Yesus Datang Meluruskan yang Bengkok

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Yesus Datang Meluruskan yang Bengkok (Lukas 3:4-6)

Oleh: Melky Molle

Dalam menjalani kehidupan ini kadang kita dipertemukan dengan berbagai problematika atau masalah yang memberi pengertian-pengertian yang mewarnai hidup manusia, yang memiliki dampak manusiawi dan tidak manusiawi. Kadang manusia menghindari hal-hal sakit dari pada menghadapinya. Kadang manusia lebih memilih jalan yang terhindar dari masalah-masalah yang menyakitkan secara fisik dan psikis.

Dalam pengertian itu, maka manusia dengan sendirinya tidak mau terbentur dengan keadaan yang menyengsarakan, di antaranya; tidak mau merasakan kekurangan dari segi materi, hidup menderita karena sakit penyakit, hidup menderita karena usaha yang dijalankan mengalami kegagalan.

Realita ini tidak dapat dipungkiri bahwa manusia dalam konteks kekinian, dalam pandangan ini, jelas manusia lebih memilih hidup dengan menikmati kenikmatan, daripada menghadapi benturan hidup yang menyakitkan tanpa kecuali. Pengecualian manusia lebih memilih hidup dengan menikmati kenikmatan dunia, adalah hidup hedonisme yang melahirkan pola hidup materialisme karena pengaruh Modernitas.

Dengan demikian, apa yang dipikirkan oleh Aristoteles dalam ajarannya (Nicomacea) tentang apa itu Manusia? Juga dapat dibenarkan. Bahwa manusia dilahirkan tidak sempurna, ada yang bengkok, pincang, dan tidak lurus. Itu berarti manusia tidak utuh. Ketika Aristoteles sampai pada kesadaran itu, maka ia balik mempertanyakan apa yang menjadi jawaban ketidakutuhan manusia. Apa betul, manusia tidak utuh?
Dari pertanyaan itu, muncul jawaban yang disampaikan oleh Gandi salah satu pemikir dari Asia-India, bahwa dalam diri manusia terbagi atas dua unsur sifat dasar manusia.

Pertama, manusia memiliki sifat keilahian, dan yang ke dua, manusia memiliki sifat kebinatangan (reptyle). Dari kedua unsur itu, jelas bahwa sifat ke ilahian pada diri manusia terdapat pada tubuh manusia, yaitu dari kepala sampai pusar terdapat sifat keilahian, dan dari pusar sampai kaki adalah unsur kebinatangan. Maka ia mengatakan; jika demikian, maka sepantasnyalah manusia harus menyadari dua sifat dasar itu. Jika kesadran itu telah ada, maka manusia dapat mengontrol kedua sifat dasar itu. Ibarat handphone kedua sifat itu harus dikontrol, apakah kita dapat memaksimalkan fungsinya atau tidak.

Artinya bahwa jika kita memaksimalkan sifat keilahian, maka kita harus men-charge sifat keilahian itu. Jika tidak, maka sifat kebinatangan akan lebih dominan, dari pada sifat keilahian. Sehingga tidak heran, jika kita kurang atau tidak men-charge sifat keilahian maka sifat keilahian kita tidak dapat mengontrol sifat kebinatangan kita.

Maka tidak dapat disangkal di sana-sini banyak terjadi perhugelan, terjadi kecemburuan sosial tanpa berusaha, terjadi korupsi, pemerkosaan, pembunuhan, dan perceraian, adalah realita yang secara kasat mata tidak terpungkiri lagi, kalau itu terjadi karena tidak adanya pemaksimalan sifat keilahian itu. Sehingga menurut saya, untuk pemaksimalan sifat keilahian itu ialah; jangan mengabaikan persekutuan Kristen (ibadah Minggu) jangan abaikan perjamuan kudus, terlebih khusus kegiatan-kegiatan kegerejaan sebagai sumber dogmatis dan nilai, yang akan termanifestasi/tercermin dalam setiap diri orang Kristen.

Orang Kristen pasti tau dan sadar akan realitas ini. Jadi teruslah belajar pada Yesus Sang Guru yang telah mempersaksikan kiprahnya di medan pergumulannya, di bumi. Karena Yesus datang bukan bagi orang yang menganggap dirinya benar,sehat, tetapi bagi orang yang sakit dan berdosa, yang tidak lurus, bengkok, pincang dan yang tidak utuh bahkan yang patah. Yesus datang seperti yang digambarkan oleh nabi Yesaya: ada suara yang berseru-seru di padang gurun: persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya, setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan, dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan. (Lukas 3:4-6)

Dengan demikian maka yang bengkok diluruskan, yang patah diperbaiki, yang putus disambung kembali. Bahkan kehadiran Yesus bukan dengan utuhnya sebagai Tuhan Allah pencipta langit dan bumi, tetapi rela menjadi bengkok seperti manusia dan menjadi manusia. Yesus menjadi manusia dan menjadi bengkok seperti manusia untuk meluruskan manusia yang bengkok itu, lewat pembuktian, ketika Yesus di siksa dan berjalan pada lorong-lorong jalan menuju bukit tengkorak, wajah Yesus dipukul ataupun disiksa sampai bengkok bahkan wajah dan tubuh Yesus menjadi rusak, sampai-sampai murid-murid-Nya tidak dapat mengenali-Nya. jadi Yesus datang meluruskan segala sesuatu dalam diri manusia. Dan karena manusia, Yesus mau menjadi manusia dan bengkok seperti manusia.

Tindakan etis itulah Yesus menyadarkan kita, untuk tetap mengkontekstualisasikan teks dalam kehidupan sehari-hari untuk menemukan makna hidup yang sebenarnya sebagai orang percaya pada ,Yesus Kristus sebagai pusat sentral Iman Kekristenan yang melahirkan tindakan penderitaan untuk kebahagiaan pihak lain, itulah sejarah Kristus, dan juga sejarah tubuh Kristus yang adalah gereja. (Matius 25:31-46).

Sumber Referensi

Nama Situs : MemoxPencerahan
Alamat URL : http://memoxpencerahan.wordpress.com
Kategori: