-Nya. Ini adalah hal yang sangat sulit, seperti yang akan segera dialami oleh Yesus. Tetapi Ia menghadapi masalah itu dengan kuasa Allah sendiri; Ia diingatkan akan penyertaan Allah ketika Roh Kudus secara simbolis turun ke atas-Nya dalam bentuk seekor merpati.

4. Yesus menentukan prioritas-Nya.

Kitab-kitab Injil mengisahkan bagaimana Yesus setelah pembaptisan-Nya ditantang untuk mengatur prioritas-Nya dengan benar sebagai penyelamat yang dijanjikan Allah, yakni Sang Mesias. Setiap cobaan yang Dia alami merupakan cobaan agar menghindari penderitaan dan pelayanan secara rendah hati yang merupakan kehendak Allah.

Pertama, Yesus dicobai agar membentuk umat baru melalui tindakan di bidang ekonomi, dengan menjadikan roti dari batu (Luk. 4:1-4). Ada banyak orang lapar di dunia yang akan menyambut makanan dari sumber mana saja. Yesus sendiri waktu itu berpuasa di padang gurun dan merasa lapar. Selain itu, Perjanjian Lama sering melukiskan umat baru sebagai zaman kemakmuran material yang melimpah, ketika orang lapar diberi makan dan kebutuhan setiap orang dipenuhi (Yes. 25:6- 8; 49:9-10; Yeh. 39:17-20). Jadi ada banyak alasan mengapa Yesus harus memperhatikan hal-hal seperti itu. Tetapi Ia tahu, ketenaran dan popularitas pelaku mujizat ekonomi berbeda dengan menderita dan melayani.

Sabda Tuhan kepada umat Israel pada saat yang penting dalam sejarah mereka, menolong-Nya untuk mengatasi cobaan itu, "Manusia tidak hidup dari makanan saja" (Ul.8:3, BIS). Hal itu tidak berarti, Yesus kurang peka terhadap kebutuhan ekonomi di kalangan rakyat. Sebaliknya Ia menyadari di satu pihak bahwa ini bukanlah kebutuhan mereka yang paling besar, dan di pihak lain, bukan maksud Allah agar hal itu menjadi penekanan utama pekerjaan-Nya. Dalam kenyataannya, Yesus pada kemudian hari memberi makan orang-orang lapar (Mrk. 6:30- 34). Tetapi Ia tahu, ini bukanlah tujuan utama hidup-Nya.

Cobaan kedua ialah agar Ia terjun dari puncak Bait Allah ke pelataran di bawah yang penuh sesak, tanpa melukai diri-Nya sendiri (Luk. 4:9-12). Adalah mudah untuk memperlihatkan diri sebagai Mesias dengan melakukan mujizat, karena hal ajaib dan luar biasa mempunyai daya tarik bagi bangsa yang sifatnya dikenal dengan baik oleh Yesus. Paulus, yang mengenal agama Yahudi lebih baik dari kebanyakan orang lain, mengatakan bahwa sifat orang Yahudi ialah "menghendaki tanda" (1Kor. 1:22). Malah pada abad kita yang maju dan serba ilmiah pun, banyak orang tertarik dengan hal-hal yang luar biasa dan spektakuler, dan siapa saja yang menyatakan bisa melakukan mujizat tidak sulit memperoleh pengikut-pengikut.

Di sini juga cobaan Yesus mengandung makna yang lebih dalam, sebab ada nubuat dalam Perjanjian Lama mengenai Mesias yang akan muncul secara tiba-tiba di Bait Allah (Mal. 3:1). Ada juga janji dalam Mazmur 91 yang mengatakan Allah akan melindungi mereka yang mempercayainya. Apakah ini bukan waktunya untuk mencobai Allah? Kalau Yesus benar- benar Mesias yang diutus Allah, tentu Ia boleh mengharapkan bahwa Allah akan menepati janji-janji-Nya. Suatu pemikiran yang menarik. Tetapi jawaban terhadap hal itu datang dari zaman penting yang sama juga dalam pengalaman umat Israel, "Janganlah kamu mencobai Tuhan Allahmu" (Ul. 6:16). Konteks janji Allah dalam Mazmur 91 menegaskan bahwa itu hanya berlaku bagi orang- orang yang hidup dengan taat melayani kehendak Allah. Bagi Yesus, melakukan kehendak Allah berarti pelayanan dan penderitaan, dan bukan pemanfaatan janji-janji Allah secara semena-mena untuk kepentingan diri sendiri.

Jadi Yesus menolak godaan untuk dikenal sebagai penyelamat yang dijanjikan Allah melalui pertunjukan kuasa ajaib. Ia memang melakukan mujizat-mujizat. Tetapi seperti yang akan kita lihat nanti, Ia juga menjelaskan bahwa mujizat-mujizat itu merupakan tanda-tanda yang hidup dari pemberitaan-Nya itu; mujizat bukanlah berita itu sendiri.

Cobaan ketiga ialah agar Ia mau menjadi Mesias politis. Lukas menempatkannya sebagai cobaan kedua, tetapi Matius menempatkannya terakhir (Mat. 4:8-10). Lukas rupanya melakukan hal itu untuk menekankan pentingnya cobaan ini. Jelas, inilah cobaan yang terkuat. Sebab, orang Yahudi justru mengharapkan seorang Mesias seperti itu. Banyak di antara mereka juga percaya, mereka akan memerintah semua bangsa lain dalam zaman baru yang akan datang - dan Yesus digoda untuk menerima kewibawaan Iblis agar memperoleh kuasa atas dunia. Ide itu dijadikan lebih nyata melalui suatu penglihatan tentang kemegahan kerajaan-kerajaan dunia. Tetapi Yesus sekali lagi menyadari bahwa ini jauh berbeda dari jenis umat baru yang akan didirikan-Nya. Itu tidak berarti, Yesus tidak menghiraukan hasrat kuat bangsa-Nya untuk memperoleh kemerdekaan. Bagaimanapun juga, Ia sendiri hidup di bawah kelaliman penguasa Romawi. Ia bekerja dengan tangan-Nya sendiri agar dapat mempunyai penghasilan yang cukup untuk membayar pajak kepada Roma. Ia tahu benar kemelaratan orang-orang sebangsa-Nya.

Tetapi Ia menolak jabatan Mesias politis karena dua alasan. Pertama- tama, Ia menolak syarat-syarat yang diajukan Iblis kepada-Nya. Menurut cerita-cerita dalam Injil, Iblis menawarkan untuk membagi kekuasaannya dengan Yesus. Jika Yesus mengakui otoritas Iblis atas alam semesta cara keseluruhan, maka Ia akan diberikan kuasa politik secara terbatas sebagai gantinya. Hal itu tidak dapat diterima oleh Yesus. Komitmen-Nya sendiri, dan komitmen yang kemudian dituntut-Nya dari pengikut-pangikut-Nya, hanya ditujukan khusus kepada Allah sebagai Tuhan yang berdaulat. Mengakui kuasa Iblis di salah satu bidang kehidupan berarti menolak wibawa Allah.

Di samping itu Yesus ditawarkan kemungkinan memerintah dengan "kuasa" dan "kemuliaan" suatu kerajaan yang sama seperti kekaisaran Roma. Tetapi, Ia tahu hal itu bukanlah tugas-Nya. Ia tahu, pemerintahan Allah dalam kehidupan manusia dan dalam masyarakat tidak pernah dapat dipaksakan dari luar. Inilah salah satu pelajaran yang dapat ditarik dari sejarah bangsanya. Mereka memiliki semua peraturan dalam Perjanjian Lama, tetapi berulangkali mereka gagal melaksanakannya. Yesus melihat bahwa apa yang dibutuhkan manusia adalah penyerahan kehendak dan ketaatan mereka secara bebas kepada Allah. Dengan demikian mereka diberikan kebebasan moral untuk menciptakan kehidupan baru yang Allah kehendaki bagi mereka.

Jadi cobaan ketiga ini pasti merupakan cobaan yang terkuat dan yang paling menggoda. Cobaan itu juga ditolak dengan tegas sekali, "Enyahlah, Iblis!" (Mat. 4:10). Yesus tidak mau memaksakan suatu sistem kekuasaan baru di dunia untuk menggantikan sistem kekuasaan Romawi. Umat-Nya yang baru tidaklah merupakan pemerintahan yang lalim dan kejam seperti yang dibayangkan oleh banyak orang Yahudi, melainkan akan timbul dari tabiat batin yang sama sekali baru dari mereka yang menjadi anggota-anggota-Nya sewaktu mereka melayani dan beribadah hanya kepada Allah saja.

Taxonomy upgrade extras: 

PPB-Referensi 06b

Nama Kursus : PENGANTAR PERJANJIAN BARU
Nama Pelajaran : Gereja di Antiokhia
Kode Pelajaran : PPB-R06b

Referensi PPB-06b diambil dari:

Judul Buku : Survei Perjanjian Baru
Pengarang : Merrill C. Tenney
Penerbit : Gandum Mas, Malang, 2000
Halaman : 110 - 116

REFERENSI PELAJARAN 06b - SEJARAH GEREJA MULA-MULA

GEREJA DI ANTIOKHIA

Kota Antiokhia dibangun oleh Seleukus Nicator dalam tahun 300 Sm. Di bawah pemerintahan raja-raja Seleuk yang pertama ia berkembang dengan pesat. Pada mulanya kota ini sepenuhnya dihuni oleh orang-orang Yunani, namun kemudian orang-orang Siria menetap di luar tembok kota dan akhirnya menyatu dengan kota sejalan dengan perkembangan kota itu. Unsur penduduk yang ketiga adalah orang-orang Yahudi, banyak di antaranya yang merupakan keturunan dari penghuni kota pertama yang didatangkan dari Babilon. Mereka mempunyai hak-hak yang sama dengan orang Yunani dan tetap menjalankan ibadat mereka di sinagoge-sinagoge. Di bawah pemerintahan Romawi, Antiokhia menjadi makmur. Karena merupakan pintu gerbang militer dan perniagaan ke Timur, ia menjadi kota yang terbesar setelah Roma dan Aleksandria.

Tahun berdirinya gereja di Antiokhia tidak dinyatakan dengan jelas. Nampaknya ia berdiri tidak lama setelah kematian Stefanus, mungkin sekitar tahun 33 hingga 40. Untuk mendapatkan ukuran dan reputasi yang cukup berarti hingga dapat menarik perhatian gereja di Yerusalem (11:22) tentu dibutuhkan beberapa waktu. Gereja di Yerusalem mengutus Barnabas untuk mengunjungi Antiokhia, di mana ia bekerja entah selama berapa lama, dan kemudian pergi ke Tarsus untuk meminta Paulus agar menjadi pembantunya (11:22-26). Mereka bekerja bersama-sama selama; sekurang-kurangnya satu tahun setelah itu (11:26) sebelum Agabus meramalkan bahaya kelaparan yang akan menimpa dunia "pada zaman Claudius" (11:28). Makna yang tersirat dalam ayat ini adalah bahwa; ramalan ini diberikan sebelum Claudius naik takhta pada tahun 41, dan bahwa bahaya kelaparan terjadi sesudah itu. Data kronologis lainnya diperoleh dari penyebutan tentang Herodes Agripa I (12:1), yang meninggal dunia pada tahun 44. Mungkin pelayanan di Antiokhia dimulai sekitar tahun 33 hingga 35. Bila dana bantuan kelaparan dikumpulkan sekitar tahun 44, Barnabas pasti telah mulai menjalin hubungannya dengan Antiokhia sekitar tahun 41, yang berarti bahwa Paulus mulai menjalankan tugasnya di sana pada tahun 42.

Meskipun kronologi ini tidak dapat dikatakan pasti, ia cukup sesuai dengan perkembangan kegiatan Paulus yang diketahui. Bila ia menjadi percaya dalam tahun 31 atau katakanlah 32, dan menghabiskan waktu tiga tahun di kawasan Damsyik (Galatia 1:18), ia akan tiba di Yerusalem sebelum tahun 35. Bila ia menghabiskan waktu selama satu atau dua tahun di Yerusalem sebelum kembali ke Tarsus (Kisah 9:28-30), maka ketika Bamabas datang untuk menyertainya dalam tugas barunya ia tentu sudah berkhotbah selama lima tahun di Tarsus dan Kilikia. Nampaknya ada suatu kesenjangan waktu yang cukup besar di sini, tetapi banyak kesenjangan lain dalam karangan Lukas mengenai perkara yang sama pentingnya hingga keadaan ini tidak menjadi sesuatu yang luar biasa.

Gereja di Antiokhia cukup penting, karena ia memiliki beberapa segi yang menonjol. Pertama, ia adalah induk dari gereja bagi bangsa-bangsa lain. Rumah di keluarga Kornelius tidak dapat disebut gereja dalam arti yang sama dengan kelompok umat di Antiokhia, karena ia adalah suatu kelompok keluarga pribadi bukan suatu jemaat umum. Dari gereja Antiokhia berangkatlah misi resmi yang pertama ke dunia yang belum tersentuh Injil. Di Antiokhia dimulailah perdebatan yang pertama tentang status umat Kristen dari bangsa-bangsa lain. Ia merupakan pusat tempat berkumpulnya para pemimpin gereja. Secara bergantian, Petrus, Barnabas, Titus, Yohanes Markus, Yudas Barsabas, Silas, dan bila naskah Barat benar, penulis dari buku ini sendiri, semuanya dihubungkan dengan gereja di Antiokhia. Patut untuk diperhatikan bahwa dapat dikatakan mereka semuanya terlibat dalam misi kepada bangsa-bangsa lain dan disebut-sebut dalam Surat Kiriman Paulus maupun di dalam Kisah Para Rasul.

Kitab-kitab Injil mungkin berasal dari Antiokhia. Kemungkinan hubungan di antara Markus dan Lukas maupun kenyataan pertemuan mereka di Roma barangkali dapat menjawab beberapa masalah yang sering diperdebatkan dalam masalah Sinoptis. Ignatius, uskup di Antiokhia pada akhir abad yang pertama, nampaknya nyaris hanya mengutip dari Matius, ketika ia berbicara mengenai Injil, seolah-olah Injil Matius adalah satu-satunya Injil Sinoptis yang diketahuinya. Streeter mempertahankan pendapatnya secara panjang lebar bahwa Injil Matius berasal dari Antiokhia, karena ia digunakan oleh Ignatius dan di dalam Didakhe (Ajaran Dua Belas Rasul, keduanya menurutnya adalah dokumen-dokumen orang Siria. Bila ketiga Injil Sinoptis menanamkan dasarnya pada suasana yang hidup dalam khotbah lisan gereja di Antiokhia, pelayanan firman mereka kepada dunia dapat dikatakan merupakan warisan dari gereja ini kepada bangsa-bangsa lain yang percaya dari masa yang lalu maupun masa sekarang.

Gereja di Antiokhia juga tersohor karena guru-gurunya. Di antara mereka yang disebut di dalam Kisah Para Rasul 13:1, hanya Barnabas dan Paulus yang baru dikenal dalam beberapa penyebutan belakangan, tetapi pelayanan mereka pasti telah membuat gereja ini terkenal sebagai pusat pengajaran. Jelas sekali bahwa Antiokhia telah mengalahkan Yerusalem sebagai pusat pengajaran Kristen dan sebagai markas misi penginjilan.

Mungkin perkembangan Antiokhia makin dipercepat oleh penindasan Herodes dalam tahun 44. Gereja di Yerusalem selalu dalam keadaan kekurangan dana, karena banyak anggota jemaat yang miskin yang harus selalu ditunjang oleh sumbangan-sumbangan. Bahaya kelaparan itu pasti makin melemahkan mereka, meskipun ada dana sumbangan dari Antiokhia (11:28-30). Penindasan di bawah Herodes mengakibatkan kematian Yakobus, anak Zebedeus (12:2), dan Petrus juga nyaris kehilangan nyawanya (12:17). Kisah selingan dalam 12:1-24 hanya memberikan gambaran sekilas tentang keadaan di Yerusalem, tetapi ia menunjukkan gereja yang tetap setia bertahan meskipun tekanan begitu berat, yang terus berusaha mempertahankan keberadaannya sampai saat yang terakhir.

Fakta yang paling kuat tentang gereja di Antiokhia adalah kesaksian ini. "Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen" (11:26). Sebelum itu orang-orang yang percaya kepada Kristus dianggap sebagai suatu sekte agama Yahudi, tetapi dengan masuknya bangsa-bangsa lain ke dalam kelompok mereka dan dengan makin berkembangnya sistem pengajaran yang sangat berbeda dengan hukum Musa, dunia mulai melihat perbedaan itu dan menyebut mereka dengan julukan yang lebih tepat. "Kristen" berarti "milik Kristus" seperti Herodian berarti "milik Herodes". Mungkin nama ini dimaksudkan sebagai suatu ejekan, tetapi watak para Rasul dan kesaksian yang mereka sampaikan memberikan arti yang menyanjung.

MISI KEPADA BANGSA-BANGSA LAIN

Pada tahun 46 atau sekitarnya gereja di Antiokhia telah tumbuh menjadi suatu kelompok yang mantap dan aktif. Mereka memperdalam pengetahuannya tentang iman, reputasi mereka sudah tersohor di seluruh kota hingga mereka sudah dianggap sebagai suatu kelas tersendiri sebagai orang-orang Kristen, dan mereka mendukung suatu ekspedisi ke Yerusalem untuk menyampaikan sumbangan bagi mereka yang menderita karena kelaparan. Ketika mereka sedang menjalankan ibadah sebagaimana biasanya, datanglah panggilan untuk meng-"khususkan Barnabas dan Saulus" (13:2) untuk melakukan suatu tugas khusus. Untuk menaati perintah Roh Kudus, gereja mengkhususkan kedua orang ini untuk menjalankan tugas yang baru dan mengutus mereka untuk menjalankan misinya.

Siprus

Tujuan pertama dari kegiatan mereka adalah Siprus, tempat asal Barnabas (4:36). Mungkin gereja mempunyai beberapa kepentingan di sana, karena "orang Siprus" (11:20) termasuk di antara mereka yang pertama-tama mengabarkan Injil di Antiokhia. Barnabas dan Saulus, disertai Yohanes Markus sebagai pembantu mereka, mengunjungi sinagoge-sinagoge dan memberitakan kabar baru di sana. Ketika berselisih dengan Elimas yang berusaha membelokkan iman gubernur, Paulus tampil ke depan. Karena ia tahu akan ilmu-ilmu setan yang dianut Elimas, Paulus mengecamnya di muka umum, dan mengutuknya. Gubernur terpesona melihat hukuman yang segera jatuh pada Elimas, dan "percaya" (13:12).

Tidak ada catatan statistik tentang hasil penginjilan di Siprus, tetapi ada suatu perubahan penting yang terjadi. Dalam Kisah Para Rasul 13:2 kelompok mereka disebut "Barnabas dan Saulus," yang menempatkan Barnabas pada posisi yang lebih menonjol sebagai penginjil yang lebih senior, dan menyebut Paulus dengan nama Yahudinya. Dalam Kisah Para Rasul 13:13 peristilahan yang dipakai berubah menjadi "Paulus dan kawan-kawannya," dengan menggunakan nama Yunani Paulus. Dari titik inilah di kisah ini Paulus menjadi tokoh yang paling menonjol. Pelayanan di Siprus mengungkapkan bakat kepemimpinan Paulus dan menempatkannya sebagai pemimpin misi dengan suara bulat.

Dalam periode yang sama ada dua peristiwa lain yang terjadi. Paulus meninggalkan Siprus dan pindah ke Asia Kecil, dan Yohanes Markus mengundurkan diri dari kelompok mereka serta kembali ke Yerusalem. Bagi Paulus ini adalah awal dari proyek penginjilan sedunia untuk mewartakan Injil ke wilayah-wilayah yang belum terjamah. Markus nampaknya seolah-olah telah menyimpang secara tidak benar dari suatu program yang sudah ditetapkan. Apakah ia merasa iri hati karena saudaranya, Barnabas, yang didudukkan di tempat kedua, atau ia merasa takut memasuki wilayah yang liar di pedalaman Asia Kecil, atau ia mempunyai perbedaan prinsip dengan Paulus, tidak pernah diceritakan. Yang jelas ia tidak mau melanjutkan perjalanannya lebih lanjut dan kembali pulang.

Antiokhia di Pisidia

Khotbah Paulus di dalam sinagoge di Antiokhia di Pisidia, dikutip secara panjang lebar oleh Lukas (Kisah 13:16-43). Secara umum gaya pidatonya menyerupai gaya Stefanus, karena ia menggunakan cara pendekatan dengan mengulang kembali sejarah hubungan Allah dengan bangsa Israel. Tema utamanya diperkenalkan dalam ayat 23: "dari keturunannyalah sesuai dengan yang telah dijanjikannya, Allah telah membangkitkan Juruselamat bagi orang Israel, yaitu Yesus . . . " Pengembangan tema ini tidak jauh menyimpang dari khotbah-khotbah apostolik yang telah dikutip dalam pasal-pasal Kisah Para Rasul terdahulu, tetapi ketika Paulus tiba pada puncak pidatonya ia mengemukakan suatu unsur yang baru:


Jadi ketahuilah, hai saudara-saudara, oleh karena Dialah maka diberitakan kepada kamu pengampunan dosa. Dan di dalam Dialah setiap orang yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa, yang tidak dapat kamu peroleh dari hukum Musa (Kisah 13:38-39).

Meskipun Petrus telah memaklumkan kebangkitan dan pengampunan dari dosa melalui Kristus (2:32, 36, 38; 3:15, 19; 5:30-31; 10:40, 43), baru pertama kali itulah ada orang mengatakan dengan jelas bahwa setiap orang dapat dibenarkan di hadapan Allah hanya karena iman. Dibenarkan berarti dinyatakan benar, atau secara hukum dianggap benar. Jaminan akan keselamatan dapat diperoleh hanya dengan iman kepada . Allah, berarti hukum Taurat akan kehilangan artinya dan menjadi sia-sia.

Ini adalah suatu terobosan yang baru dan berani dalam kebenaran tentang Kristus.

Akibat dari pernyataan ini timbul dua macam reaksi. Di satu pihak ada tanggapan luar biasa atas pidato Paulus, karena "pada hari Sabat berikutnya datanglah hampir seluruh kota itu berkumpul untuk mendengar firman Allah" (13:44). Di lain pihak, orang-orang Yahudi yang menentang mereka penuh dengan perasaan dengki hingga merasa iri hati dan memfitnah (13:45). Akhirnya Paulus menyatakan bahwa ia akan berpaling kepada bangsa-bangsa lain, yang sebagian daripadanya sudah menjadi percaya (13:48). Maka gereja yang baru di Antiokhia di Pisidia tidak berpusat pada orang-orang Yahudi melainkan pada orang-orang bukan Yahudi.

Ikonium, Listra, dan Derbe

Keadaan yang sama terjadi di kota Ikonium, yang terletak agak ke sebelah tenggara dari Antiokhia. Jemaat Kristen yang subur dibangun di dalam sinagoge, tetapi pertentangan pendapat begitu hebat hingga para pengkhotbah diusir dari kota dan bersembunyi di kota-kota sekitarnya, yaitu Listra dan Derbe.

Di Listra Paulus menghadiri orang-orang yang memuja berhala. Imam dewa Zeus yang datang dari luar kota (14:13), ketika melihat bagaimana Paulus menyembuhkan orang lumpuh mengira bahwa Paulus dan Barnabas adalah dewa-dewa yang turun ke bumi, dan mencoba untuk mempersembahkan kurban bagi mereka. Protes keras Paulus terhadap kesalahan ini, menimbulkan gagasan baru bagi metode pendekatannya ke dalam alam pemikiran kafir, yang buta terhadap Perjanjian Lama. Ia dan Barnabas berbicara tentang Allah yang esa yang memberikan "hujan dari langit dan ... musim-musim subur" (14:17), suatu titik pertemuan yang dapat diterima oleh para petani sederhana di kawasan itu apakah mereka mempunyai pengetahuan formal tentang teologi atau tidak.

Pelayanan mereka di Listra terputus oleh serangan mendadak dari orang-orang Yahudi yang memusuhi mereka dari Antiokhia di Pisidia dan Ikonium, yang membujuk orang-orang yang kurang berpengetahuan dan mudah terpengaruh itu bahwa Paulus adalah seorang tukang propaganda yang berbahaya. Ia dilempari batu dan diseret ke luar kota seperti orang mati, tetapi ia sadar kembali lalu meninggalkan kota itu menuju ke Derbe untuk mengajar di sana. Setelah menghimpun sejumlah orang percaya di kota itu, Paulus dan Barnabas menoleh kembali kepada jejak-jejak yang mereka tinggalkan, untuk memperkokoh dan membenahi gereja- gereja yang telah mereka bangun. Mereka kembali ke Antiokhia Siria untuk melaporkan apa-apa yang telah diperbuat Allah bersama mereka, dan menunjukkan bagaimana " . . . ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman" (14:27).

Tidaklah berlebih-lebihan bila dikatakan bahwa laporan perjalanan ini sangat penting. Hal ini membawa Paulus ke garis depan sebagai seorang pemimpin gereja, dan menyejajarkannya dengan para rasul (band. Galatia 2:7-9). Ia juga memberikan andil bagi pendidikan Yohanes Markus, meskipun nampaknya ia sudah membuat suatu kegagalan besar. Hubungan awal dengan Timotius mungkin terjadi selama perjalanan ini, karena Paulus berbicara tentang pengalamannya di kawasan ini ketika ia menulis kepada Timotius bertahun-tahun sesudahnya (2Timotius 3:11). Di atas segalanya, ia menandai suatu tolok ukur baru di dalam pemikiran teologis gereja, karena dari peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam perjalanan ini lahirlah ajaran Paulus tentang pembenaran karena iman.

Taxonomy upgrade extras: 

PPB-Referensi 02a

Nama Kursus : PENGANTAR PERJANJIAN BARU
Nama Pelajaran : Latar Belakang Agama Dunia PB
Kode Pelajaran : PPB-R02a

Referensi PPB-02a diambil dari:

Judul Buku : Pengantar Perjanjian Baru
Pengarang : Adina Chapman
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1995
Halaman : 1 - 4

REFERENSI PELAJARAN 02a - LATAR BELAKANG AGAMA DUNIA

PENDAHULUAN

Zaman antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru - masa kegelapan selama empat ratus tahun.

Masa Perjanjian Lama berakhir dengan pembuangan bangsa lbrani ke Babel selama 70 tahun. Beberapa abad sebelum peristiwa ini terjadi, nabi-nabi Tuhan telah menubuatkan tentang hukuman Allah yang akan dijatuhkan ke atas bangsa pilihan- Nya. Pembuangan ini disebabkan terutama karena kemerosotan kepercayaan bangsa Ibrani. Hukuman Allah ini pernah disebut 'Pembuangan 70 Tahun', karena hukuman itu berlangsung terus dari tahun 606 sampai tahun 536 s.M., walaupun hukuman yang berat berjalan hanya 50 tahun saja.

A. PERUBAHAN-PERUBAHAN DALAM AGAMA

Salah satu akibat pembuangan bangsa Israel ke Babel adalah perubahan besar dalam pengertian agama mereka. Pahitnya pengalaman di pembuangan masih sangat berkesan dalam hati mereka pada zaman antara kedua Perjanjian. Dari situlah sebenarnya dimulai suatu revolusi rohani yang benar-benar dipimpin oleh Tuhan.

Sebelum dan semasa pembuangan, bangsa lbrani giat sekali menyembah berhala. Nabi Yeremia berkata, "Seperti banyaknya kotamu demikian banyaknya para allahmu, hai Yehuda!" (Yer. 2:28). Tetapi setelah kembali dari pembuangan, mereka berubah menjadi bangsa yang menyembah dan percaya hanya kepada Tuhan saja, Tuhan mereka yang esa dan benar.

Inilah satu fakta sejarah yang luar biasa. Mengapa terjadi perubahan yang begitu radikal dalam masa 50 tahun sampai 70 tahun itu? Karena mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana segala nubuat nabi-nabi sungguh terjadi pada masa mereka. Antara lain, dibinasakannya kota Yerusalem, pembuangan bangsa Yahudi ke Babel dan kejatuhan negeri Babel dengan tiba-tiba waktu Raja Koresy dari Persia menyerang dan mengalahkan Babel. Selanjutnya Raja Koresy memerintahkan agar Bait Allah di Yerusalem dibangun kembali. Semuanya dinubuatkan beberapa ratus tahun sebelum peristiwa- peristiwa itu terjadi. (Lihat Yeremia 25:8-14; 42:11; 46:13-28; 47:1-11; 48:3-8; dan Yeremia 50 dan 51).

Sebab yang lain ialah suatu kesaksian ajaib di dalam istana Babel yang ditunjukkan Tuhan melalui seorang pemuda lbrani bernama Daniel. Sebagai seorang tawanan, Daniel dijadikan pemimpin kedua di bawah Raja Babel. Mengapa hal yang begitu luar biasa dapat terjadi? Karena melalui hikmat dan kuasa Tuhan yang heran, Daniel telah mengalahkan mantera dan ilmu sihir orang Babel. Dengan demikian bangsa Ibrani sadar bahwa dewa-dewa orang kafir itu hanya kesia-siaan belaka dan bahwa kehendak Tuhan sajalah yang harus dituruti.

Pada akhir masa pembuangan, 50.000 orang Yahudi yang setia kepada Tuhan meninggalkan negara Babel atas perintah Rajanya, lalu kembali ke tanah air mereka untuk membangun kota-kota dan desa-desa yang dibiarkan terlantar selama masa pembuangan.

Synagoge Agung

Sebelum zaman pembuangan, nama dan badan Synagoge tidak dikenal. Badan ini adalah dewan yang terdiri dari 120 anggota, dan menurut tradisi, disusun oleh Nehemia dan kemudian diketuai oleh Ezra, kira- kira 410 tahun s.M. Maksud dan tujuan pekerjaan mereka ialah untuk menghidupkan kembali ibadah kepada Tuhan dan hidup keagamaan para tawanan yang telah kembali dari Babel. Mereka memegang peranan penting untuk menghidupkan, memulihkan dan menggolongkan kitab-kitab Perjanjian Lama yang termasuk dalam kaidah Gerejani (Kitab-kitab yang diterima sebagai ilham yang benar-benar berasal dari Allah. Dengan kata, lain, Kanon Perjanjian Lama). Yang tak termasuk Kaidah Gerejani adalah kitab-kitab Apokrifa. Kitab-kitab Apokrifa lebih berguna sebagai pelajaran sejarah pada masa itu. Karangan-karangan Yosephus juga sangat berharga sebagai kitab sejarah dari zaman yang sama. Menurut dugaan, badan Synagoge Agung ini bergiat terus sampai kira-kira tahun 275 s.M.

Sanhedrin dan Para Ahli Taurat

Kemudian badan Synagoge diganti dengan Sanhedrin. Dewan Sanhedrin terdiri atas 70 orang anggota, sebagian besar para imam, bangsawan Saduki dan beberapa orang Farisi. Sanhedrin akhirnya dihapus waktu kota Yerusalem dihancurkan pada tahun 70 M. Melalui kegiatan Synagoge Agung maupun badan Sanhedrin, timbullah hasrat dan keinginan baru dalam hati sisa bangsa Ibrani untuk memelihara segala kebenaran Tuhan dan untuk melaksanakan syariat Taurat dengan seteliti-telitinya, agar mereka bisa menjadi bangsa yang suci. Sejak itu, rumah-rurnah sembahyang juga disebut synagoge, di mana Firman Tuhan dan gulungan-gulungan Kitab Taurat dibaca dan diterangkan. Lalu synagoge-synagoge didirikan di kota-kota di mana orang-orang Yahudi tersebar. Sayang sekali, sejak dimulainya langkah pertama yang baik ini, dimulai juga suatu cara penafsiran tertentu dengan berbagai peraturan tambahan, sehingga agama Yahudi menjadi agama lahiriah yang oleh Tuhan Yesus didapati kurang berisikan perkara- perkara rohani. Pengajaran tambahan ini pernah disebut Taurat Lisan. Kegiatan mereka inilah akhirnya dijadikan ketentuan agama yang sangat dipertahankan oleh para ahli Taurat.

Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor tertentu, antara lain:

  1. Pertobatan bangsa Yahudi pada pertengahan masa pembuangan ke Babel yang menyebabkan mereka memerlukan bimbingan rohani yang istimewa.
  2. Tidak adanya lagi nabi-nabi Tuhan yang mengajar umat pilihan Allah. Lagipula bahasa mereka sehari-hari adalah bahasa Arami, sehingga pada setiap kebaktian diperlukan tafsiran dan keterangan oleh pemimpin yang ahli dalam pelajaran Taurat bahasa Ibrani.
  3. Di kebanyakan kota, di mana orang Yahudi telah mendirikan synagoge-synagoge untuk rumah sembahyang mereka, dibutuhkan ahli dalam pelajaran Taurat.

Karena kenyataan-kenyataan ini, maka para ahli Taurat segera mendapat kedudukan yang berkuasa dan menjadi semakin menonjol sebagai pemimpin orang Yahudi.

Orang Farisi

Sebagai pemimpin agama, orang-orang Farisi mula-mula menjalankan segenap tuntutan Taurat dengan sungguh-sungguh. Kemudian karena tidak sanggup, mereka mulai bertindak secara lahiriah saja. Akhirnya mereka menjadi orang yang sangat munafik. Walaupun demikian, rakyat Yahudi tetap mengagumi mereka sebagai pemimpin. Mereka sangat dihormati dan disegani sehingga tak ada satu pemerintah pun yang berani meremehkan kedudukan mereka. Khususnya dalam bidang pemerintahan, mereka sangat menonjol sebagai suara utama dalam segala urusan bahkan pemerintah Roma tidak sanggup menguasai mereka, sehingga mereka dibiarkan menjalankan segala urusan rakyatnya, kecuali urusan orang-orang yang harus menghadapi hukuman mati. Hal ini mudah dibayangkan pada waktu kita membaca kitab-kitab Injil. Contoh urusan semacam ini terdapat di dalam pengadilan Tuhan Yesus sendiri waktu Pilatus bertengkar dengan para ahli Taurat.

Orang Saduki

Nama Saduki berasal dari Zadok. Orang-orang Saduki adalah anak cucu Zadok, sedangkan bani Zadok memegang jabatan Imam Besar. Ada kemungkinan juga bahwa nama Saduki berasal dari satu kata Ibrani yang berarti 'benar'. Mereka adalah pembesar-pembesar yang duduk dalam pemerintahan. Tetapi kedudukan orang-orang Saduki sebagai golongan agama atau sebagai partai politik tidak diutamakan seperti kedudukannya sebagai suatu golongan sosial. Kepercayaan mereka pada Firman Tuhan tidak terlalu kuat. Mereka bersikap masa bodoh terhadap pengharapan akan kedatangan Mesias. Mereka tidak percaya akan kebangkitan atau akan adanya malaikat-malaikat. Biarpun mereka membenci orang-orang Farisi, mereka duduk bersama orang-orang Farisi dalam urusan Sanhedrin.

Herodiani

Mereka ini bukan suatu organisasi keagamaan, melainkan suatu organisasi politik yang membela dan mempertahankan kedudukan Herodes. Orang Farisi pada umumnya sangat membenci mereka, karena mereka adalah orang Yahudi yang mendukung penuh pemerintah jajahan.

Orang Zelot

Zelot berarti fanatik. Orang Zelot adalah suatu parti nasional Yahudi yang radikal. Maksud utamanya ialah membela Hukum Taurat terhadap pengaruh kuasa pemerintah jajahan. Dengan giat mereka berjuang dari tahun 63 s.M. sampai kepada kejatuhan kota Yerusalem pada tahun 70 M. Mula-mula mereka hanya melawan Kerajaan Roma dengan kekuatan senjata, tetapi akhirnya dengan segala kekerasan mereka mulai melawan kelompok-kelompok dari bangsanya sendiri.

Septuaginta

Tradisi mengatakan bahwa atas permintaan Raja Ptolomeus Philadelphus (2'85-247 s.M.), 70 orang ahli bahasa Ibrani diutus dari Yerusalem ke tanah Mesir untuk menterjemahkan Perjanjian Lama dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani, bahasa yang umum dipakai di seluruh Asia Tengah. Kitab Taurat Musa adalah kitab yang pertama-tama diterjemahkan. Kemudian menyusul terjemahan kitab-kitab Perjanjian Lama yang lain. Terjemahan ini lazim dipergunakan pada masa Kristus.

Taxonomy upgrade extras: 

PPB-Referensi 02b

Nama Kursus : PENGANTAR PERJANJIAN BARU
Nama Pelajaran : Latar Belakang Agama Dunia PB
Kode Pelajaran : PPB-R02b

Referensi PPB-02b diambil dari:

Judul Buku : Dunia Perjanjian Baru
Pengarang : J.I Packer, Merrill C.Tenney, William White, Jr
Penerbit : Gandum Mas, Malang, 1993
Halaman : 104 - 117

REFERENSI PELAJARAN 02b - LATAR BELAKANG AGAMA DUNIA PB

SEKTE-SEKTE YAHUDI DALAM ERA PERJANJIAN BARU

Waktu Yesus lahir, orang-orang Yahudi telah terbagi dalam tiga faksi utama: Farisi, Saduki, dan Eseni. Di dalam setiap faksi itu terdapat kelompok-kelompok kecil orang Yahudi yang bersatu dengan landasan ajaran-ajaran seorang rabi tertentu atau kelompoknya. Jadi selagi membicarakan ketiga faksi besar dalam agama Yahudi Perjanjian Baru itu, kita juga perlu mengingat bahwa dalam kelompok-kelompok kecil itu orang-orang Yahudi memiliki pandangan yang beraneka ragam.

A. Orang-Orang Farisi: Para Ahli Taurat

Orang-orang Farisi muncul dari kalangan kaum Hasidim pada masa Yohanes Hirkanus. Orang-orang Farisi ini adalah ahli-ahli tafsir tradisi mulut ke mulut yang berasal dari para rabi. Pada umumnya mereka berasal dari kalangan menengah, yakni para tukang dan kaum pedagang (contoh, Paulus adalah pembuat tenda). Mereka mempunyai pengaruh yang sangat besar di antara para petani. Yosefus mengamati bahwa pada saat orang-orang Yahudi harus mengambil suatu keputusan yang sangat penting, mereka lebih bersandar pada pendapat orang- orang Farisi ketimbang pada raja ataupun imam besar (Antiquities, Bk. XII, Psl. x Bgn. 5). Karena rakyat sangat mempercayai mereka, orang Farisi diangkat untuk menduduki jabatan jabatan penting dalam pemerintahan, termasuk untuk duduk dalam Sanhedrin (Senat). Menurut perkiraan Yosefus, dalam zaman Tuhan Yesus, di tanah Palestina hanya ada sekitar 6.000 orang Farisi; karena itu mereka sangat memerlukan dukungan rakyat banyak. Kemungkinan itulah sebabnya mereka sangat gentar melihat kemampuan Yesus mengumpulkan orang banyak di sekitar- Nya.

Para Farisi mengajarkan bahwa orang yang benar akan mengalami kebangkitan sesudah kematian (Kisah 23:8), sedangkan orang durhaka akan menerima hukuman yang kekal. Tidak banyak kelompok Yahudi yang menerima ajaran itu. Sebaliknya banyak yang mendukung pendapat Yunani dan Persia bahwa setelah mati jiwa dan tubuh berpisah untuk selama-lamanya.

Kemungkinan faktor itu juga yang menyebabkan banyak orang datang pada Yesus. Yesus adalah seorang tukang kayu miskin, namun ia sangat ahli dalam menjelaskan hukum Taurat (Matius 7:28, 29); selain itu, Ia juga mengajarkan tentang kebangkitan dan kehidupan sesudah kematian (Lukas 14:14; Yohanes 11:25). Pengajaran Yesus mengenai adat istiadat manusia (Markus 7:1-9), penghormatan kepada orang tua (Markus 7:10-13), dan soal memelihara Sabat (Matius 12:2432), cocok dengan pengajaran orang-orang Farisi. Yesus juga sering berbicara mengenai malaikat-malaikat, setan-setan, dan berbagai macam roh seperti yang digambarkan dalam mistik Yahudi. Ini menarik minat orang banyak.

B. Orang-Orang Saduki: Para Penjaga Taurat

Setelah wangsa Makabeus berhasil memaksa Siria untuk angkat kaki dari bumi Palestina, orang-orang Yahudi Helenis tidak berani lagi menunjukkan diri mereka. Bagi para sarjana Yahudi, menyokong pemikiran-pemikiran Yunani sudah menjadi tidak aman. Namun kaum intelektual Yahudi ini tetap menerapkan jalan pemikiran mereka terhadap berbagai masalah pada masa itu dan mereka membentuk suatu sekte Yahudi baru yang dikenal sebagai Saduki.

Dari mana asalnya nama itu tidak lagi diketahui dengan pasti. Banyak ahli bahasa Ibrani yang menganggap kata itu diambil dari kata saddig ("benar"), atau kemungkinan juga berasal dari nama imam Zadok, karena orang-orang Saduki terkait erat dengan keimaman di Bait Allah.

Orang-orang Saduki menolak tradisi para rabi yang diturunkan dari mulut ke mulut itu. Mereka hanya menerima Taurat Musa yang tertulis, dan setiap pengajaran lain yang tidak didasarkan pada Firman Tuhan yang tertulis, mereka tolak dengan keras (Yosefus, Antiquities, Bk. XIII, Psl. x, Bgn. 6). Mereka melihat bahwa pengajaran Farisi terlalu banyak mendapat pengaruh dari Persia dan Asyur, dan menganggap orang-orang Farisi sebagai penghianat-penghianat terhadap tradisi Yahudi. Mereka menolak ajaran orang-orang Farisi mengenai malaikat-malaikat, setan-setan, dan kebangkitan setelah kematian (Matius 22:23-32; Kisah 23:8). Jadi mereka menentang Yesus ketika dalam hal itu Yesus sependapat dengan para Farisi (Matius 22:31-32).

Orang-orang Saduki mengambil pendapat seorang filsuf Yunani, Epikurus, yang mengatakan bahwa jiwa seseorang ikut mati juga ketika tubuhnya mati (Yosefus, Antiquities, B. XIII, Psl. ii, Bgn. 4). Mereka mengajarkan bahwa tiap orang menentukan nasibnya sendiri.

Orang-orang Saduki gemar berdebat tentang soal-soal teologi dan filsafat-bukti lain dari minat Yunani yang telah menjadi bagian mereka. Ide-ide canggih mereka tidak menarik untuk banyak orang, karena itu dalam bidang politik mereka terpaksa bergandengan tangan dengan orang-orang Farisi. Sebetulnya, seandainya tidak terjadi perubahan yang aneh dalam politik Yahudi, pastilah orang-orang Saduki sudah tenggelam sebelum masa Perjanjian Baru.

Orang-orang Farisi menentang keputusan Yohanes Hirkanus untuk menjadi imam besar, karena mereka mendengar bahwa dalam masa teror pemerintahan Antiokhus IV, ibu Hirkanus telah diperkosa. Hirkanus membuktikan bahwa cerita itu bohong, tetapi pengadilan Farisi hanya menjatuhkan hukuman beberapa kali pukulan saja bagi si pembuat cerita itu. Hal ini membuat Hirkanus marah besar dan ia memberikan sokongannya kepada orang-orang Saduki.

Anak Hirkanus, Aleksander Yaneus (tahun 104-78 SM), belajar di bawah asuhan para dosen Yunani di Roma. Ia sangat tertarik dengan pemikiran-pemikiran Yunani, dan secara diam-diam menyokong orang-orang Saduki yang intelektual itu. Yosefus mencatat bahwa suatu ketika Yaneus menjadi mabuk pada hari raya Pondok Daun, dan menuangkan air persembahan ke kakinya, bukan ke atas mezbah. (Mungkin ini adalah cara Yaneus untuk mengejek orang-orang Farisi, yang menuangkan air ke atas mezbah bila sedang mengharapkan turunnya hujan.) Pemberotakan pun terjadi. Tentara-tentara Yaneus memulihkan keadaan, tetapi mereka baru berhasil setelah jatuh korban sebanyak 6.000 orang (Yosefus, Antiquities, Bk. XIII, Psl. v, Bgn. 13). Orang-orang Farisi mengadakan perang saudara yang sengit dengan Yaneus (tahun 94-88 SM), yang berakhir dengan disalibkannya para pemimpin Farisi bersama 800 pengikut mereka.

Istri Hirkanus, Salome, lebih bertoleransi terhadap orang-orang Farisi ketika ia memegang pemerintahan (tahun 78-69 SM). Namun orang-orang Farisi maupun Saduki tidak pernah melupakan episode berdarah itu.

C. Orang-Orang Eseni: Para Pemegang Kebenaran Radikal

Orang-orang. Eseni juga muncul dari gerakan saleh yang dikenal sebagai Hasidim. Yosefus menginformasikan tentang adanya dua kelompok Eseni (War, Bk. 11, Psl. viii, Bgn. 2), sedangkan Uskup Hippolytus yang hidup pada abad ke-3 mengatakan ada empat kelompok Eseni (lihat karyanya, Refutation of All Heresies). Mungkin saja jumlahnya lebih dari itu.

Nama Eseni berasal dari bahasa Ibrani yang berarti "saleh" atau "suci". Walaupun mereka dinamakan demikian oleh orang-orang Yahudi yang lain, orang-orang Eseni sendiri kemungkinan menolak julukan itu. Mereka tidak memandang diri mereka suci atau saleh; tetapi mereka menganggap diri mereka sebagai para penjaga kebenaran-kebenaran yang misterius, yang akan menguasai kehidupan Israel bila kelak Mesias datang.

Banyak sarjana percaya bahwa naskah-naskah kaum Zadok yang ditemukan di sinagoge di Kairo pada tahun 1896 ditulis oleh salah satu kelompok Eseni. Naskah-naskah tersebut melukiskan pertempuran terakhir antara Baik dan Jahat, yang akan mempersiapkan jalan bagi kedatangan Sang Mesias.

Orang-orang Eseni berencana untuk merahasiakan informasi-informasi seperti itu sampai tiba waktu yang tepat. Kemungkinan mereka melihat diri mereka sebagai maskilim, "orang-orang bijaksana" yang Daniel katakan akan menuntun Israel dalam masa sengsara besar (Daniel 11:33; 12:9-10).

Orang-orang Eseni pada umumnya hidup secara berkelompok jauh di daerah-daerah pedalaman gurun pasir. Sebagian lagi tinggal di suatu pemukiman di Yerusalem dan di sana bahkan ada gerbang yang disebut Gerbang Eseni. Mereka mempraktikkan berbagai upacara yang sangat rumit untuk menyucikan diri mereka, rohani maupun jasmani. Tulisan-tulisan mereka (yaitu Gulungan Naskah Laut Mati yang pada umumnya diakui para ahli sebagai tulisan-tulisan kaum Eseni) menunjukkan bahwa mereka sangat ketat menghindarkan diri agar tidak tercemar oleh masyarakat di sekitar mereka, dengan harapan bahwa Tuhan akan menghargai kesetiaan mereka itu. Mereka menyebut pimpinan mereka sebagai Guru Kebenaran.

Gulungan Naskah Laut Mati tidak mengidentifikasi orang-orang dalam masyarakat Qumran tempat gulungan naskah itu ditulis; namun Plinius, sejarawan Romawi, mengatakan bahwa wilayah tersebut adalah markas sekte Eseni. Pada tahun 1947 seorang anak gembala Badui melemparkan sebuah batu ke dalam sebuah gua di Khirbet Qumran (di pantai barat laut Laut Mati) dan mendengar suara tembikar yang pecah. Anak gembala tersebut memasuki gua itu dan menemukan beberapa buah guci berisi naskah-naskah kuno. Para sarjana kemudian mengenali naskah- naskah temuan tersebut sebagai kitab Yesaya, tafsiran kitab Habakuk, dan beberapa dokumen lainnya yang berisi ajaran-ajaran sekte Qumran. Akhirnya, mereka berhasil menemukan sebelas gua yang di dalamnya terdapat gulungan naskah-naskah kuno. Kecuali kitab Ester, seluruh kitab lainnya dari Perjanjian Lama terdapat di antara naskah-naskah itu, baik secara lengkap ataupun sebagiannya. Sebagian besar dari naskah-naskah itu merupakan salinan-salinan dari zaman wangsa Makabeus. Penemuan itu telah merangsang minat para arkeolog terhadap puing-puing Khirbet Qumran sendiri, tempat mereka menemukan sebuah ruangan besar yang pernah digunakan untuk menyalin berbagai naskah.

Para sarjana masih memperdebatkan apakah benar penghuni Qumran adalah orang-orang Eseni, karena beberapa bagian dari tulisan-tulisan mereka ada yang bertentangan dengan ajaran-ajaran yang dikenal sebagai ajaran Eseni. Ada yang percaya bahwa orang- orang Farisi yang melarikan diri dari amukan Yaneus (tahun 88 SM) telah datang dan menetap di Qumran. (Sebuah tafsiran kitab Nahum yang ditemukan di Qumran nampak ada kaitannya dengan cara hidup orang-orang Farisi.) Namun seandainya masyarakat Qumran hanyalah salah satu pecahan dari orang-orang Eseni, itu akan merupakan penjelasan yang memuaskan tentang adanya penyimpangan-penyimpangan yang kadang-kadang mereka lakukan terhadap ajaran-ajaran Eseni yang utama.

D. Orang-Orang Zelot

Serbuan Pompeius ke tanah Palestina pada tahun 63 SM memupuskan harapan orang-orang Yahudi untuk membangun kembali suatu pemerintahan sendiri. Namun ada kelompok-kelompok yang tetap bersikeras bahwa orang-orang Yahudi harus berhasil mengusir para penyerbu dari Romawi itu. Orang-Orang "Zelot" ini berupaya membangkitkan pemberontakan di antara orang-orang Yahudi.

Pemimpin Zelot yang paling dikenal adalah Yudas orang Galilea (Kisah 5:37). Ketika Agustus memerintahkan untuk mengenakan pajak kepada "semua orang di seluruh dunia" (Lukas 2:2), Yudas memimpin suatu pemberontakan yang membawa malapetaka melawan pasukan Romawi. Yosefus berkata bahwa pemberontakan ini adalah awal dari konflik-konflik Yahudi dengan Kerajaan Romawi yang berakhir dengan penghancuran Bait Allah pada tahun 70 (Antiquities, Bk. VIII, Psl. viii).

Yudas dan pengikut-pengikutnya membenci setiap kekuatan asing yang menguasai pemerintahan di negeri mereka. Kemungkinan jalan pikiran mereka yang mendorong seorang Farisi untuk bertanya kepada Yesus, "Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?" (Markus 12:14).

Pada masa Feliks menjadi prokurator atas Yudea (tahun 52-60), orang-orang Zelot membentuk suatu kelompok radikal yang terkenal dengan nama Sicarii ("manusia belati"). Pada waktu diadakan upacara-upacara perayaan, para Sicarii disebarkan ke tengah massa. Di sana mereka membunuh para simpatisan Roma dengan belati yang diselipkan di balik baju mereka. Dalam masa perang dengan Roma (tahun 66-70), para Sicarii menyelamatkan diri ke benteng tua Yahudi di Masada, dan membuat benteng itu sebagai markas besar mereka. Dua tahun setelah jatuhnya Yerusalem, satu legiun Romawi mengadakan gempuran ke Masada. Daripada mati di tangan orang bukan Yahudi, para Sicarii memilih untuk bunuh diri beserta keluarga mereka-960 orang tewas dalam peristiwa itu.

E. Orang-Orang Herodian

Sebuah sekte Yahudi lagi yang muncul dalam era Romawi, yaitu sekte yang dikenal dengan nama Herodian. Sekte ini adalah suatu partai politik yang beranggotakan orang-orang Yahudi dari berbagai macam sekte keagamaan. Mereka mendukung dinasti Herodes Agung; sebetulnya mereka tampaknya lebih suka otonomi penuh penindasan oleh Herodes daripada pengawasan asing penguasa Romawi. Orang-orang Herodian ini tiga kali disebut dalam Perjanjian Baru (Matius 22:16; Markus 3:6; 12:13), namun tidak ada satu pun dari ayat-ayat itu yang memberi kita gambaran yang jelas mengenai kepercayaan mereka.

Beberapa sarjana percaya bahwa orang-orang Herodian mengira Herodes adalah Mesias. Namun pandangan tersebut tidak didukung oleh bukti yang kuat.

F. Orang-orang Samaria

Orang-orang Samaria adalah hasil perkawinan campuran antara orang-orang Yahudi yang tetap tinggal di tanah Palestina dengan orang-orang Asyur yang menaklukkan Israel dan menduduki Tanah Perjanjian itu. Jadi, keberadaan mereka merupakan suatu pelanggaran terhadap Taurat Allah. Mereka beribadah kepada Allah di Bukit Gerizim, di lokasi tempat mereka mempersembahkan binatang kurban dan mendirikan tempat ibadah mereka sendiri. Orang-orang Samaria dipandang rendah oleh orang-orang Yahudi yang kembali dari pembuangan. Mereka disebut sebagai "orang bodoh yang tinggal di Sikhem" (Ekklesiastikus 50:25-26). Pada tahun 128 SM Yohanes Hirkanus menghancurkan tempat ibadah di Bukit Gerizim itu. Sejak saat itu orang-orang Yahudi dan orang-orang Samaria putus hubungan sama sekali (band. Yohanes 4:9).

Dalam hal-hal tertentu, Yesus juga mengambil jarak dengan orang-orang Samaria. Ia menyuruh murid-murid-Nya agar tidak menyimpang ke tempat orang-orang bukan Yahudi dan ke kota-kota orang Samaria (Matius 10:5-7). la juga mencela kebiasaan orang-orang Samaria yang menyembah hanya di Bukit Gerizim (Yohanes 4:19-24). Meskipun demikian Yesus mau berkunjung ke sebuah desa di Samaria (Lukas 9:52), dan berbicara dengan seorang perempuan Samaria (Yohanes 4:742). Bahkan perumpamaan-Nya tentang Orang Samaria yang Murah Hati menunjukkan bahwa dalam pandangan-Nya, orang Samaria bisa jadi lebih setia terhadap Taurat daripada orang Yahudi (Lukas 10:25-37). Ketika Yesus menyembuhkan 10 orang kusta, hanya si pria Samaria yang datang mengucapkan terima kasih kepada-Nya (Lukas 17:11-19). Dan ketika Yesus mengamanatkan murid-murid-Nya untuk melaksanakan misi pemberitaan Injil, Ia secara khusus mengutus mereka untuk pergi juga ke Samaria (Kisah 1:8).

G. Para Pengikut Yohanes Pembaptis

Yohanes Pembaptis, dilahirkan dari pasangan suami-istri lanjut usia keturunan keluarga Imam Harun. Sebagian sarjana beranggapan bahwa setelah orang tuanya meninggal, Yohanes Pembaptis pergi ke padang gurun dan hidup di antara orang-orang Eseni (band. Lukas 1:80). Namun lebih besar kemungkinannya bahwa orang tuanya yang telah membawa dia ke padang gurun untuk menghindari pembantaian bayi-bayi yang dilakukan oleh Herodes (Matius 2:16). Bagaimanapun juga, orang-orang Eseni tentu sudah mempengaruhi keluarga Yohanes Pembaptis.

Yohanes Pembaptis menyatakan bahwa Mesias segera akan muncul di Israel, dan ia menyerukan agar orang Israel mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Sang Penebus itu. Ini menarik perhatian masyarakat umum yang kemudian datang kepada Yohanes untuk dibaptis. Tetapi Herodes kuatir kalau-kalau kegiatan Yohanes ini memberi inspirasi kepada masyarakat untuk mengadakan pemberontakan (Yosefus, Antiquities, Bk. XVIII, Psl. v, Bgn. 2).

Pengajaran Yohanes sendiri rupanya bersifat revolusioner. Ia menganjurkan murid-muridnya untuk saling berbagi pakaian dan makanan (Lukas 3: 11). Ia mengutuk perkawinan Herodes dengan iparnya karena suami sang ipar, yaitu saudara laki-laki Herodes sendiri, masih hidup. Ia tidak gentar menentang keadaan politik Israel yang status quo. Akhirnya, Yohanes dipancung atas perintah Herodes Antipas.

Banyak dari pengikut Yohanes yang beranggapan bahwa Yohanes adalah Sang Mesias itu sendiri. Walaupun mereka pada hakikatnya tidak membentuk suatu sekte tersendiri, pada masa Yesus gerakan mereka merupakan gerakan keagamaan yang penting. Sekarang ini di Timur Dekat ada suatu kelompok kecil yang dikenal sebagai orang-orang Mandea, yang menyatakan diri mereka sebagai keturunan dari pengikut-pengikut Yohanes Pembaptis.

Taxonomy upgrade extras: 

PPB-Referensi 05

Nama Kursus : PENGANTAR PERJANJIAN BARU
Nama Pelajaran : Pelayanan Rasul Paulus Dan Surat-Surat Rasul Paulus
Kode Pelajaran : PPB-R05

Referensi PPB-05 diambil dari:

Judul Buku : Dunia Perjanjian Baru
Pengarang : J.I Packer, Merrill C.Tenney, William White, Jr
Penerbit : Gandum Mas, Malang, 1993
Halaman : 173 - 176

REFERENSI PELAJARAN 05a - LATAR BELAKANG RASUL PAULUS DAN SURAT-SURAT RASUL PAULUS

USAHA-USAHA MISI

Kristus telah mendirikan Gereja-Nya pada persimpangan jalan dunia lama. Jalur-jalur perdagangan saat itu membawa para pedagang dan utusan pemerintahan melalui Palestina, tempat mereka dapat mendengar Injil. Karena itu, di dalam Kisah Para Rasul kita membaca tentang pertobatan pejabat dari Roma (Kisah 10:1-48), Etiopia (Kisah 8:26-40), dan negeri-negeri lain.

Tidak lama setelah kematian Stefanus, gereja mulai melakukan usaha-usaha yang terencana untuk mengabarkan Injil kepada bangsa-bangsa lain. Petrus mengunjungi kota-kota utama Palestina, memberitakan Injil kepada orang-orang Yahudi dan yang bukan Yahudi. Para rasul yang lain pergi mengunjungi Fenisia, Siprus, dan Antiokhia di Siria. Mendengar bahwa Injil telah diterima baik di daerah-daerah ini, gereja di Yerusalem kemudian mengirimkan Barnabas untuk menyokong jemaat Kristen baru di Antiokhia (Kisah 11:22-23). Barnabas kemudian pergi ke Tarsus untuk menemui seorang pemuda yang baru bertobat yang bernama Saulus. Barnabas membawa Saulus kembali ke Antiokhia, dan mereka mengajar jemaat di sana selama lebih dari satu tahun (Kisah 11:26).

Seorang nabi yang bernama Agabus meramalkan bahwa Kekaisaran Romawi akan menderita kelaparan yang hebat di bawah pemerintahan Kaisar Claudius. Kaisar Herodes Agripa terus menganiaya gereja di Yerusalem; ia telah membunuh Yakobus saudara Yesus, dan memasukkan Petrus ke dalam penjara (Kisah 12:1-4). Karena itu, jemaat Kristen di Antiokhia mengumpulkan uang untuk dikirimkan kepada saudara-saudara mereka di Yerusalem, dan mereka menitipkan bantuan itu pada Barnabas dan Saulus. Barnabas dan Saulus kembali dari Yerusalem dengan membawa seorang pemuda bernama Yohanes Markus (Kisah 12:25).

Pada waktu itu, beberapa penginjil telah muncul di dalam gereja Antiokhia, karenanya jemaat di sana mengutus Barnabas dan Saulus sebagai utusan Injil ke Asia Kecil (Kisah 13-14). Perjalanan ini merupakan perjalanan pertama dari tiga perjalanan besar yang dilakukan oleh Saulus (yang kemudian dikenal sebagai Paulus) untuk membawa Injil ke pelosok-pelosok Kekaisaran Romawi.

Para misionaris Kristen yang mula-mula itu memusatkan pengajaran mereka pada Oknum dan karya Yesus Kristus. Mereka menyatakan bahwa Ia adalah hamba Allah yang tak berdosa, dan Anak Allah sendiri, yang telah memberikan nyawa-Nya untuk menebus dosa-dosa semua orang yang percaya kepada-Nya (Roma 5:8-10). Dialah yang dibangkitkan Allah dari antara orang mati untuk mengalahkan kekuatan dosa (Roma 4:24- 25; 1Korintus 15:17).


KEPEMIMPINAN GEREJA

Mula-mula, para murid Yesus tidak melihat perlunya mengembangkan suatu sistem kepemimpinan gereja. Mereka mengharapkan Kristus segera kembali, karenanya mereka hanya menghadapi masalah intern bila ada yang timbul biasanya dengan cara yang sangat informal.

Namun ketika Paulus menulis surat-suratnya kepada banyak gereja, jemaat Kristen menyadari perlunya mengorganisasi pekerjaan mereka. Perjanjian Baru tidak memberi kita gambaran rinci mengenai kepemimpinan gereja mula-mula ini. Kelihatannya, satu atau lebih penatua (presbyters) mengetuai dan mengatur masalah-masalah di dalam setiap jemaat (band. Roma 12:6-8; 1Tesalonika 5:12; Ibrani 13:7, 17, 24), sama seperti yang dilakukan oleh para penatua Yahudi di dalam sinagoge mereka. Para penatua ini dipilih oleh Roh Kudus (Kisah 20:22), meskipun para rasullah yang mengangkat mereka (Kisah 14:23). Jadi, Roh Kudus bekerja melalui para rasul untuk menetapkan para penatua dalam pelayanan mereka. Beberapa pelayan yang disebut penginjil kelihatannya telah melakukan perjalanan dari satu jemaat ke jemaat lainnya, seperti yang dilakukan oleh para rasul. Beberapa dari mereka berpikir bahwa mereka adalah wakil langsung dari para rasul, seperti Timotius menjadi wakil Paulus; yang lainnya berpikir bahwa mereka memiliki karunia khusus dalam penginjilan. Para penatua melaksanakan tugas-tugas pastoral biasa di luar saat-saat kunjungan para penginjil itu.

Dalam beberapa jemaat, para penatua mengangkat diaken-diaken untuk menangani pembagian makanan kepada orang-orang yang membutuhkan atau mengurus kebutuhan materi lainnya (band. 1Timotius 3:12). Para diaken mula-mula dulu adalah mereka "yang terkenal baik" yang dipilih oleh para penatua di Yerusalem untuk melayani janda-janda di dalam jemaat (Kisah 6:1-6).

Beberapa surat dalam Perjanjian Baru menyebut istilah penilik dalam jemaat yang mula-mula. Ini cukup membingungkan, karena para "penilik" (bishop) ini tidaklah merupakan kelompok atas dalam kepemimpinan gereja, seperti yang dikenal sekarang ini. Paulus mengingatkan para penatua di Efesus bahwa mereka adalah penilik (Kisah 20:28), dan ia kelihatannya menggunakan dua istilah itu, penatua dan penilik, secara bergantian dengan makna yang sama (Titus 1:5-9). Baik para penatua maupun penilik ditugasi untuk menjaga sebuah jemaat. Rupanya kedua istilah tersebut mengacu pada para pelayan yang sama di dalam gereja mula-mula, yakni para presbiter.

Paulus dan rasul-rasul lainnya memahami bahwa Roh Kudus memberikan kemampuan khusus untuk memimpin kepada orang-orang tertentu (1Korintus 12:28). Karena itu ketika mereka menganugerahkan suatu jabatan kepada seorang saudara atau saudari seiman, mereka hanyalah menegaskan apa yang sesungguhnya telah dikerjakan oleh Roh Kudus.

Tidak ada pusat kekuasaan duniawi di dalam gereja mula-mula itu. Jemaat Kristen mengetahui bahwa Kristuslah satu-satunya pusat dan sumber dari seluruh kekuatan jemaat (Kisah 20:28). Pekerjaan pelayanan berarti melayani dengan rendah hati, dan bukan memerintah dari dalam kantor yang enak (band. Matius 20:26-28). Pada saat Paulus menulis surat-surat penggembalaannya, jemaat Kristen menyadari pentingnya menjaga ajaran-ajaran Kristus yang disampaikan melalui para pelayan jemaat yang mengabdikan diri untuk secara khusus "berterus terang memberitahukan perkataan kebenaran itu" (2Timotius 2:15).

Gereja mula-mula itu tidak memberikan kekuatan-kekuatan gaib kepada orang-orang melalui ritual-ritual atau cara-cara lainnya. Jemaat Kristen mengundang orang-orang yang belum percaya memasuki persekutuan mereka, yaitu tubuh Kristus (Efesus 1:23), yang akan diselamatkan kelak sebagai satu kesatuan. Para rasul dan penginjil memberitakan bahwa Kristus akan datang kembali bagi umat-Nya, "pengantin perempuan Kristus" (band. Wahyu 21:2; 22:17). Mereka menyangkal bahwa orang-orang bisa memperoleh kekuatan khusus dari Kristus untuk tujuan-tujuan pribadi mereka sendiri (Kisah 8:9-24; 13:7-12).

Taxonomy upgrade extras: