Dengan Berapa Banyak yang Dilepasnya

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PESTA

Nas: Lukas 7:24-28

Di dalam Alkitab, ada banyak orang yang telah memberikan begitu banyak demi Allah. Salah satu dari mereka adalah Yohanes Pembaptis. Tidak heran jika Yesus, Tuhan kita, sangat menghargai orang ini. Dalam bagian Alkitab, kita dapat melihat bahwa Tuhan Yesus bahkan mengambil waktu untuk mengatakan kepada para pengikut-Nya tentang Yohanes Pembaptis. Ia memuji Yohanes, "... di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorang pun yang lebih besar dari Yohanes."

Suatu kali Yohanes mengutus dua orang muridnya untuk menemui Tuhan Yesus dan bertanya kepada-Nya. Mereka langsung pergi ke Yesus untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan Yohanes. Ia tidak pergi ke sumber-sumber lainnya untuk menemukan jawaban pergumulan imannya. Kita juga harus pergi kepada Yesus dalam pergumulan rohani kita. Kita seharusnya tidak pergi ke sumber-sumber lain karena hanya Ia yang memberikan jawaban yang kita perlukan. Bahkan, kita tidak seharusnya mencari jawaban kepada diri kita sendiri. Pergilah kepada Yesus dan temukan jawaban yang kita cari.

Setelah murid-murid Yohanes Pembaptis pergi, Tuhan Yesus bertanya, tetapi kepada para pengikut-Nya, "Untuk apakah kamu pergi ke padang gurun?" Yesus, Sang Guru Agung, menggunakan pertanyaan ini untuk membangkitkan keingintahuan sehingga para pendengar-Nya memperhatikan apa yang hendak Ia katakan kemudian. Selanjutnya, Ia memberikan jawaban dalam bentuk pertanyaan retoris, "Melihat buluh (terj. Inggris "reed/alang-alang") yang digoyangkan angin kian kemari?" Sebuah alang-alang ialah rumput kecil yang tinggi, dan tentu saja bukanlah objek pandangan mata. Kita tidak pergi ke padang gurun untuk melihat alang-alang yang digoyangkan angin.

Yesus tidak menunggu jawaban mereka, tetapi justru menyampaikan pertanyaan retoris kedua sebagai jawabannya, "Melihat orang yang berpakaian indah?" Sekali lagi jawaban yang jelas adalah tidak, karena Yesus berkata, "Orang yang berpakaian indah ... tempatnya di istana raja." Setelah mendapatkan perhatian mereka, Tuhan Yesus lalu menyampaikan maksud-Nya, orang-orang pergi ke padang gurun untuk melihat Yohanes Pembaptis, yang mereka anggap sebagai seorang nabi. Ya, pada waktu itu banyak orang pergi ke padang gurun Yudea untuk mendengar Yohanes Pembaptis berkhotbah.

Sekarang, kita mendengar apa yang Tuhan Yesus katakan tentang Yohanes. Pertama, Ia memberi tahu mereka akan kedatangan dan pelayanan Yohanes menggenapi nubuat yang disampaikan oleh nabi Maleakhi lebih dari 400 tahun yang lalu. Kitab Maleakhi 3:1 berkata, "Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku." Sebelum Ia datang, Ia akan mengirim seorang utusan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya. Perlu diperhatikan bahwa Allah tidak akan mengirim utusan-utusan -- dalam bentuk jamak. Ia berkata, "utusan-Ku" -- dalam bentuk tunggal, satu orang! Juga dalam Maleakhi 4:5, Tuhan Allah menentukan utusan seperti apa yang akan Ia kirim untuk mempersiapkan jalan-Nya, "Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu." Nubuat ini telah digenapi dalam diri Yohanes Pembaptis. Ketika malaikat memberitahukan kelahiran Yohanes kepada ayahnya, imam Zakaria, malaikat itu berkata, "dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia ...." (Lukas 1:17) Tuhan Yesus sendiri menyatakan bahwa Yohanes Pembaptis adalah seseorang yang dinubuatkan oleh Maleakhi, "Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes dan jika kamu mau menerimanya ialah Elia yang akan datang itu" (Matius 11:13-14). Dengan mengatakan demikian, Yesus tidak hanya menegaskan apa yang malaikat katakan kepada orang tua Yohanes -- bahwa ialah penggenapan nubuat yang disampaikan oleh Maleakhi -- tetapi juga bahwa Ia, Yesus sendiri, adalah Allah yang akan datang ke dunia. Yohanes adalah suara utusan itu, yang memproklamirkan kepada dunia bahwa Mesias, Juru Selamat dunia, akan datang. Yesus Anak Allah datang supaya kita mendapatkan pengampunan dosa.

Setelah menegaskan bahwa Yohanes adalah Elia yang dinubuatkan, Tuhan Yesus melanjutkan, "di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorang pun yang lebih besar dari Yohanes." Mungkin inilah pujian tertinggi yang pernah diberikan oleh Tuhan Yesus kepada manusia. Marilah kita berhenti sejenak dan merenungkan hal ini. Apa yang membuat Yohanes begitu menonjol di mata Tuhan Yesus?

Jawabannya adalah: Yohanes memberikan begitu banyak! Bahkan, kita dapat mengatakan bahwa Yohanes telah memberikan seluruh hidupnya untuk Kristus. Pengkhususan Allah membuat kehidupan Yohanes berbeda dan sulit! Mari kita berhenti dan berpikir. Apakah Yohanes dapat memilih untuk menolak panggilan Allah? Tentu saja dapat. Yohanes dapat saja berkata, "Tidak, saya tidak mau dikhususkan seperti ini. Saya hanya mau melayani sebagai imam di Yerusalem seperti ayah saya." Melayani Allah sebagai imam di Yerusalem tentu saja bukan dosa. Bahkan, itu adalah hal yang baik. Namun, hal itu bukanlah hal yang benar karena itu bukanlah kehendak Allah! Sesuatu dianggap benar bukan karena itu baik, tetapi karena itu adalah kehendak Allah. Beberapa orang kartel obat bius melakukan hal yang baik untuk komunitas mereka, tetapi kita tidak menyebut tindakan mereka benar karena mereka terlihat dalam tindakan-tindakan kriminal. Oleh sebab itu, kita tidak bisa menggantikan melakukan kehendak Allah dengan melakukan hal yang baik.

Kehendak Allah bagi Yohanes adalah pergi untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Ia diminta memproklamirkan kepada dunia bahwa Mesias, Juru Selamat dunia, akan datang. Baginya, untuk melakukan hal itu, ia harus dipisahkan dari kehidupan normal. Yohanes dapat saja menolaknya, tetapi ia telah memutuskan untuk taat pada panggilan Allah. Ia memilih untuk tinggal di dalam kehendak Allah, meskipun ia harus membayar mahal. Ia harus menyerahkan semua hidupnya. Ia tidak mengenal kenikmatan hidup. Masih ada lagi. Seperti yang kita ketahui, Yohanes tidak punya umur panjang. Menurut catatan Lukas, kita tahu bahwa Yohanes hanya beberapa bulan lebih tua dari Tuhan Yesus. Yesus mulai pelayanannya pada umur tiga puluh dan mati pada usia kira-kira tiga puluh tiga. Yohanes mati sebelum Yesus. Itu berarti, Yohanes meninggal sekitar umur tiga puluh tiga atau bahkan lebih muda. Yohanes melakukan apa yang harus dilakukannya: mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Ketiga tugas itu selesai, ia mati dipenggal oleh raja Herodes. Tidak lama setelah itu, Tuhan Yesus menyelesaikan tugas yang membuat-Nya datang ke dunia: membawa keselamatan bagi manusia. Seperti Yohanes, Ia juga mati, dengan cara disalib.

Mari kita berhenti sejenak untuk memahami beberapa hal. Pertama, kita harus berkata, "Ya," kepada Allah. Tetapi untuk dapat berkata, "Ya," kita harus melepas kebebasan kita berkata, "Tidak." Yohanes dikhususkan dari lahir untuk pekerjaan Tuhan. Kapan pun pada saat itu Yohanes dapat menolak kehidupan yang "abnormal" yang harus ia jalani. Sebagai seorang normal, ia pasti tergoda untuk lari dan menjalani kehidupan yang "normal," namun ia memilih untuk taat. Allah memanggil kita, tetapi Ia memberikan kepada kita kebebasan untuk memilih. Bahkan, Ia tidak menutup pintu-pintu sehingga kita hanya punya satu pilihan. Ia justru membiarkan dan menginginkan kita melihat pintu-pintu lainnya sehingga kita dapat memilih untuk menaati-Nya. Kadang-kadang, kita salah. Kita berpikir karena ada pintu-pintu yang lain, pasti OK saja untuk memilih pintu-pintu itu. Tidak! Ia membiarkan kita melihat pintu-pintu yang lain karena Allah mengingini kasih dan ketaatan dari kita.

Pelajaran kedua adalah bahwa kita dapat melakukan hal yang baik bagi Tuhan, tetapi hal itu mungkin bukan kehendak Allah. Jikalau Yohanes menolak untuk hidup di padang gurun dan memilih hidup sebagai seorang imam, ia tetap melakukan hal yang baik bagi Tuhan. Tetapi, itu bukanlah hal yang benar. Sering kali kita menyamakan melakukan hal baik dengan melakukan kehendak Allah, padahal itu tidak benar sama sekali. Apa yang Allah kehendaki lebih dari melakukan hal baik, tetapi melakukan kehendak-Nya. Hanya dengan melakukan kehendak-Nya, rencana-Nya akan terwujud.

Saudara-saudara, kita perlu memberikan tangan kita dan membukanya terlebih dahulu sebelum Allah dapat memegangnya dan menuntun kita pada kehendak-Nya.

Diambil dan disunting dari:

Nama buletin : Stauros, 2014
Pengkhotbah : Pdt. Paul Gunadi, Ph.D.
Penerjemah : Pancha W. Yahya, M.Th.
Penerbit : SAAT, Malang 2014
Halaman : 1 -- 2
Kategori: