GEREJA DAN ALKITAB SEJARAH PERKEMBANGAN PENERJEMAHAN DAN PENGGUNAAN ALKITAB DITINJAU DARI SEGI PERKEMBANGAN DAN PERSATUAN BANGSA

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

T. B. SIMATUPANG

Umum

Apabila kita percaya dan yakin bahwa ALKITAB adalah firman Allah yang harus disampaikan kepada semua bangsa dan yang harus dapat dibaca setiap orang, maka dengan sendirinya kita menyadari keharusan untuk menerjemahkan ALKITAB dalam bahasa-bahasa dari berbagai bangsa. Sebab tidaklah realistis untuk menuntut agar setiap orang yang hendak membaca ALKITAB harus terlebih dahulu mempelajari bahasa-bahasa asli di mana ALKITAB ditulis. Berapa banyakkah orang yang akan dapat membaca Perjanjian Baru, andaikata Perjanjian Baru itu hanya dapat dibaca dalam Bahasa Yunani? Berapa banyakkah orang yang akan dapat membaca Perjanjian Lama, andaikata Perjanjian Lama itu hanya dapat dibaca dalam Bahasa Ibrani?

Tidak pernah ada semacam "larangan" untuk menerjemahkan ALKITAB ke semua bahasa yang ada di dunia ini. Apabila ALKITAB hendak disampaikan kepada semua bangsa, maka justru terdapat keharusan dan bukan "larangan" untuk menerjemahkan ALKITAB ke bahasa-bahasa dari semua bangsa. Dalam hal penerjemahan Kitab Suci terdapat perbedaan pandangan antara Agama Kristen dengan beberapa agama lain. Upaya penerjemahan terhadap apa yang sekarang kita kenal sebagai Perjanjian Lama telah dimulai sebelum Kristus lahir. Di antara orang-orang Yahudi yang hidup di perantauan (diaspora) banyak yang tidak memahami Bahasa Ibrani. Oleh sebab itu dalam abad ke-2 sebelum Kristus telah ada terjemahan dari Perjanjian Lama dari Bahasa Ibrani ke Bahasa Yunani, yaitu bahasa yang pada waktu itu paling luas tersebar di semua kalangan dan di semua bangsa di kawasan sekitar Laut Tengah. Itulah sebabnya Perjanjian Baru kemudian ditulis dalam Bahasa Yunani. Pada waktu itu posisi Bahasa Yunani di Kerajaan Roma kurang lebih sama dengan posisi Bahasa Indonesia dalam Republik Indonesia kita sekarang ini.

Pada hari Pencurahan Roh Kudus muka orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa yang berkumpul di Yerusalem mendengar rasul- rasul berkata dalam bahasa mereka sendiri. Sejak itu maka dalam rangka perjalanan Injil dari Yerusalem ke seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi (Kisah Para Rasul 1:8) untuk menjadikan semua bangsa murid Tuhan (Matius 28:19), maka ALKITAB setiap kali telah diterjemahkan ke bahasa-bahasa dari berbagai bangsa agar semua orang dapat membacanya dalam bahasa mereka sendiri. Bahasa mereka sendiri berarti bahasa mereka sehari-hari, bukan bahasa dari bangsa atau suku sendiri. Apabila yang dimaksud ialah bahasa dari bangsa atau suku sendiri, maka Perjanjian Lama tidak pernah akan diterjemahkan dari Bahasa Ibrani ke Bahasa Yunani seperti yang terjadi pada abad ke-2 sebelum Kristus.

Menerjemahkan sebuah buku dari suatu bahasa ke bahasa lain berarti mengusahakan agar terjemahan itu pada satu pihak setia kepada isi dari buku dalam bahasa asli dan pada pihak lain agar terjemahan itu dapat dibaca dengan jelas dalam bahasa yang ke dalamnya buku asli itu diterjemahkan. Tidak selalu mudah untuk menjunjung tinggi segi kesetiaan dan segi kejelasan ini secara serentak. Terjemahan yang setia sering tidak jelas, sedangkan terjemahan yang jelas sering tidak setia. Oleh sebab itu menerjemahkan buku selalu merupakan pekerjaan yang berat. Menerjemahkan ALKITAB lebih berat lagi. Sebab menerjemahkan ALKITAB berarti menerjemahkan Firman Allah ke bahasa- bahasa yang belum mengenal Firman Allah itu dan oleh sebab itu tidak mengenal kata-kata serta pengertian-pengertian yang diperlukan untuk mengungkapkan Firman Allah itu. Oleh sebab itu sering harus dikembangkan atau dipinjam kata-kata yang bersifat baru bagi bahasa yang bersangkutan.

Sering terjadi bahwa ALKITAB harus diterjemahkan ke bahasa-bahasa yang sebelumnya tidak mengenal aksara. Sering pula terjadi bahwa terjemahan ALKITAB mempunyai pengaruh yang besar atas perkembangan suatu bahasa bahkan perkembangan suatu bangsa. Oleh karena ALKITAB merupakan buku yang paling banyak diterjemahkan ke bahasa-bahasa yang ada di dunia ini, maka pada umumnya dapat kita katakan bahwa terjemahan-terjemahan ALKITAB telah mempunyai pengaruh yang besar atas perkembangan peradaban umat manusia umumnya.

Terjemahan ALKITAB di Eropa, baik di Eropa Barat maupun di Eropa Timur, dijalankan untuk bangsa-bangsa dan dalam bahasa-bahasa yang sebelumnya tidak mengenal agama-agama "tinggi", yaitu agama-agama yang memiliki sistem pemikiran keagamaan yang berada pada tahap perkembangan yang tinggi, seperti kemudian terjadi waktu ALKITAB diterjemahkan untuk bangsa-bangsa dan dalam bahasa-bahasa di Asia. Di antara bahasa-bahasa di Asia banyak yang telah lama dipengaruhi oleh sistem pemikiran dari agama-agama "tinggi", yaitu Agama Islam, Hindu atau Budha.

Di Eropa Barat terjemahan ALKITAB dalam bahasa Latin yang disebut Vulgata mempunyai pengaruh yang sangat luas. Di Eropa Timur yang sangat terkenal ialah terjemahan oleh Cyrillus dan Methodius sekaligus mengembangkan aksara yang baru untuk Bahasa Slavonik, yang disebut aksara cyrilik. Orang-orang Rusia, Serbia dan Bulgaria masih menggunakan terjemahan dalam bahasa Slovonik kuno dalam kebaktian- kebaktian mereka.

Setelah Reformasi maka terjemahan-terjemahan ALKITAB dalam Bahasa Jerman (terjemahan oleh Martin Luther), dalam Bahasa Belanda (Statenvertaling) dan dalam Bahasa Inggris (Standard Version) telah mempunyai pengaruh yang besar dan luas dalam perkembangan dari bahasa- bahasa dan perkembangan dari bangsa-bangsa yang bersangkutan, sebab sebagai akibat dari Reformasi maka ALKITAB menjadi buku yang dibaca secara luas di kalangan rakyat.

Waktu saya menghadiri Sidang Raya Persekutuan Lembaga-Lembaga ALKITAB Sedunia di Budapest pada tahun 1988, maka saya dengar bahwa dalam negara komunis Hongaria ALKITAB masih tetap dipelajari di sekolah- sekolah pemerintah sebagai buku yang mempunyai pengaruh yang besar atas perkembangan bahasa dan kebudayaan Hongaria.

Di Mesir sendiri ALKITAB dalam bahasa Koptik telah melestarikan bahasa itu sejak bahasa Arab menjadi bahasa umum di Mesir setelah negeri itu dikuasai oleh pasukan-pasukan Arab yang menegakkan Agama Islam dan Bahasa Arab di sana.

Dalam upaya pekabaran Injil "sampai ke ujung Bumi", maka ALKITAB telah diterjemahkan ke beratus-ratus bahasa di Asia dan di Afrika. Seperti telah kita singgung tadi, maka dalam pertemuan antara Injil dengan bangsa-bangsa di Asia, maka ALKITAB diterjemahkan ke bahasa-bahasa yang telah memiliki aksara dan yang telah banyak dipengaruhi oleh sistem pemikiran Agama-agama Hindu, Budha dan Islam. Terjemahan- terjemahan ini dapat kita golongkan dalam kategori pertama. Selain daripada itu maka dalam rangka pelebaran Injil itu, Injil juga bertemu dengan peradaban-peradaban suku-suku yang terkait dengan agama suku. Banyak di antara suku-suku itu belum memiliki aksara, sehingga ALKITAB merupakan buku pertama yang ditulis dalam bahasa-bahasa yang bersangkutan. Terjemahan ini dapat kita golongkan dalam kategori kedua. Menerjemahkan ALKITAB dalam bahasa-bahasa yang termasuk dalam kategori yang pertama dan menerjemahkan ALKITAB dalam bahasa-bahasa yang termasuk kategori yang kedua, tentu menghadapkan Penerjemah dengan masalah-masalah yang mempunyai sifat-sifat tersendiri.

Dalam rangka gerakan Oikumenis yang telah berkembang sejak awal abad ke-20 untuk menampakkan kesatuan umat Tuhan di dunia umumnya dan demikian juga di masing-masing negara, sebagai kesaksian di hadapan dunia, sesuai dengan Firman yang berbunyi "supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku" (Yohanes 17:21), maka ALKTTAB telah menjadi salah satu faktor pemersatu yang utama di antara Gereja-gereja yang mempunyai tradisi- tradisi yang berbeda-beda, seperti Gereja-gereja Reformasi, Gereja- gereja Ortodoks dan Gereja-gereja Roma Katolik.

Umat Tuhan di semua tempat dan jaman tidak hanya dipersatukan oleh "satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua" (Efesus 4:5-6), tetapi juga oleh satu ALKITAB. Dengan latar belakang yang bersifat umum tadi, sekarang kita akan mengemukakan beberapa catatan mengenai "Perkembangan penerjemahan dan penggunaan ALKTTAB ditinjau dari segi perkembangan dan persatuan bangsa serta kesatuan umat Tuhan di Indonesia".

Pertemuan Injil Dengan Indonesia

"Perkembangan penerjemahan dan penggunaan ALKITAB ditinjau dari segi perkembangan dan persatuan bangsa serta kesatuan umat Tuhan di Indonesia", kita tempatkan dalam rangka pertemuan Injil dengan Indonesia. Dalam perjalanan Injil dari Yerusalem, Yudea dan Samaria sampai ke ujung bumi, maka pada satu pihak ada perjalanan Injil ke arah Barat. Pada pihak lain ada juga perjalanan Injil ke arah Timur. Awal dari perjalanan Injil ke arah Barat itu kita baca dalam Kitab. Para Rasul. Perjalanan Injil ke arah Timur tidak tercatat dalam ALKITAB. Perjalanan Injil ke arah Timur itu hanya kita ketahui dari sejarah saja. Catatan-catatan sejarah mengenai perjalanan Injil ke arah Timur ini pun sangat sedikit. Lagi pula hasil perjalanan Injil ke arah Timur kemudian hampir lenyap. Oleh sebab itu perjalanan Injil ke arah Timur ini hampir tidak diketahui dan hampir tidak dikenal di Indonesia.

Salah satu gereja yang terpenting sebagai hasil dari perjalanan lnjil ke arah Timur ini ialah Gereja Nestoriah. Gereja Nestoriah itu lama berpusat di Bagdad. Dari abad ke-6 sampai abad ke-13 Gereja Nestoriah telah menjalankan Pekabaran Injil yang sangat luas sampai ke India dan Cina. Para Penginjil dari Gereja Nestoriah itulah yang menerjemahkan ALKITAB untuk pertama kali dalam bahasa Cina. Dalam suatu buku dalam bahasa Arab yang ditulis oleh Shaykh Abu Salih al-Armini dikatakan bahwa di Fansur (Barus) di pantai Barat Tapanuli, terdapat banyak Gereja Nestoriah.

Ada petunjuk-petunjuk bahwa kaum Nestoriah telah hadir di Barus sejak tahun 645.

Dalam abad ke-14 dan ke-15 Gereja Nestoriah itu praktis lenyap, walaupun sampai sekarang masih ada sisa-sisanya di Iran dan Irak. Gereja Nestoriah di Barus telah lenyap tanpa meninggalkan bekas. Para Penginjil dari Gereja Nestoriah tidak pernah menerjemahkan ALKITAB ke bahasa Melayu, yang pada abad ke-7 telah luas tersebar di kawasan Asia Tenggara. Dengan demikian kita lihat bahwa Injil telah tiba di Indonesia untuk pertama kali dalam rangka perjalanan Injil dari Yerusalem ke arah Timur, lama sebelum Islam tiba di Indonesia. Tetapi kedatangan pertama dari Injil di Indonesia itu tidak meninggalkan bekas. Injil telah datang untuk kedua kali di Indonesia melalui jalan yang panjang, yaitu dari Yerusalem ke arah Barat, ke Eropa dan baru pada abad ke-16 Injil tiba di Indonesia dari Eropa bersamaan waktu dengan kedatangan orang-orang Portugis, yang kemudian disusul oleh kedatangan orang-orang Belanda pada abad ke-17.

Dalam hubungan itu baik kita baca Kisah Para Rasul 16:8-10. Di situ kita baca bahwa Rasul Paulus tidak mempunyai rencana untuk membawa Injil dari Asia ke Eropa, yaitu ke Makedonia. Membawa Injil dari Asia ke Eropa bukan strateginya Paulus, tetapi strateginya Roh Yesus sendiri (Kisah Para Rasul 16:8). Sejarah dunia dan sejarah Gereja akan lain sama sekali andaikata Injil tidak dibawa dari Asia ke Eropa artinya ke dunia Barat.

Waktu Injil tiba di Indonesia untuk pertama kali dalam abad ke-7 dan untuk kedua kali dalam abad ke-16, maka Indonesia telah mempunyai perkembangan yang menarik dari segi sejarah dan dari segi agama serta kebudayaan. Injil tidak tiba di Indonesia dalam keadaan yang "kosong" dari segi agama dan kebudayaan. Dapat kita catat adanya beberapa "lapisan" dalam sejarah keagamaan dan kebudayaan kita sehingga Indonesia dapat kita lihat sebagai suatu kue lapis yang memperlihatkan lapisan-lapisan keagamaan dan kebudayaan yang mempunyai coraknya masing-masing.

Lapisan pertama ialah lapisan kebudayaan dan keagamaan Indonesia asli, yang memperlihatkan persamaan-persamaan yang mendasar di samping perbedaan-perbedaan dari suatu daerah ke daerah yang lain. Studi-studi mengenai kebahasaan dan adat-istiadat yang dahulu banyak dijalankan oleh sarjana-sarjana Belanda, mencatat persamaan-persamaan yang pokok di samping adanya perbedaan-perbedaan dalam lapisan Indonesia asli ini di berbagai daerah dan kalangan berbagai suku. Di beberapa daerah lapisan asli ini masih tampak pada permukaan kehidupan kebudayaan dan adat-istiadat, seperti di Tanah Batak, di Tanah Toraja dan di Sumba. Lapisan-lapisan kedua dan ketiga yang akan kita bicarakan di bawah, tidak banyak mempengaruhi keadaan dan keagamaan di daerah-daerah itu.

Lapisan kedua ialah pengaruh kebudayaan dan keagamaan yang datang dari India. Selama lebih dari 1000 tahun pengaruh kebudayaan dan keagamaan yang berasal dari India ini sangat berakar di pulau Jawa dan Bali dan sebagian Pulau Sumatera. Lapisan ini menghasilkan Kerajaan Sriwijaya yang beragama Budha dan Kerajaan Majapahit yang beragama Hindu. Kedua Kerajaan itu pernah mempersatukan seluruh kepulauan Indonesia. Sampai sekarang pengaruh dari lapisan yang berasal dari India ini masih tetap sangat kuat di Pulau Jawa dan di Bali. Seperti telah kita catat tadi maka Injil telah tiba di Indonesia pada abad ke-7 dalam kurun tibanya lapisan kedua ini di Indonesia, tetapi pengaruh Injil itu hanya terbatas kepada Fansur (Barus) saja dan pengaruh itu kemudian telah lenyap tanpa meninggalkan bekas.

Lapisan ketiga dengan datangnya Islam. Di banyak daerah di Indonesia peta keagamaan dan kebudayaan mengalami perubahan yang mendasar sebagai akibat kedatangan Islam itu. Muncullah banyak Kerajaan- kerajaan Islam di berbagai daerah, tetapi tidak sempat ada Kerajaan Islam yang mempersatukan seluruh kepulauan Indonesia, seperti pemah terjadi oleh Kerajaan Budha Sriwijaya dan oleh Kerajaan Hindu Majapahit. Injil tidak hadir di Indonesia selama tibanya lapisan ketiga ini.

Masih ada pengaruh kebudayaan yang cukup luas yang berasal dari Cina. Tetapi pengaruh ini tidak pernah sempat menjadi suatu lapisan tersendiri dalam peta keagamaan dan kebudayaan di Indonesia. Hal ini berbeda dengan sejarah Vietnam, di mana pengaruh kebudayaan dan keagamaan yang berasal dari Cina merupakan lapisan yang utama.

Lapisan keempat tiba di Indonesia dengan datangnya pengaruh kebudayaan dan keagamaan yang berasal dari Eropa atau lebih tepat dari Eropa Barat atau Barat yang moderen. Mula-mula datang orang-orang Portugis dan kemudian datang orang-orang Belanda. Injil tiba di Indonesia untuk kedua kalinya bersamaan waktu dengan kedatangan lapisan keempat yang berasal dari Eropa atau Barat moderen ini.

Namun Injil tidak identik dengan Eropa. Injil mula-mula justru telah tiba di Eropa dari Asia, yaitu dari Yerusalem. Telah kita lihat bahwa Rasul Paulus dituntun oleh Roh Kudus untuk membawa Injil dari Asia ke Eropa. Agama Kristen bukan agama Eropa. Eropa justru telah mengalami perubahan yang mendasar sebagai akibat dari datangnya Kekristenan dari Asia ke Eropa. Perubahan yang sangat penting terjadi setelah Renaissance pada abad ke-14. Sebagai hasil dari proses perubahan sejak Renaissance itu maka muncullah di Eropa apa yang disebut peradaban moderen. Eropa beralih dari pra-moderen menjadi moderen. Dengan ini Eropa Barat mengembangkan peradaban moderen yang pertama di dunia kita ini.

Apakah yang disebut moderen itu? Pada dasarnya peradaban yang moderen itu memperlihatkan pola pikir, pola kerja dan pola hidup baru yang yang paling sedikit memperlihatkan dua ciri yang tidak terdapat pada peradaban-peradaban pra-moderen, yaltu ciri kerasionalan dan ciri kedinamikaan. Mengapakah kemoderenan itu telah muncul untuk pertama kali di Eropa Barat, sedangkan sebelum itu banyak peradaban di luar Eropa Barat termasuk peradaban Arab-Islam, yang lebih unggul dari peradaban Eropa Barat itu? Ada pandangan yang melihat adanya dua sumber utama bagi lahirnya kemoderenan itu di Eropa Barat. Pertama rasionalitas yang berasal dari filsafat Yunani dan kedua kedinamikaan yang berasal dari perkembangan dari suatu ALKITAB yang melihat adanya dinamika perubahan dalam sejarah awal menuju suatu tujuan atau penggenapan yang terletak di depan. Dengan demikian pemikiran moderen berorientasi ke masa depan, dan tidak ke masa lampau, seperti halnya dalam pemikiran pra-moderen yang tradisional.

Setelah Eropa Barat menjadi moderen, maka dia menjalankan ekspansi dan eksploitasi di seluruh dunia. Rahasia keunggulan Barat selama beberapa abad tidak terletak pada ke-Baratannya, tetapi pada kemoderenannya. Semua perlawanan dari bangsa-bangsa non-Barat terhadap ekspansi dan eksploitasi oleh Eropa moderen itu, yang dijalankan secara pra- moderen, menemui kekalahan. Di Amerika dan Australia maka penduduk asli praktis dimusnahkan oleh ekspansi dan eksploitasi oleh Barat moderen itu. Kedua benua itu praktis menjadi perluasan dari dunia Barat. Cina tidak ditaklukkan tetapi mengalami revolusi yang berkepanjangan, yang tampaknya masih terus berlangsung sampai sekarang ini. Jepang berhasil untuk mengambil alih kemoderenan dan mengalahkan suatu bangsa Barat dalam perang Rusia 1904-1905. Ini membuktikan bahwa apabila suatu bangsa non-Barat berhasil untuk menguasai kemoderenan, maka dia tidak akan terus mengalami kekalahan dari suatu bangsa Barat. India, Indonesia, Vietnam dan bangsa-bangsa lain dijadikan jajahan dalam rangka ekspansi dan eksploitasi oleh Barat moderen itu, yang mula-mula dipelopori oleh Spanyol dan Portugal, yang diperintah oleh Raja-raja yang beragama Roma Katolik. Raja-raja itu memerintahkan armada-armada mereka yang berlayar ke Amerika dan ke Asia untuk menaklukkan daerah-daerah dan bangsa-bangsa yang mereka temui guna memperoleh keuntungan dan sekaligus guna menyebarkan Agama Kristen Katolik. Kemudian yang menjadi pelopor-pelopor dalam ekspansi dan eksploitasi oleh Barat moderen itu ialah orang-orang Inggris dan Belanda, yang merupakan bangsa-bangsa Kristen Protestan. Mereka ini memusatkan perhatiannya terutama kepada keuntungan. Mereka hanya mempunyai perhatian yang sangat terbatas pada penyebaran Agama Kristen Protestan melalui penaklukan seperti dijalankan oleh Spanyol dan Portugal. Apa yang dialami oleh bangsa-bangsa non-Barat dan non- moderen yang lain, kita alami juga di Indonesia. Dalam semua perlawanan yang kita jalankan secara pra-moderen terhadap ekspansi dan eksploitasi oleh Barat moderen yang datang tanpa diundang itu kita mengalami kekalahan. Orang-orang Portugis yang mula-mula datang menyebarkan agama Kristen Katolik di beberapa daerah, yaitu di Maluku, Flores dan di beberapa daerah, yaitu di Maluku, Flores dan Timor. Belanda yang tiba kemudian mengusir orang-orang Portugis dan lambat laun mereka menegakkan kekuasaannya. Di Maluku sebagian besar orang- orang Kristen Katolik menjadi Kristen Protestan setelah Belanda berkuasa di sana tetapi pada umumnya Belanda yang Protestan itu mempunyai perhatian yang terbatas pada penyebaran Agama Kristen melalui penaklukan dibandingkan dengan orang-orang Portugis. Penyebaran Agama Kristen yang kemudian terjadi di berbagai daerah adalah terutama hasil pekerjaan dari perkumpulan-perkumpulan Pekabaran Injil, yang tidak ada kaitannya dengan Pemerintah Belanda. Sebagian dari perkumpulan-perkumpulan Pekabaran Injil itu tidak berpangkalan di Negeri Belanda, tetapi di Jerman dan Swiss. Di Beberapa daerah, yang sebelumnya tidak atau hampir tidak disentuh oleh apa yang kita sebut tadi lapisan kedua dan ketiga, yaitu lapisan yang berasal dari India dan lapisan Islam, maka Agama Kristen menjadi agama rakyat. Kita rebut sebagai contoh Tapanuli Utara, Simalungun, Karo, Nias, Toraja, Minahasa, Sangir, sebagian dari Sulawesi Tengah, Kalimantan Tengah, Sumba, Timor, Flores, Maluku dan Irian Jaya.

Di banyak daerah lain lahir Gereja-gereja yang jumlah anggotanya relatif kecil dibanding dengan penduduk daerah itu, seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara. Ada juga Gereja-gereja yang mula-mula beranggotakan keturunan Cina. Di beberapa daerah Gereja hampir tidak sempat berakar. Dengan demikian telah diletakkan landasan bagi peta keagamaan dan kebudayaan di Indonesia, yang pada dasarnya masih tetap bertahan sampai sekarang ini.

Dalam hubungan itulah kita harus tempatkan peristiwa yang terjadi 360 tahun yang lalu, yaitu penerbitan kitab pertama dari ALKITAB dalam bahasa Indonesia (Melayu). Hal itu penting sebab bahasa Melayu mempunyai posisi yang penting di seluruh kepulauan Indonesia bahkan juga di beberapa daerah di luar Indonesia, sebagai bahasa pergaulan dengan bangsa-bangsa asing. Posisi bahasa Melayu itu dapat dibandingkan dengan posisi bahasa Yunani di kawasan sekitar Laut Tengah sebelum dan sesudah lahirnya Gereja purba. Penerbitan Kitab pertama dari ALKITAB dalam bahasa Melayu yang terjadi 360 tahun yang lalu telah disusul oleh upaya penerjemahan dan penerbitan yang lebih lanjut, sehingga akhirnya tersedia ALKITAB yang lengkap dalam bahasa Melayu. Yang paling terkenal ialah terjemahan Leydecker, yang mempunyai pengaruh yang sangat luas, antara lain di bagian Timur Indonesia.

Setelah pemerintahan selingan Inggris pada awal abad ke-19 berakhir maka kembalinya kekuasaan Belanda telah disambut dengan pemberontakan- pemberontakan di tiga daerah yaitu pemberontakan Paderi di Sumatera Barat, yang bercorak Islam Wahabi, pemberontakan Pangeran Diponegoro di pulau Jawa yang bercorak Islam Jawa dan pemberontakan Pattimura di Maluku yang bercorak Kristen Ambon. Konon waktu Pattimura terpaksa harus meninggalkan Kota Saparua maka dia telah meninggalkan ALKITAB di mimbar Gereja Saparua yang terbuka pada Mazmur 17, dengan kalimat- kalimat awalnya yang berbunyi

"Dengarlah, Tuhan, perkara yang benar, perhatikanlah seruanku; berilah telinga akan doaku, dari bibir yang tidak menipu.

Dari padaMulah kiranya datang penghakiman; mataMu kiranya melihat apa yang benar".

Melalui Mazmur 17 itu Pattimura rupanya ingin menyampaikan pesan kepada komandan pasukan Belanda yang memasuki kota Saparua, bahwa sekalipun Belanda menang, namun kebenaran adalah di pihak Pattimura dan teman-teman seperjuangannya. ALKITAB yang ditinggalkan oleh Pattimura terbuka pada Mazmur 17 di mimbar Gereja Saparua agaknya ialah terjemahan ALKITAB oleh Leydecker.

Dalam rangka Pekabaran Injil di berbagai daerah yang dijalankan secara intensif sejak abad ke-19 dan yang seperti kita lihat tadi banyak dijalankan oleh perkumpulan-perkumpulan Pekabaran injil yang tidak terkait dengan Pemerintah Kolonial Belanda, maka dengan sendirinya telah lahir terjemahan-terjemahan ALKITAB dalam berbagai bahasa daerah. Untuk itu bahasa-bahasa daerah itu telah dipelajari sebaik- baiknya secara ilmiah. Dalam hubungan itu maka salah satu tokoh yang paling menarik ialah Herman Neubronner van der Tuuk (1824-1894). Atas penugasan oleh Lembaga ALKITAB Belanda van der Tuuk telah memelopori upaya untuk mempelajari bahasa Batak dan kemudian bahasa Bali secara ilmiah.

Pada peresmian Perpustakaan Nasional pada tanggal 11 Maret 1989 di Jakarta, Presiden Soeharto berkata bahwa di Perpustakaan nasional itu terdapat naskah terjemahan ALKITAB dalam bahasa dan aksara Batak. Naskah itu agaknya adalah terjemahan oleh van der Tuuk, yang di Tanah Batak terkenal dengan nama Pandortuk. Di Bali dia terkenal dengan nama Tuan Dertik.

Indonesia Memasuki Era Moderen

Sejarah moderen Indonesia dapat dianggap mulai dengan Kebangkitan Nasional pada tahun 1908. Sebelum itu bangsa kita selalu mengalami kekalahan dari Belanda oleh karena kita menjalankan perang-perang lokal secara pra-moderen, sedangkan Belanda menjalankan peperangan secara moderen serta strategi yang mencakup seluruh Hindia Belanda. Peperangan-peperangan lokal dan pra-moderen yang terakhir ialah Perang Aceh, Perang Batak dan Perang Bali. Waktu Perang Aceh, Perang Batak dan Perang Bali itu berakhir pada awal abad ke-20, maka di Jakarta (Batavia) telah ada pemuda-pemuda terpelajar yang mendirikan Budi Utomo pada tahun 1908. Sejak Kebangkitan Nasional 1908 itu kita melanjutkan perlawanan terhadap Belanda yang sebelumnya kita jalankan secara lokal dan pra-moderen dengan cara-cara yang secara berangsur- angsur makin bersifat nasional dan makin bersifat moderen.

Gerakan-gerakan pemuda yang mula-mula bersifat sedaerah-sedaerah dan di mana pemuda-pemuda Kristen dari daerah-daerah yang bersangkutan aktif mengambil bagian, menjadi gerakan Pemuda Nasional dengan Sumpah Pemuda pada tahun 1928. Dengan Sumpah Pemuda itu maka bahasa Indonesia memperoleh kedudukan sebagai bahasa persatuan dan bahasa Nasional.

Dalam iklim yang dijiwai oleh cita-cfta kemerdekaan Nasional itu maka telah lahir Gereja-gereja yang mandiri di berbagai daerah. Banyak di antara Gereja-gereja itu menggunakan ALKTTAB dalam bahasa daerah masing-masing. Tetapi berdasarkan keyakinan bahwa bahasa Indonesia akan mempunyai tempat yang menentukan dalam perkembangan persatuan bangsa dan kesatuan Umat Tuhan di masa depan, maka diadakan juga terjemahan dalam bahasa Indonesia di bawah pimpinan Bode. Dengan didirikannya Hoogere Theologische School (HTS) pada tahun 1934 yang sekarang menjadi Sekolah Tinggi Teologia (STI) Jakarta, maka dimulailah pendidikan calon-calon pendeta yang berwawasan persatuan bangsa dan kesatuah Gereja untuk semua Gereja. Para lulusan dari HTS itu kemudian telah menjadi pelopor-pelopor bagi gerakan menuju kesatuan Gereja.

Dengan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 maka bangsa kita memasuki era yang baru, yaitu era bangsa dan negara yang merdeka. Dalam hubungan ini perlu dicatat bahwa dasar Negara yang diterima secara bulat pada tahun 1945, yaitu Pancasila, terbukti merupakan dasar yang sangat tepat yang telah mampu menjamin persatuan dan kesatuan bangsa yang terus makin kokoh serta kerukunan antar umat beragama. Kita lihat bahwa banyak negara baru yang lain telah mengalami pergolakan serta konflik-konflik antar agama yang berkepanjangan.

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 terdapat pertentangan yang tajam antara dua konsep kenegaraan, yaitu konsep negara agama dan konsep negara nasional. Dengan Pancasila maka kita telah menghindarkan perpecahan dan sejak itu persatuan bangsa kita terwujud waktu Proklamasi. Dalam sejarah India pertentangan antara konsep negara agama dan konsep negara nasional telah menghasilkan dua dan kemudian tiga negara.

Perang kemerdekaan (1945-1949) melawan Belanda di mana kita menjalankan strategi nasional yang moderen yang terdiri dari kombinasi di antara strategi militer yang moderen dan strategi diplomasi yang moderen telah menghasilkan kemenangan bagi kita dalam arti bahwa Belanda mengakui kedaulatan kita. Dalam perjuangan yang kita jalankan secara nasional dan moderen antara 1945 dan 1949 kita dapat mengalahkan Belanda, sedangkan dalam peperangan-peperangan sebelum Kebangkitan Nasional 1908, yang kita jalankan secara lokal dan pra- moderen, kita selalu mengalami kekalahan dari Belanda.

Perang Kemerdekaan itu telah meningkatkan kesadaran mengenal kesatuan dan persatuan nasional di semua golongan dan lapisan bangsa kita, termasuk di kalangan umat Kristen. Orang-orang Kristen mengambil bagian dalam Perang Kemerdekaan itu secara bahu-membahu dengan saudara-saudaranya yang menganut Agama-agama lain, seperti menjadi nyata apabila kita mengunjungi Taman-taman Pahlawan di seluruh tanah air kita. Setelah Perang Kemerdekaan berakhir dengan pengakuan kedaulatan kita menjelang akhir tahun 1949, maka pada tahun 1950 pemimpin-pemimpin dari Gereja-gereja di Indonesia telah mendirikan Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) dengan tujuan mendirikan Gereja Kristen yang Esa di Indonesia. Dengan perkataan lain maka para pemimpin Gereja-gereja itu hendak mewujudkan kesatuan umat Tuhan di Indonesia dalam rangka persatuan bangsa. Tetapi kesatuan umat Tuhan itu tentu lebih luas dari persatuan bangsa. Kesatuan umat Tuhan mencakup umat Tuhan di semua tempat dan sepanjang jaman. Kesatuan umat Tuhan yang merupakan inti dari gerakan Oikumenis bersumber kepada Injil. Tuhan Yesus berdoa "Supaya mereka menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku" (Yohanes 17:21). Dengan demikian jelas bahwa yang Oikumenis tidak dapat dipertentangkan dengan yang Injili. Yang Oikumenis adalah di dalam yang Injili dan yang Injili adalah di dalam yang Oikumenis. Baik yang Injili maupun yang Oikumenis sama-sama bersumber pada ALKITAB. Mereka dipersatukan oleh ALKITAB yang satu.

Setelah pengakuan kedaulatan kita pada tahun 1950 maka lahirlah pula lembaga ALKTTAB Indonesia (LAI) pada tahun 1954. Dalam rangka persatuan bangsa dan kesatuan umat Tuhan maka lahirlah terjemahan dalam bahasa Indonesia moderen, di mana terdapat kerja sama yang erat antara LAI dengan semua Gereja-gereja di Indonesia, termasuk Gereja Roma Katolik. Dalam rangka persatuan bangsa dan kesatuan umat Tuhan itu pula maka terjemahan dalam banyak bahasa daerah dibaharui dan terjemahan-terjemahan dalam bahasa-bahasa yang belum mengenal terjemahan ALKTTAB terus diadakan. Dalam hubungan persatuan bangsa dan kesatuan umat Tuhan itu pula dirasakan kebutuhan akan terjemahan- terjemahan dalam bahasa-bahasa sehari-hari, agar ALKITAB itu dapat lebih mudah dibaca dan dipahami di tengah-tengah kehidupan sehari- hari.

Waktu bangsa kita hidup dalam iklim revolusi selama Demokrasi Terpimpin dengan kecenderungannya untuk menuntut penyesuaian secara total dengan ketentuan-ketentuan revolusi, maka dalam Gereja-gereja kita banyak dipelajari Roma 12:2 yang berbunyi "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna". Itulah yang melahirkan rumus yang terkenal bahwa dalam terang Injil Kerajaan Allah kita mengambil bagian dalam revolusi secara positif, kreatif, kritis dan realistis. Waktu kita memasuki era-pembangunan, maka rumus tersebut dilanjutkan dengan mengatakan bahwa dalam terang Injil Kerajaan Allah kita mengambil bagian dalam pembangunan secara positif, kreatif, kritis dan realistis.

Dalam hubungan penerjemahan dengan penggunaan ALKITAB dalam rangka persatuan bangsa dan kesatuan umat Tuhan dapat dicatat pengalaman kita dalam rangka perjuangan untuk mengintegrasikan Irian Jaya ke dalam persatuan bangsa dan usaha untuk mengintegrasikan Gereja Kristen Injili di Irian Jaya ke dalam persatuan umat Tuhan di Indonesia. Pada waktu itu Belanda bekerja keras untuk memisahkan Irian Jaya dari bagian-bagian yang lain dari Indonesia antara lain dengan mengusahakan agar Gereja Kristen Injili di Irian Jaya dan rakyat di Irian Jaya umumnya, tidak lagi menggunakan bahasa Indonesia. Usaha Belanda itu telah gagal oleh karena Gereja dan rakyat di Irian Jaya tidak bersedia untuk melepaskan bahasa Indonesia dan ALKITAB dalam bahasa Indonesia. ALKITAB dalam bahasa Indonesia yang dibaca luas di Irian Jaya merupakan salah satu sebab yang utama bagi kegagalan upaya Belanda untuk memisahkan rakyat Irian Jaya dan untuk memisahkan Gereja Kristen Injili di Irian Jaya dari persatuan bangsa dan dari kesatuan umat Tuhan di Indonesia.

Kita telah mencapai kemajuan yang besar dalam proses untuk terus menerus memperkuat persatuan bangsa antara lain dengan memantapkan Pancasila sebagai satu-satunya alas dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara pada tahun 1985. Kita telah mencapai kemajuan dalam proses yang terus menerus untuk membaharui, menumbuhkan, membangun dan mempersatukan umat Tuhan antara lain dengan peningkatan Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) menjadi Persekutuan Gereja- gereja di Indonesia (PGI) pada tahun 1984. Dalam rangka persatuan bangsa dan kesatuan umat Tuhan itu, maka penerjemahan dan penggunaan ALKITAB akan terus kita tingkatkan di masa depan.

Melihat Ke Muka

Dalam memperingati penerbitan bagian ALKITAB dalam bahasa Indonesia (Melayu) 360 tahun yang lalu, maka pada satu pihak kita melihat ke belakang dengan mengucap syukur atas pekerjaan yang telah dijalankan oleh begitu banyak hamba Tuhan yang setia di masa lampau dalam menerjemahkan, menerbitkan dan mendistribusikan ALKTTAB, dengan tujuan agar semua orang di Indonesia dapat membaca ALKITAB dalam bahasanya sendiri, dengan harga yang terjangkau oleh orang banyak.

Pada pihak lain kita melihat ke muka untuk melihat tanda-tanda jaman yang dapat membantu kita menjalankan persiapan-persiapan agar kita dapat menghadapi perkembangan di masa depan sebaik-baiknya, baik dalam kehidupan masyarakat, bangsa dan negara kita maupun dalam kehidupan Gereja-gereja kita dan demikian juga dalam kehidupan Lembaga ALKITAB di Indonesia (LAI). Masyarakat, bangsa dan negara kita sedang bersiap- siap untuk menjalankan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila menuju tinggal landas menjelang akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 agar kita dapat "naik kelas" dari negara berkembang menjadi negara maju yang membangun masyarakat Pancasila yang maju, adil, makmur dan lestari, yang akan dapat memberikan sumbangan yang sebesar- besarnya dalam upaya umat manusia untuk membangun masyarakat dunia dengan berpedoman kepada keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan.

Ilmu dan teknologi yang harus makin maju dan makin canggih akan menjadikan dunia dan juga Indonesia makin kecil dan makin bersatu. Ancaman-ancaman yang baru yang dapat membawa kepada kehancuran akan dihadapi, di samping peluang-peluang yang baru untuk membangun masyarakat dunia dan juga masyarakat Indonesia yang makin adil, makin damai dan makin mampu untuk menjamin keutuhan ciptaan.

Apakah akan ada perbedaan dalam masa depan dunia dan dalam masa Indonesia tanpa atau dengan kehadiran serta partisipasi Gereja? Perbedaan itu tentu ada sebab Gereja telah ditempatkan oleh Tuhannya di dunia ini, termasuk di Indonesia yang menjalankan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila menuju tinggal landas, sebagai "garam", "terang" dan berkat bagi semua orang. Untuk itu Gereja harus menjalankan tugasnya yang tidak berubah di semua tempat dan sepanjang jaman, seperti telah dirumuskan bersama-sama oleh Gereja- gereja di Indonesia dalam Sidang Raya DGI 1984, sebagai berikut :

  1. Memberitakan Injil kepada semua makhluk (Markus 16:15).
  2. Menampakkan keesaan mereka seperti keesaan tubuh Kristus dengan rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh (1Korintus 12:4).
  3. Menjalankan pelayanan dalam kasih dan usaha menegakkan keadilan (Markus 10:45, Lukas 4:18, 10:25-37; Yohanes 15:16).

Dalam menjalankan tugas panggilannya tadi di tengah-tengah perkembangan di dunia umumnya dan juga di tengah-tengah perkembangan Indonesia, maka Gereja-gereja di seluruh dunia termasuk di Indonesia berbicara mengenai Kisah Para Rasul Kontemporer. Dalam Kitab Para Rasul kita baca bahwa setelah bertemu dengan Kristus yang bangkit dan memperoleh kuasa dari Roh Kudus menjadi saksi di Yerusalem, di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi, maka Gereja purba telah keluar dari keterbatasannya semula sebagai Gereja dari dan untuk orang-orang Yahudi, untuk menjadi Gereja bagi semua orang dalam Kerajaan Romawi dengan tidak mengadakan diskriminasi antara Yahudi, Yunani dan seterusnya.

Dalam menjalankan Kisah Para Rasul kontemporer di dunia umumnya dan khususnya di Indonesia di tengah-tengah pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila menuju tinggal landas menjelang akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, maka Gereja-gereja di Indonesia berdoa agar mereka bertemu dengan Kristus yang bangkit dan memperoleh kuasa dari Roh Kudus menjadi aksi sampai ke ujung Indonesia bahkan sampai ke ujung bumi. Untuk itu Gereja harus keluar dari berbagai bentuk keterbatasannya, sehingga Gereja-gereja di Indonesia itu bersama-sama menjadi Gereja bagi semua orang di Indonesia di tengah-tengah pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila menuju tinggal landas. Dalam hubungan itulah penerjemahan, penerbitan dan distribusi ALKITAB akan terus ditingkatkan, agar ALKTTAB yang dapat dibaca oleh semua orang dalam bahasanya sendiri dengan harga yang terjangkau oleh orang banyak, menjadi pelita yang menerangi jalan bagi semua orang dalam hubungan peningkatan persatuan bangsa dan kesatuan umat Tuhan, di tengah-tengah pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila menuju tinggal landas menjelang akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21.

Kita dalam LAI termasuk mitra-mitra kita berdoa agar kita bertemu dengan Kristus yang bangkit dan memperoleh kuasa dari Roh Kudus menjadi saksi, sehingga LAI bersama-sama dengan mitra-mitranya akan dimampukan oleh Tuhan sendiri untuk meningkatkan upaya menerjemahkan, menerbitkan dan mendistribusikan ALKITAB yang dapat dibaca oleh semua orang dalam bahasanya sendiri dengan harga yang terjangkau oleh orang banyak, di tengah-tengah peningkatan persatuan bangsa serta kesatuan umat Tuhan di Indonesia dalam rangka pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila menuju tinggal landas menjelang akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21.

Sumber diambil dan diedit dari :

Judul Buku : Menuju Tahun 2000: Tantangan Gereja Di Indonesia
Judul Artikel : Gereja Dan Alkitab Sejarah Perkembangan Penerjemahan
dan Penggunaan Alkitab Ditinjau Dari Segi Perkembangan
dan Persatuan Bangsa Serta Kesatuan Umat Tuhan Di Indonesia
Penulis : Herlianto
Penerbit : Pusat Literatur Euangelion, Yayasan Penerbitan Kristen Injili
Halaman : 117 - 135
Kategori: