Gereja di Persimpangan Jalan

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Loading

Bagaimanakah anggapan kebanyakan warga gereja tentang gereja? Mungkin beberapa ilustrasi berikut lebih mampu membentangkan kepada kita, bagaimana lazimnya perlakuan warga gereja terhadap gereja.

Pertama, banyak warga gereja memandang gereja sebagai supermarket. Mereka memiliki daftar kebutuhan hidup dan rohani yang mereka harapkan dapat mereka peroleh dari gereja. Mereka mengharapkan bahwa gereja dapat memberikan layanan yang memuaskan: khotbah-khotbah yang cocok dengan kebutuhan, penataan ibadah yang menarik, suasana yang enak, dsb.. Jika unsur-unsur ini tidak terpenuhi, masuk akallah bila mereka mengunjungi "supermarket" lain yang lebih mampu menyediakan layanan yang memuaskan.

Gedung gereja

Kedua, ada pula warga gereja yang menganggap gereja sebagai gedung pertunjukan, tempat mereka menonton berbagai pertunjukan seperti vocal group atau paduan suara, sakramen, kemampuan bicara pengkhotbah, dsb.. Tidak heran bahwa daftar kebaktian Minggu yang dimuat di surat kabar diperlakukan mirip dengan daftar pertunjukkan bioskop.

Ketiga, ada pula yang memperlakukan gereja sebagai klub sosial tempat para anggotanya memperluas pergaulan, mencari lubang-lubang kesempatan untuk memperluas jaring-jaring bisnis. Sementara itu, tidak kurang pula para pemimpin gereja yang menata kehidupan gereja seperti seorang direktur menata suatu perusahaan. Pembuatan keputusan disetir lebih banyak oleh pengaturan budget, berorientasi pada program, efisiensi, dsb..

Terakhir, sebagian warga gereja menganggap gereja seperti rumah sakit. Mereka pergi ke gereja untuk mendapatkan perhatian, dikunjungi, dirawat, didoakan, ditelateni, dsb.. Maka gereja yang memiliki pendeta dan pemimpin yang mampu bertindak seperti perawat dan dokter rohani akan lebih disenangi warga gereja tipe ini.

Mungkin Anda merasa lukisan saya tentang kehidupan gereja tadi terlalu sinis dan pesimis. Akan tetapi, kalau Anda amati dengan tajam, ternyata memang begitulah sebagian besar penghayatan warga gereja kita masa kini. Dari semua gambaran tadi, tak ada satu pun yang melihat gereja sebagai "aku" atau "kita". Semua melihat gereja, entah sebagai tempat (tempat mendengarkan firman, tempat beribadah, tempat beribadah, tempat dilayani) atau sebagai pihak yang melalui siapa "kami" (para warga gereja) mendapatkan faedah rohani. Dengan kata lain, ada kekeliruan konsep tentang arti gereja dan ada kesenjangan yang lebar antara awam dan pejabat gereja.

Kalau tadi kita melihat kehidupan gereja dari sudut penghayatan para warga gereja, mari kita tinjau keadaan gereja di Indonesia dari sudut penataan kehidupan gereja.

Liturgi

Pertama, kita melihat kecenderungan sifat tradisionalisme yang sangat kuat, terutama di kalangan gereja-gereja yang mapan. Yang saya maksudkan tradisionalisme di sini ialah sikap puas akan tradisi dan sikap kaku mempertahankan tradisi, sampai-sampai mengorbankan penghayatan segar yang harus ada dalam kehidupan gereja dan tradisi yang sebetulnya baik dan perlu itu menjadi sesuatu yang mati dan menghambat kehidupan gereja. Dalam sikap ini, kita jumpai keengganan untuk menyesuaikan bentuk-bentuk ibadah, tata ibadah, dan pengajaran agar sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan ciri manusia masa kini. Kita jumpai pula sikap Farisi, yaitu mati-matian mempertahankan bentuk-bentuk ibadah walaupun tanpa isi dan semangat ibadah yang hidup. Tradisi yang baik memang harus dipertahankan, tetapi di dalamnya harus hadir kuasa kehadiran Allah yang memperbarui dan menyegarkan itu. Tradisi, bagaimanapun baiknya, tetap dipengaruhi oleh bentuk-bentuk pergumulan budaya pada suatu konteks tempat dan kurun waktu tertentu. Karena kita hidup dalam zaman yang sedang berubah cepat, kekakuan tradisi akan membuat kita menjadi agama yang tidak relevan dan tidak kontekstual.

Kedua, kecenderungan mengartikan gereja sebagai institusi. Tidak salah dan tidak dapat disangkal bahwa ada aspek kelembagaan dalam kehidupan gereja. Namun, demikian segi kelembagaan ini dilihat sebagai unsur sarana dan bukan unsur hakiki. Sementara pada masa kini, sepertinya terdapat penyamarataan antara kegiatan dengan kehidupan gereja, antara gedung dengan gereja. Khususnya di kota-kota besar terdapat kecenderungan untuk mengidentikkan gereja dengan gedung, dan bahkan untuk berlomba-lomba membangun gedung yang megah, mewah, dan harga yang "wah". Bila demikian, gedung gereja justru mengikat kita pada beberapa kelemahan: immobilitas, karena semakin besar dan megah semakin menyedot program ke dalam gereja sendiri, bukan ke luar; kekakuan, karena penataan ruang mengharuskan bentuk komunikasi yang satu arah dan pasif; ketiadaan persekutuan; kesombongan; dan kesenjangan antarkelas ekonomi.

Ketiga, kecenderungan menata gereja secara birokratis. Dalam bukunya "Teologia Kaum Awam", Hendrik Kraemer menelanjangi bentuk keuskupan baru yang menjangkiti gereja-gereja Reformasi, yaitu adanya dualisme antara kaum klerus atau para pejabat gereja, pemimpin gereja, atau mereka yang andal dalam bidang teologi dan kepemimpinan kerohanian dan kaum awam yang menganggap atau dianggap buta teologi, buta Alkitab, dan tidak mampu melayani. Secara fakta, gereja-gereja reformasi masa kini sebenarnya sudah mundur balik ke keadaan kepausan Roma Katolik yang tadinya ditentang oleh para pendahulu kita, hanya sekarang dalam bentuk dan warna lain. Disadari atau tidak, kenyataan ini adalah salah satu penyebab utama kelumpuhan gereja masa kini. Sebenarnya, gereja adalah kita semua, yaitu semua umat tebusan Allah. Jika para warga gereja yang justru merupakan ujung tombak kekristenan di tengah dunia ini diperlakukan sebagai awam yang bodoh dan tak mampu, praktis gereja tak mungkin lagi membawa dampak dalam dunia ini.

Keempat, adanya kesenjangan yang cukup parah antargenerasi dan kelas para warga gereja. Misalnya, program-program gereja kebanyakan disusun menurut usia dan jenis kelamin. Kelas-kelas sekolah minggu yang terbatas hanya pada usia anak sampai pemuda, terpisah dari konteks keluarga yang sebenarnya justru lebih diutamakan Alkitab sebagai iklim paling tepat untuk pendidikan rohani. Juga ada kelompok-kelompok kegiatan yang memperkuat kesenjangan antargenerasi, misalnya kegiatan komisi wanita, komisi pemuda, dsb.. Memang pembagian kegiatan menurut kategori tadi membuat pelayanan mungkin lebih efektif, tetapi harus dipikirkan wadah-wadah ibadah dan pelayanan yang aktif menghayati sifat heterogen dari gereja. Bila tidak, sukar sekali gereja yang bersangkutan menghayati hakikat keumatannya.

Terakhir, adanya kecenderungan mengutamakan para profesional dalam kepemimpinan gereja dan menjalankan semangat profesionalisme dalam pelayanan gereja. Memang kita patut mensyukuri potensi yang ada di tengah warga gereja, juga memetik manfaat dari keahlian mereka. Namun, kriteria kepemimpinan alkitabiah tetap mendahulukan dan mensyaratkan kualitas rohani mengatasi kualitas pengetahuan, pendidikan, keterampilan, ataupun kedudukan dalam masyarakat. Bahaya dari kepemimpinan para profesional yang tidak rohani ialah menerapkan semua prinsip yang mereka pandang berhasil dari dunia mereka ke dunia gerejawi. Padahal, sifat gereja sebagai organisme rohani, dan bukan terutama organisasi, menuntut adanya pendekatan kepemimpinan, penataan, dan pemrograman yang khas. Sementara itu, menjalankan pelayanan semata-mata karena keahlian akan menghasilkan suatu kegiatan yang mungkin berhasil secara manusiawi, tetapi tidak disertai dan diberkati Tuhan.

Rasanya belum lengkap analisis keadaan gereja Indonesia masa kini ini bila kita tidak juga meneropong keadaan dunia masa kini.

Ekklesia

Selain kemerosotan moral yang makin menggila, problem-problem hidup yang makin berat (krisis energi, ledakan penduduk, masalah-masalah ekologis yang rumit, peperangan, dsb.), dunia kita kini ditandai terutama oleh perubahan-perubahan yang cepat dan mendasar. Beberapa perkembangan teknologi memungkinkan manusia bergerak lebih cepat dan lebih sering, mengakibatkan manusia kurang mampu berkonsentrasi dan terancam tidak mampu membina hubungan-hubungan yang menetap dan setia. Di samping itu, urbanisasi menciptakan suatu keadaan sosial yang mobil, pergeseran bahkan disintegrasi nilai-nilai tradisional dan konsentrasi ekonomi yang berubah. Keadaan ini menyebabkan semua orang harus bersedia untuk berubah dan menjalani proses belajar yang lebih intens agar dapat menyesuaikan diri dengan situasi yang berubah-ubah itu. Dengan kata lain, bukan saja gereja harus ditata secara lebih dinamis, gereja pun harus mampu menyediakan wadah persekutuan yang lebih hidup, dinamis, dan lebih memungkinkan berlangsungnya proses pembinaan dan proses perubahan di antara warganya.

Pengamatan tiga unsur di atas menyadarkan kita bahwa gereja masa kini sedang berada di persimpangan jalan. Kita perlu pandai memetik pelajaran dari pengalaman gereja-gereja Barat yang kini sudah memasuki zaman pascakekristenan atau pascatradisi dan denominasi. Untuk memperbarui kehidupan gereja masa kini tidak cukup tambal sulam sana sini, tetapi membutuhkan pemikiran yang lebih alkitabiah, lebih menampung dinamika kuasa Allah, dan lebih menjawab tuntutan zaman, bukan saja dalam pilihan metode, tetapi lebih penting lagi dalam penataan struktur dan strategi kehidupan gereja.

Audio Gereja di Persimpangan

Diambil dari:
Nama situs : Alkitab SABDA
Alamat situs : http://alkitab.sabda.org/resource.php?topic=165&res=jpz
Judul asli artikel : Gereja di Persimpangan Jalan
Penulis artikel : Ev. Paul Hidayat
Tanggal akses : 11 September 2017
Kategori: 

Komentar